Stigma Corona : Dimanakah Posisi Kita? Oleh : Helky Brando Veerman, Pendeta GPM

by
Helky Brando Veerman, Pendeta GPM. FOTO : DOK. PRIBADI

BEBERAPA hari ini masyarakat Ambon dan sekitar diramaikan dengan pemberitaan satu keluarga (3 orang) dari saparua yang diduga positf sesuai rapid test (tes cepat) dan sudah dievakuasi ke Ambon. Salah satu akibatnya adalah seperti pemberitaan dan distigmakan seperti yang diberitakan media seperti ini.

Memang corona virus yang mewabah secara global saat ini buat semua orang waspada. Semua menjaga jarak dan menghindar keluarga keluarga dengan status ODP atau PDP sedapat mungkin dihindari apalagi sampai dinyatakn positif. Itu tak salah, semua orang akan shock jika berhadapan dengan kondisi yang demikian.

Tapi dalam kondisi ini. kita tak harus sampai menjadi parno juga kale. Peran media juga, kalau distigmakan “dikucilkan” maka akan nampak demikian komunitas tertentu juga seperti terkucil.

Saya menelepon beberapa saudara di Haria apakah demikian kondisi saat ini. “Ia… orang orang dari Ambon sedapat mungkin menghindari Pelabuhan Haria, Ojek Haria, Angkot Haria, Pedagang/papalele orang Haria juga yang dari Saparua. Haria seolah dihindari dan dijauhkan orang.

Semua orang boleh punya sikap juga mungkin tak salah. Beta hanya bisa berdoa supaya saudara-suadara kita di Haria juga kuat dan badai ini berlalu. Sikap masyarakat ini ditunjukan ditengah pemaknaan terhadap Sengsara Kristus. Bahkan dua hari jelang Perayaan Jumat Agung.
Memang Corona lagi mewabah tapi apakah virus kasih menjadi redup. Disinilah rasa kemanusiaan kita diuji (saya tak mau gunakan rasa religiusitas, cukup kemanusiaan saja). Masih adakah ataukah hanya laku sebagai “jualan” di komunitas komunitas beragama pada saat keadaan sedang adem saja?

Loading...

Dalam keadaan aman, dengan merujuk kitab suci, kita kadang tampil gagah dengan “menghakimi dan mengecam” kebiasaan orang Yahudi” yang katanya suka mengucilkan orang kusta (hanya Yesuslah yang mengambil posisi berbeda). Bagaimana dengan kita hari ini? Bagaimana kalau wabah ini merata di semua wilayah. Apakah semua orang harus dikucilkan. Apakah kita juga nanti akan ikut-ikutan juga menolak jenasah korona seperti yang marak blakangan ini bila itu terjadi di wilayah kita? Bagaimana kalau itu sodara kita, keluarga kita?

Walau tetap harus jaga jarak, berhati hati, dirumah saja dll, tapi jangan parno juga kale. Masa virus corona kalah sama virus kasih yang mesti juga diwabahkan. Ingat kalau semua org berpotensi terpapar, menjadi OTG, ODP maupun PDP bahkan jadi pasien.

Sodaraku di Haria, kita mengalami ini ditengah Pemaknaan terhadap sengsara Kristus yang mati di salib supaya kita memperoleh Hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan.
Kalau kita dijauhkan dikucilkan bukan salah kita yang disengaja ingatlah kalau DIA juga pernah menjalaninya. “Ia dihina dan dihindari/ dikucilkan oleh orang orang ( Yesaya 53: 3a).
Tapi kalau “pengucilan” itu masih terus berlangsung. Saya jadi maklum saja kalau semua yg autentik itu akan nampak jelas di masa sulit, bukan di masa adem.

Salam Sehat. (HBV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *