Stop Pasung, Orang Dengan Gangguang Jiwa Perlu Diobati

Stop Pasung, Orang Dengan Gangguang Jiwa Perlu Diobati

SHARE
Direktur RSKD Pemrov Maluku Nania dr David Santoso Tjoei SpKJ MARS berkomunikasi dengan seorang pasien kambuh, Selasa (9/10/2018). FOTO : PRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Masalah kesahatan jiwa memang masih minor dibicarakan. Masyarakat justru lebih terbuka dengan penyakit organik seperti jantung, kanker, atau paru-paru ketimbang masalah jiwa. Padahal hal itu sama pentingnya. Hal tersbut yang membikin orang jadi serba tertutup dan defensif soal kesehatan jiwa. Masyarakat sulit terbuka membahas dan mencari solusi atas gangguan kesehatan jiwanya.

Tak jarang kita kerap mendapati ada orang yang dipasung. Keluarga enggan membawanya berobat ke dokter dan cenderung mengandlkan orang pintar. Saat kondisi sudah semakin parah mereka lebih memilih mengurung atau memasungnya. Itu dilakukan dengan alasan malu lantaran sakit jiwa dianggap sebagai aib. Meski pemerintah melalui Kementerian Kesehatan berupaya menggalakan Indonesia bebas pasung, namun toh masih ada saja kasus pasung.

Seorang petugas tengah memberi air minum bagi pasien ganguan jiwa di ruang akut Rumah Sakit Khusus Daerah Nania Ambon

Di Maluku, tercatat masih ada dua daerah yang memberlakukan pasung bagi anggota keluarga mereka yang sakit. “Kami sedang upayakan untuk bebas pasung. Tapi memang di Maluku masih ada begitu,” ungkap Direktur Rumah Sakit Khusus Daerah Pemerintah Provinsi Maluku, Nania Ambon, dr David Santoso Tjoei SpKJ MARS kepada Terasmaluku.com, Selasa (9/10/2018).

Berdasar data rumah sakit, kejadian pasung tercatat ada di Pulau Buru dan Kota Ambon. Terdapat 7 orang pasien ganguan jiwa di Desa Wamsisi Kecamatan Buru Selatan Timur. Sementara di dalam Kota Ambon ada 1 orang di Arbes Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Ambon.

Hingga kini pihaknya terus melakukan pendekatan dengan pihak keluarga. Menurut dia masyarakat perlu diberi pemahaman yang ututh. Pasien gangguan jiwa dapat dibantu. Mereka biasanya akan mendapat perawatan lengkap dan pemberian obat-obatan. Bila diminum teratur, pasien bisa pulih.

Seperti beberapa pasien yang sempat didatangi Terasmaluku.com di rumah sakit jiwa ini Selasa siang itu. Ada pasien akut dan juga pasien rehabilitasi yang bakal menuntaskan masa rawat inap di rumah sakit. “Yang baru masuk atau yang kambuh lagi dibawa ke ruang akut. Biasanya karena obat habis atau tidak lanjut minum. Pokoknya kalau rutin dan teratur pasti sembuh,” jelasnya saat berkomunikasi dengan salah seorang pasien di ruang akut.

Di situ mereka dirawat hingga kondisi cukup stabil. Pemberian obat pun tetap diberikan. Ruangannya terpisah dan diberi pengaman jeruji besi. Rita Nendisa Kepala Ruang Akut, menjelaskan beberapa pasien akut merupakan pasien lama yang kambuh. “Mereka baru masuk lagi. Karena obat habis atau tidak rutin. Ini pasien lama semua. Mereka distabilkan dulu di sini,” papar dia.

Seperti seorang pasien perempuan asal Suli dan seorang pria asal Tulehu. Saat ditemui keduanya sedang makan dan tidur-tiduran. Kondisi fisik mereka pun cukup terawat dan bersih. Tak tercium bau apek, pesing serta bau khas orang skizofrenia. Hanya saja, lanjut Rita, sewaktu-waktu bisa kambuh. Terkadang ada yang berteriak atau mencoba kabur dengan membobol loteng.

Meski begitu banyak pula yang berhasil pulih. Para pasien itu tak lagi kambuh serta bisa berkomunikasi dengan tenang. Beberapa juga aktif membuat kriya di ruang rehabilitasi. Menurutnya, metode pengobatan yang diberikan rumah sakit cukup berbeda.

Selain obat, pasien juga dibebaskan keluar ruangan serta melakukan kontak dengan orang lain. “Itu untuk membiasakan mereka bila keluar nanti. Tapi tentu yang kondisinya sudah stabil dan tidak kambuh,” bebernya. Cara itu tak lain memberi dampak baik serta memanusiakan manusia dalam perawatan orang gangguan jiwa. (PRISKA BIRAHY)

loading...