SUANGGI – SAKAU – CORONA, Oleh Wirol Haurissa, Ssi.Teol. M.S

by
Wirol Haurissa, Ssi.Teol. M.S

Dalam situasi gemparnya roh halus yang dinamakan suanggi dan sejenisnya. Membuat saya harus menulis, mempostingkan tulisan ini. Semoga tidak ada sebaris pun yang terlewat.

Saya mulai dari sebuah pertanyaan; apakah setelah kerusahan, pemerintah dan kalangan-kalangan terkait lalai atau tidak secara penuh bertanggung jawab terhadap rehabilitas korban konflik 99. Mungkin pertanyan ini berlaku untuk orang-orang di luar pemantuan yang mengalami dampak trauma konflik yang dianggap sudah lewat.

Bukan hanya konflik. Beberapa orang dari kita bisa dengan rapi menyembunyikan trauma berlebihan dari beberapa periode kejadian. Gempa bumi sampai akhirnya kehadrian covid-19 yang dalam waktu singkat merubah tatanan ruang gerak dan perilaku setiap orang.

Di saat bersamaan anjuran jaga jarak serta pembatasan keluar masuk penumpang pun barang berdampak pada pasokan obat-obatan terlarang. Mereka yamg telah menjadikannya sebagai jalan ketanangan dan kondisi aman membuat kabur. Batas-batas yang ditetapkan, aturan, ketakutan pemasok, jaringan yang secara sembunyi-sembunyi berubah “cari jalan”. Beberapa dari mereka yang punya masalah ingin berlebihan dan tidak dapat dipenuhi mulai bermain dangan imajinasi/perasaan sendiri yang berlebihan.

Dua hal di atas bagi saya berpaut erat. Kita tahu bersama konsumsi minuman beralkohol di kalangan anak muda Ambon  cukup massif. Gejolak batin dan kerapuhan pertolongan dengan adanya kecemasan terhadap covid-19 membuat terombang-ambing. Apalagi ditambah masalah kebutuhan ekonomi, uang kuliah, kebutuhan pakai, makan dan situasi kumpul-kumpul dalam sebuah kesenangan telah bergeser dari kebiasaan awal. Begitu juga suasana berpikir ikut berubah, keyakinan terganggu dan berubah, kehidupan pergaulan di lingkungan bergeser dan berubah, semuanya.

Di sisi lain, manipulasi logika terbalik seperti masalah covid-19 yang menglobal dibuat mencekam, sehingga muncul kecemasan dan mencekam. Lalu muncul kegilaan saat semua orang berusaha mengimbangi aturan logis yang dibuat pemerintah. Semua berjalan sesuai aturan, semacam manipulasi otak.

Pada dasarnya orang bisa sakit flu pada pergantian pancoroba. Lalu muncul serangkai gejala lain seperti deman dan batuk yang merupakan proses alamiah tubuh membentuk antibody melawan virus yang masuk. Yang sayangnya sederet simptoma ini mirip dengan kehadiran virus corona dalam tubuh.

Soal hasil reaktif, non-reaktif pada alat tes cepat bukanlah kepastian tentang virus corona itu sendiri. Si jahat itu masih perlu dibuktikan pada tahap selanjutnya di laboratorium. Hal inilah yang terasa kian menakutkan dalam benak masyarakat. Mereka yang terpapar informasi terkait hasil yang belum pasti, malah melahirkan ketakutkan baru.

Sama dengan isu setan, suanggi di Ambon, awalnya dianggap biasa saja. Tetapi melalui kesepakatan keyakinan sendiri dengan sejumlah tayangan video yang beredar itu menjadi keyakinan bersama yang menakutkan dan mengancam. Mirip ketika orang mati, orang dikatakan gila, diserang suanggi dan corona.

Saya kemudian menemukan pandangan lain, saat membaca jenis gangguan kejiwaan yang menjelaskan tentang kesurupan, Possession trance disorder (PTD). PTD termasuk dalam kategori diagnostik baru “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV). DSM sendiri merupakan standar klasifikasi gangguan mental yang dipergunakan oleh para profesional kesehatan mental.

Dalam DSM-IV, possession trance disorder termasuk dalam kategori dissociative disorder alias gangguan disosiatif artinya hilangnya sebagian atau seluruh integrasi antara kenangan masa lalu, kesadaran identitas, dan sensasi serta kontrol dari gerakan tubuh. WHO dalam ICD 10 versi 2008, tentang possession trance disorder adalah gangguan ketika terjadi kehilangan sementara identitas pribadi dan kesadaran penuh dari lingkungan.

Hal lain yaitu Dissociative Trance Disorder (DTD) yaitu gangguan tunggal ataupun berkepanjangan yang berhubungan dengan kesadaran, identitas, serta ingatan yang berkaitan dengan lokasi serta budaya tertentu. DTD dianggap berhubungan dengan penyakit lain seperti Dissociative Identity Disorder, schizophrenia, mania, hysteria, epilepsi, sindrom Tourette, dan beberapa gangguan terhadap kejiwaan lainnya. Meski berhubungan, perlu dupahami bahwa DTD punya spesifikasi berbeda dari yang lainnya, yaitu kaitannya dengan kehadiran makhluk lain yang tidak terlihat.

Menarik bahwa budaya saat masih mengawetkan hal-hal yang sulit dinalar otak kita dengan teratur terkait masalah kesehatan jiwa akibat roh-roh halus. Begitupun terhadap kesehatan fisik dan mental. Dan hal ini juga terjadi di negara-negara yang belum terlambat pengetahuannya selain di negara berkembang. Kesadaran yang dibangun dari cerita, tanpa mampu membedakan fakta dan fiktif hampir sulit untuk menerima hal itu sehingga muncul yang namanya gangguan pemikiran yang disebabkan kepemilikan roh halus.

Loading...

Di beberapa daerah meyakini roh halus tersebut dalam budaya lokal mereka sehingga turut merubah pola pikir serta pengalaman psikopatalogi yang secara tidak langsung memaksa individu untuk percaya. Sebagai sontoh, orang percaya akan kehadiran mahkluk astral ini yang diwakili dnegan suara-suara hewan.

Saya kemudian membaca lagi dan menemukan hubungan dengan kutipan Neuner, Pfeiffer, Schauer-Kaiser, Odenwald et al. (2012) yang menyelidiki prevalensi cen, varian lokal dari kepemilikan roh pada remaja berusia antara 12 dan 25 tahun di daerah yang terkena dampak perang di Uganda Utara.

Menurutnya mereka membandingkan anak muda yang telah diculik dan dipaksa berperang sebagai tentara anak-anak dan memberi sebutan Tentara Perlawanan Tuhan – sebuah kelompok yang telah melakukan kampanye panjang dan brutal untuk menggulingkan pemerintah Uganda – dengan anak-anak muda yang tidak pernah diculik.

Dipercaya bahwa dalam bentuk Cen adalah bentuk kepemilikan roh di mana “hantu orang yang sudah meninggal mengunjungi individu yang terkena dampak dan menggantikan identitasnya,” dan Neuner et al. melaporkan bahwa kepemilikan roh secara signifikan lebih tinggi pada mantan prajurit anak yang diculik daripada yang bukan orang yang diculik. Mereka juga menemukan bahwa laporan kepemilikan roh berhubungan dengan paparan trauma (seperti kekerasan seksual dan dipaksa untuk membunuh), tekanan psikologis, dan tingkat bunuh diri yang lebih tinggi dan gangguan stres pasca-trauma.

Neuner et al. menyimpulkan bahwa di banyak bidang di dunia di mana kepercayaan tentang kepemilikan roh dipegang secara luas, kepercayaan semacam itu merupakan konsekuensi standar trauma psikologis dan mungkin merupakan cara untuk menjelaskan gejala disosiatif yang sering menyertai pengalaman traumatis yang intens. Keyakinan tentang kepemilikan roh ini kemudian dapat digunakan oleh berbagai agen lokal untuk memanipulasi perilaku individu – bahkan sampai memaksa mereka menjadi tindakan brutal yang ekstrem.

Penjelasan masalah kesehatan mental dalam hal “kepemilikan” telah mengambil banyak bentuk selama sejarah dan itu adalah bentuk penjelasan yang berarti bahwa banyak orang yang menderita masalah psikologis yang melemahkan dan menyedihkan telah dianiaya dan dilecehkan secara fisik daripada menawarkan dukungan dan perawatan yang mereka butuhkan.

Banyak peradaban kuno, seperti yang ada di Mesir, Cina, Babel dan Yunani percaya bahwa mereka yang menunjukkan gejala psikopatologi dirasuki oleh roh jahat (ini dikenal sebagai demonologi), dan satu-satunya cara untuk mengusir roh jahat ini adalah dengan upacara ritual rumit. Ritual ini lebih sering terjadi serangan fisik langsung terhadap tubuh penderita sebagai upaya untuk mengusir setan (misalnya melalui penyiksaan berupa cambuk). Tidak mengherankan, tindakan seperti itu biasanya memiliki efek meningkatkan kesusahan dan penderitaan korban.

Di masyarakat Barat, demonologi bertahan sebagai penjelasan tentang masalah kesehatan mental hingga abad ke-18, ketika ilmu sihir dan kerasukan setan adalah penjelasan umum untuk psikopatologi. Namun demikian, seperti yang telah saya jelaskan di atas, kerasukan setan atau roh masih menjadi penjelasan umum untuk masalah kesehatan mental di beberapa daerah yang kurang berkembang di dunia – terutama di mana sihir dan voodoo masih merupakan fitur penting dari budaya lokal seperti Haiti dan beberapa daerah Afrika Barat.

Adopsi terus menerus dari kerasukan setan sebagai penjelasan tentang masalah kesehatan mental (terutama dalam kaitannya dengan gejala psikotik) sering dikaitkan dengan kepercayaan agama setempat (Ng, 2007; Hanwella, de Silva, Yoosuf, Karunaratne & de Silva, 2012), dan mungkin sering disertai dengan pengusiran setan sebagai upaya pengobatan – bahkan pada individu dengan riwayat gejala psikotik yang didiagnosis.

Selanjutnya kejadian-kajadian yang bekembang, cerita di Ambon terkait dengan bunuh diri karena roh halus dan tanpa diotopsi menjadi trending topik. Cerita anak-anak muda belajar ilmu jahat dan sebagainya menjadi sebuah kesaksian yang dikonsumsi massif bersama. Belum lagi ada “tamba bumbu, kurang bumbu, mulut ke mulut dan apa saja yang bisa menghasilkan ketakutan, trauma dan sejenisnya.

Yakinlah, tanpa kita sadari, kitalah yang tengah dirasuki roh halus. Roh itu yang mengusai kita untuk membunuh. Bukan dengan sebuah tindakan kriminal melainkan dengan menakut-nakuti orang lain dan diri sendiri.

Padahal yang seharusnya kita lakukan adalah menyemangati diri sendiri, saling memberikan keberanian untuk hidup, membantu sembuhkan traumatik, mental, fisik dari masalulu yang kelam, ketakutan berlebihan, kegelisaan, gangguan perasaan, sakau, stres dll. Kita dapat mengalahkanya dan dapat tersembuhkan. (*)

 

Wirol Haurissa, Ssi.Teol. M.S

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *