Suara Hati Warga Haruku-Sameth Oleh : Rudy Rahabeat, pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat bersama Mama Baba Tahya di lokasi pengungsian Haruku Sameth, Senin (21/10/2019). FOTO : ISTIMEWA

SEJAK dari pelabuhan Tulehu menuju Negeri Haruku, pengemudi speedboad sudah memberi catatan. “Rumah yang rusak akibat gempa di Haruku-Sameth lebih dari dua ratus buah”. Jumlah yang tidak sedikit tentunya. Setiba di pelabuhan Haruku, gereja Ebenhaizer yang baru diresmikan tahun lalu berdiri megah. Sayangnya belum bisa digunakan. “Konstruksi di dalamnya beresiko. Sehingga pihak PU melarang digunakan” ungkap tuagama Ampy Kisya. Rumah di sebelah keluarga Bapak John Mustamu, tempat kami mengingap, roboh. Begitu juga pagar rumah pak John roboh. Tapi ada rumah yang masih berdiri kokoh. “Itu rumah yang orang kampung bilang rumah bakancing” ungkap pak John, yang juga kepala Sekolah SMP Negeri 3 Haruku.

Menurut pak John ketika gempa pertama 26 September 2019 semua warga panik dan takut. Rumah bergoyang keras, demikian pula benda-benda di kas dan meja jatuh, termasuk televisi yang baru dibeli dua minggu lalu. Banyak yang terjadi dan terluka pada bagian lutut. Tanah-tanah terbelah hingga ke lokasi hutan dan gunung. Semua ini membuat warga makin takut dan memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, di antaranya, di lokasi SMP 3 Haruku.

Saat saya menuju lokasi tersebut, Senin pagi (21/10/2019), jalannya rusak parah. Rumah-rumah pengungsi berjejer. Ada yang terbuat dari terpal dan ada yang beratap daun sagu. Saya menemui mama Baba Tahija yang sedang memasak nasi. “Kami ingin pulang menetap di rumah negeri. Natal sudah dekat” ungkap ibu empat anak itu. Untuk sementara anak-anaknya belum sekolah. Ia juga berharap pemerintah dapat memerhatikan para korban, khususnya rumah-rumah yang rusak akibat gempa. Ia tak bisa menutup rasa traumanya dan trauma warga masyarakat Haruku. “Bukan kami takut, tapi kami waspada. Gempa kemarin membuat kami trauma” ungkapnya dengan nada rendah.

Loading...

Sebelumnya, dalam perjalanan ke lokasi pengungsian, tukang ojek yang bernama Femmy Souissa bercerita bahwa warga masyarakat ada yang masih takut kembali ke rumah. Gempa sewaktu-waktu bisa terjadi dan olehnya orang-orang masih bertahan di pengungsian. Dua hari sebelumnya saya bercakap-cakap dengan Ibu Lina Mustamu yang juga seorang pengasuh (guru sekolah minggu). Menurutnya, perlu ada trauma healing dalam waktu yang cukup lama. Minimal tiga hingga enam bulan. Bukan saja kepada anak-anak tetapi juga kepada orang tua. Lina menceritakan bahwa ia pernah mendapat pelatihan trauma healing dari sebuah LSM yang datang ke Haruku saat terjadi bencana sosial tahun 1999. Saat itu mereka mendampingi para korban selama enam bulan dalam program trauma healing.

Pada saat memberi sambutan Pembukaan sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Sinode GPM, di Haruku Minggu, 20 Oktober 2019, Wakil Gubernur Maluku, Barnabas Orno menyatakan rasa empati dengan para korban bencana di Maluku, termasuk di Haruku-Sameth. Ia berjanji untuk memerhatikan kondisi masyarakat korban bencana, termasuk memerhatikan jalan raya lintas pulau Haruku. “Daokan tahun depan kami akan realisasikan” ungkap mantan Bupati MBD ini.

Gereja Protestan Maluku (GPM) sendiri telah melakukan upaya-upaya tanggap bencana. Selain mendistribusikan logistik juga pendampingan pastoral kepada para korban. “Kami membentuk sebuah komisi khusus dalam sidang MPL ini untuk membicarakan hal-hal mendasar dan operasional terkait bencana dan tanggap bencana” ungkap Sekum Sinode GPM, Pdt Elifas Maspaitella. Hal ini ditegaskan pula oleh Pdt AJS Werinussa selaku Ketua Sinode GPM saat memberi Pidato Pembukaan Sidang ke-41 MPL Sinode GPM.

Ketika mesin speedboad aktif dan perlahan meninggakan negeri Haruku-Sameth, masih nampak gedung gereja itu, juga patung Mr Johanes Latuharhary dan Monumen Kalpataru. Ketiga menumen itu hendak mengirikan pesan sejarah. Bahkan di negeri ini apa Injil terus menyala, pernah lahir seorang nasionalis sejati yang juga gubernur Maluku yang pertama. Juga laku menjaga kelestarian lingkungan telah jadi budaya. Dan Om Ely Kissya adalah seorang kewang yang jadi legenda. Tuhan pulihkan warga masyarakat Haruku-Sameth dan warga Maluku, bahkan Indonesia dan dunia ini. Pendeta Jacky Manuputty yang lahir dan besar di Haruku pada khotbah pembukaan sidang antara lain berharap masyarakat Haruku jadi orang-orang yang tangguh (penyintas) dan masyarakat punya energi untuk pulih dan bangkit lagi. Kuleehiii ! (RR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *