Suara Kaum Perempuan di Sidang Sinode GPM, Soroti Juga Soal Materi Khutbah

by
aktifis perempuan Lusi Peilouw. FOTO : ISTIMEWA

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Sidang Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) ke XXXVIII yang berlangsung sejak 7 Februari 2021 menuai sejumlah sorotan dari aktifis perempuan. Aktifis perempuan menuntut adanya keterwakilan perempuan di Majelis Harian.

Salah satu aktifis perempuan Lusi Peilouw kepada Ambonkita.com grup Terasmaluku.com, Senin (15/2/2021) di Teras Coffee kawasan Soabali Kota Ambon, mengajak perempuan di lingkungan gereja untuk berani mencalonkan diri masuk dalam majelis ini.

Dia mempertanyakan kondisi saat ini yang belum benar-benar memastikan keterwakilan perempuan dalam kepengurusan Sinode. ‘’Belum setara, sampai saat ini perempuan masih menjadi warga kelas dua dan bukan pihak yang bisa mengambil keputusan,’’ jelas Lusi.

BACA JUGA : Pdt Rudy Rahabeat Sedia Diutus Sebagai

BACA JUGA : Kepemimpinan Gereja Ke Depan : Belajar Dari Mutiara Aru

Apakah perempuan dan laki-laki sudah bisa membangun relasi yang setara, tanya Lusi, apalagi banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga, bahkan kasus inces yang pelakunya adalah warga gereja.

Apa upaya pencegahan yang sudah dilakukan warga gereja terhadap kasus demikian. ‘’Dalam khutbah di gereja-gereja juga tidak menyebutkan soal pencegahan kekerasan dalam rumah tangga,’’ cetusnya.

Sebagai warga gereja biasa, Lusi melihat, organisasi gereja belum cukup kuat membangun system yang kuat untuk melindungi perempuan dan anak. ‘’Karena mengapa ya karena tidak ada figur yang memiliki perspektif yang baik di dalam, ‘’jelasnya.

Ketika ditanya apakah solusinya harus ada Ketua Sinode perempuan agar isu kesetaraan gender bisa lebih diperhatikan, Lusi menyebutkan ia optimis sebab hanya perempuan yang peka terhadap isu perempuan.

‘’Bahkan pernah ada yang membuat kebijakan pro pelaku kekerasan terhadap perempuan, sehingga membuat keputusan yang merugikan perempuan, ‘’ kata Lusi.