Surga Kayu Putih di Daratan Namlea, Pulau Buru

by
Dora Buton, penyuling minyak kayu putih di depan Lapangan Terbangang Kota Namlea, Buru. FOTO : BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-NAMLEA-SEJAUH mata memandang hamparan pohon kayu putih di atas tanah kosong. Di bukit bukit, sisi kiri kanan jalan yang hijau, tampak kontras dengan langit biru cerah. Panorama indah di Pulau Buru ini menyimpan kekayaan luar biasa. Minyak kayu putih, salah satu keunggulan dan hasil paling produktif dari tanah Buru.

Di Kota Namlea, Ibukota Kabupaten Buru, di sisi kanan kiri sepanjang jalan tak ada pohon lain yang mendominasi. Hanya pohon bernama latin Melaleuca leucadendra ini yang menghiasi hampir seantero Buru. Bila ada di Kota Namlea, berkendara ke arah RSUD Lala, di situ mata kita akan disuguhkan pemandangan. Di badan bukit kita akan menjumpai tenda tenda kecil beratap rumbia dan dinding papan.

Ketel ketel setinggi satu meter di atas tungku beruap, seolah menyambut kedatangan siapa saja yang mampir. Di dapur sederhana itulah minyak kayu putih terbaik asal Buru dimasak. “Ini ada masa kayu putih. Katong suling akang,” ujar Dora Buton, penyuling kayu putih saat ditemui Terasmaluku.com, Rabu 19 April 2018 di lokasi penyulingan depan Lapangan Terbang Namlea.

Daun Kayu Putih

Dora bersama Marno Buton rekannya tiap hari bergantian memasak kayu putih. Tempat penyulingan mereka persis di sisi jalan. Tak sulit menemukannya. Begitu menginjak kaki di area penyulingan aroma kental tajam dan hangat bakal masuk menembus paru paru.

Proses memasak kayu putih cukup panjang. Tiap pagi para penyuling memetik daun kayu putih yang tumbuh subur dan luas. Dora dan Marno warga Desa Karang Jaya, Kecamatan Namlea Kota Namlea ini mendapatkan bahan baku dari pohon kayu putih yang tumbuh di lahan seberang jalan.

Pengunjung ataupun wisatawan dapat langsung belajar tentang penyulingan atau ikut berwisata alam memetik daun bersama para penyuling di sana. Sebelum daun daun itu masuk di dalam ketel, terlebih dulu dijajar pada bedeng kayu. “Jumur daun dulu sampe kering baru masak,” imbuhnya.

Daun dijemur di bawah terik matahari selama sekitar seminggu. Melalui sistem destilasi tradisional, daun daun kering ini dimasak dengan cara diuapkan dalam ketel kayu. Satu ketel besar setinggi satu meter lebih menampung enam karung daun kayu putih ukuran 50 kilogram.

Daun kayu putih

Proses memasak menelan waktu enam jam. Dalam sehari mereka memasak hingga dua kali. Tiap enam karung daun kering menghasilkan tiga hingga empat botol kayu putih asli. Sabarlah menunggu bila mampir ke dapur penyulingan. Tunggu sampai tiap tetes keluar lalu disaring untuk memisahkan air dari hasil ekstraksi kayu putih. Hirup aromanya dalam dalam. Bagi yang belum terbiasa, aroma kuat yang tajam dari minyak terasa sangat hangat di dada, hingga mata.

Tak butuh waktu lama, minyak minyak yang baru disaring langsung ludes. “Biasa orang su datang beli langsung. Jadi katong seng jual ke pasar lai,” celetuk Marno. Namun kadang ada juga pembeli dari Kota Ambon yang memborong dalam jumlah banyak. Minyak yang dihargai Rp 150.000 perbotol minuman itu biasanya akan dikemas dalam botol kecil lalu dijual kembali.

Minyak gosok yang asli dari Buru punya banyak manfaat. Potensi kearifan lokal orang Maluku ini kerap dijadikan minyak gosok untuk menghangatkan tubuh. Atau saat flu, tuang beberapa tetes minyak kayu putih ke dalam baskom berisi air panas. Lalu dekatkan wajah ke baskom sambil ditutup dengan handuk.

Aroma minyak katu putih yang bercampur air hangat itu dijamin akan melegakan saluran pernapasan. Cara itu disebut cukup dan dilakukan turun temurun sejak dulu oleh warga di Maluku. Pastikan sempatkan berkunjung ke dapur dapur sederhana penghasil minyak kayu putih terbaik di Maluku bila berkunjung ke Namlea, Pulau Buru. (BIR)