Tabwery Muda, Catatan Dari Tanimbar Oleh : Maryo Lawalata, Pendeta GPM

by
Pdt Maryo Lawalata (tengah). FOTO : DOK. PRIBADI

TANAH Likat di Kabupaten Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku terus menyajikan jejak-jejak Injil yang terus terungkap dalam culture yang kuat dan terus terpelihara secara turun temurun. Tabwery Muda atau Polisi Desa adalah salah satunya. Yang secara sah dan dikeluarkan pada 28 Desember 2019 di Likat.

Biasanya dalam rentan waktu 4 sampai 5 tahun, sekelompok anak-anak muda dalam usia dewasa dikeluarkan atau disahkan oleh pemerintah desa secara adat sebagai tabwery muda dan melakukan tugas-tugas khusus layaknya “polisi desa”. Dan sesuai kebiasaan jika informasi tentang dikeluarkannya kelompok anak-anak ini sebagai Tabwery Muda, maka nyaris seluruh anak-anak seusia mereka yang berada di berbagai pelosok pulang kampung dan menjadi bagian dalam acara dimaksud.

Menjaga keamanan, ketertiban dan kenyamanan warga masyarakat adalah tugas utama mereka. Kewenangan-kewenangan khusus hingga memutuskan perkara-perkarapun dapat mereka lakukan, tentu dalam ketentuan-ketentuan adat yang telah menjadi semacam hukum yang memandu segala tugas-tugas mereka.

Saat mereka dikeluarkan secara adat oleh Pemerintah, pada saat yang bersamaan eksistensi mereka secara adatis dalam negeri semakin kuat dan sah. Ada semacam hak imunitas yang dapat mereka lakukan untuk memastikan keseluruhan masyarakat hidup bae-bae.

Secara umum legitimasi adat inipun sekaligus mengkukuhkan mereka dalam kelompok umur 4 sampai 5 tahun ini sebagai satu kesatuan atau tubuh yang membentuk Negeri Likat. Keberadaan kesatuan atau tubuh ini sangat berkontribusi bagi pribadi, keluarga, jemaat maupun persaudaraan dalam negeri.

Sejak disahkan dan dikeluarkan diakhir tahun 2019 itu, tugas-tugas “Pemolisian Masyarakat” terasa memberi dampak yang luar biasa. Secara nyata, saya nyaris tidak melihat ada kenakalan remaja, kekerasaan dalam rumah tangga, kekerasan antar sesama, caci maki di muka umum, balap liar, perilaku tidak sopan kepada orang lain, bolos sekolah, tidak belajar malam, memutar musik sampai larut malam tanpa peduli pada kenyamanan tetangga, dan berbagai bentuk perkataan, sikap dan perilaku yang tidak menyenangkan lainnya dilakukan oleh warga masyarakat.

Saya merasa banyak tugas-tugas gerejawi sangat terbantu dengan keberadaan “polisi desa”. Bahkan saya telah membangun kerja sama lanjutan untuk memperkuat “gerakan lingat cerdas” dengan salah satu kegiatan jam belajar malam. Sungguh saya terus bersyukur menjadi bagian dalam jejak-jejak injil yang terus terkuak dalam nilai-nilai culture yang terua menjadi jati diri negeri Likat yang terpelihara hingga kini, di saat negeri-negeri lain sudah melupakannya.

Bangga sebagai anak Likat dan terus mengalirkan darah ini untuk membangun negeri di tengah banyak “badai” yang terus menghantam. Tetap smile dan memastikan bahwa Tete Manis jaga kami di sini. Sebab kami saudara dalam keluarga yang besar. Salam dari Likat – Rumah Bersama. Maryo lawalata