Tahun Depan Festival Hatta-Sjahrir Tampilkan Seni Budaya Banda-Minangkabau

by
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Marcus J. Pattinama

TERASMALUKU.COM, AMBON – Pesona Pulau Banda yang terletak di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku tak perlu dipertanyakan lagi. Tiap tahunnya, wisatawan baik domestik maupun wisatawan mancanegara berbondong-bondong sambangi pulau penghasil rempah serta memiliki kekayaan panorama alam bawah laut itu.

Untuk lebih memperkaya dan mengembangkan pariwisata di Pulau Banda, Dinas Pariwisata (Dispar) Pemerintah Provinsi Maluku melakukan terobosan baru.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Marcus J. Pattinama mengungkapkan tahun depan, pihaknya menyelenggarakan Festival Hatta-Sjahrir di Pulau Banda. Kegiatan ini menyongsong HUT Proklamasi 17 Agustus 2020 yang ke 76.

Ini salah satu cara dari Pemerintah Provinsi Maluku dalam mengembangkan pariwisata di Pulau Banda. “Tahun depan itu kita akan selenggarakan Festival Hatta-Sjahrir,”ungkapnya kepada Terasmaluku.com via selular Jumat (28/8/2020).

Menariknya, festival yang dinamai dengan nama dua tokoh bapak pendiri bangsa ini akan mengeksplorasi sepak terjang perjalanan Hatta-Sjahrir di Pulau Banda.

Hatta-Sjahrir merupakan dua diantara sejumlah tokoh penting pendiri bangsa Indonesia yang diasingkan di Pulau Banda oleh Kolonial Belanda pada masa penjajahan dulu.

Loading...

Apalagi, di Pulau Banda, ada salah satu masjid yang berdiri tepat depan Pelabuhan Banda di Desa Nusantara dinamai dengan nama kedua tokoh penting bangsa ini. Sehingga kata Pattinama, dibalik penamaan Masjid Hatta-Sjahrir ini sudah pasti ada sejarah dibaliknya dan penting untuk eksplorasi.

“Pintu masuk pengembangan pariwisata di Maluku ini Banda. Kalau kita mau mengembangkan itu pintu masuknya Masjid Hatta-Sjahrir. Karena ada sejarah dibaliknya,”jelasnya.

Selain itu, kata Pattinama gelaran Festival Hatta-Sjahrir ini juga akan memadukan seni budaya Banda dan Minangkabau. Apalagi kedua tokoh bangsa ini memang berasal dari Minang.

“Kemudian ada perpaduan seni atraksi antara budaya Banda dan Minang. Perpaduan budaya Minang dan Banda itu menarik. Jadi bagaimana orang datang ke Banda dengar kisah-kisah Hatta dan kisah-kisah Sjahrir,”sambungnya.

Dari festival ini lanjut Pattinama, maka akan terbangun persaudaraan antara masyarakat Banda dan Minangkabau sehingga terbentuk Turis Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism).

“Saya berencana mau membuat persekutuan masyarakat bersaudara antara Banda dan Minangkabau. Kan Hatta-Sjahrir itu dicintai orang-orang Banda, sehingga orang-orang Minangkabau datang ke Banda memperingati Hatta dan Sjahrir. Sehingga pintu masuk ke Banda itu adalah Festival Hatta-Sjahrir. Kita bangun community based tourism turis berbasis masyarakat. Bagi saya, Banda itu penting,”tandasnya. (Ruzady Adjis) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *