Tak Ada Pos Kesehatan Sampai Protes Penghuni yang Pilih Cabut Dari Karantina

by
Penghuni karantina LPMP yang pulang lantaran protes selama berada di karantina, (1/4). FOTO: tangkapan layar video amatir

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Heboh beredar tayangan video amatir yang memperlihatkan puluhan orang mengamuk di tempat karantina Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Ambon, Rabu (1/4/2020). Bahkan tak lama setelah mengamuk sebagain dari mereka memilih keluar dari tempat karantina.

Seperti pada salah satu kanal youtub Bachtiar Heluth yang mengunggah video amatir. Di video itu memperlihatkan sejumlah penghuni karantina yang protes dan berang saat berbicara dengan petugas di LPMP.

Tempat karantina 14 orang asal bekasi di sisi utara BPSDM Maluku, (31/3). FOTO: Priska Birahy

Dari video itu terlihat mereka yang menyesalkan kebijakan karantina yang dinilai asal. Seperti tidak tersedia makanan sejak malam, lalu ketiadaan tenaga medis untuk memastikan kondisi kesehatan. Padahal dari pengakuan salah satu penghuni di video, pemerintah menjanjikan ada tenaga medis, namun nyatanya tidak demikian di lapangan.

“Bukan cuma makanan, janji apa, mana klinik mana tidak ada medisnya tidak ada. Siapa yang bohong siapa yang bohong yang di pusat yang bohong ini di kenyataan lapangan,” sebut salah seorang pria berbaju kaos abu-abu seperti yang terekam di video dengan nada tinggi.

Dia bersama beberapa penghuni lain menolak berada di karantina dengan ketidakjelasan seperti yang mereka keluhkan. Hal ini jelas menjadi sebuah masalah baru dari kebijakan yang diterapkan pemerintah terkait karantina. Dan kondisi tersebut tampak tak jauh berbeda dengan yang ditemui di karantina BPSDM yang terletak tak jauh dengan lokasi tersebut.

Saat waratwan mengunjungi lokasi pada Selasa siang (31/3/2020) area karantian bagian depan sepi. Di sisi utara pintu masuk ada beberapa anggota TNI yang disiapkan berjaga di lokasi.

Wartawan kemudian diarahkan menemui seorang anggota satpol PP yang berjaga di bagian lobi di sisi selatan. Tak banyak yang dia jelaskan sebab penanggung jawab lokasi saat itu sedang tidak berada di tempat. Namun dia sempat mengeluh terkait ketiadaan pos kesehatan dan tenaga medis. “Di sini seng ada tenaga medis. Harus ada tenaga medis yang standby di sini. Kalau ada apa-apa dong (penghuni karantina status ODP) siapa yang mau lia, katong seng berani,” Arthur.

Arthur mengaku sejak BPSDM jadi tempat karantina tenaga medis dari gugus tugas beberapa kali datang memantau kondisi para ODP dan pelaku perjalanan. Namun itupun tidak rutin. Sementara Arthur dan anggota lain sama sekali tidak mengatahui pun berkompeten dalam menghadapi para penghuni jika terjadi sesuatu. Misalnya jika ada yang mendadak sakit. Karena itu dia berharap agar ada pos medis di situ.

Loading...

 

“Katong di sini hanya tugas jaga biar aman. Jangan sampai ada masyarakat yang protes ka lalu datang. Juga biar dong (penghuni) seng keluar dari area karantina,” jelas dia.

Sementara dari pengamatan di lapangan sebagian area karantina tampak kotor. Seperti ada penumpukkan sampah kotak makan dan kantong plastik merah di area hijau dekat gedung Cengkeh tempat 14 ODP asal Bekasi tinggal. Cat dinding bagian depan gedung yang mulai kusam kian memperkuat kesan tak terawat dan seram.

Di karantina BPSDM sediri, ada 19 penghuni. 14 orang di gedung Cengkeh dan 5 orang di gedung Pala. Semuanya tinggal di lantai II gedung. Lima orang ini merupakan penghuni baru yang datang pada Minggu (29/3/2020). Mereka terdiri dari 2 orang asal Surabaya, 2 orang asal Cina dan 1 orang Jambi.

Keseharian mereka hanya berkutat di area karantina. Hanya sesekali terlihat ada yang berolahraga di fasilitas dalam BPSDM. Untuk kebutuhan makan dan minum, pemerintah menyediakan bagi mereka tiga kali sehari. Sedangkan untuk kebutuhan lain seperti rokok, mereka hanya dibolehkan mentransfer uang ke petugas untuk kemudian dibelikan.

Seperti yang wartawan jumpai kemarin, serorang anggota pol PP baru saja kembali dari membeli tujuh bungkus rokok memiliki penghuni baru gedung Pala. Setelah itu petugas akan menempatkan barang di salah satu tempat di lantai 1. Barulah petugas menelepon mereka untuk mengambil barang yang surah dibeli. “Jadi nanti katong bali lalu taruh saja. Abis itu telepon baru dong turun ambil barang. Katong seng berani dekat,” jelas dia.

Hal tersebut lambat laun membuat petugas pun penghuni merasa jenuh dan bosan. Arthur dan rekan lainnya tak menampik jika muncul rasa bosan dan stres jika berada lama dalam karantina tanpa melakukan apa-apa. Apalagi mayoritas mereka yang dikarantina itu datang ke Ambon dengan tujuan bekerja. Masa waktu tunggu 14 hari bahkan lebih tentu dapat berefek lain pada psikologis penghuni pun petugas jaga.

Tak heran jika baru beberapa hari, sudah ada penghuni yang nekat keluar lantaran ‘treatment’ di karantina yang cukup membuat penghuni tertekan. Pemerintah diharapkan melihat masalah ini dengan penangana tepat. Seperti dengan memberikan kejelasan kepada mereka yang masuk karantina. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *