Talud Gumumae Rusak Lagi, Warga Protes dan Minta Penegak Hukum Bertindak

by
Kondisi talud Gumumae per Jumat (5/2/2021). Foto : Sofyan

TERASMALIKU.COM,-BULA-Talud sepanjang 700 meter yang sampai saat ini masih dikerjakan proses pembangunannya pada bibir pantai wisata Gumumae, Desa Sesar, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) kembali alami kerusakan parah akibat dihantam ombak pada Kamis 4 Februari.

Padahal talud ini pernah diperbaiki pada awal Januari lalu, namun rusak lagi. Talud ini mulai dibangun sejak Oktober tahun lalu dan masih belum rampung proses pembangunannya.

Loading…

Dari pantauan terasmaluku.com di lokasi pada Jumat (5/2/2021), disepanjang talud Gumumae itu mengalami tanda retak dan patah yang disebabkan kedalaman galian dipasir pantai hanya sekitar 60 Centimeter dari permukaan sehingga tidak mampu menahan deburan ombak.

Bahkan, paving blok yang ditata rapi sebelumnya kini terlihat berantakan akibat timbunan talud yang merosot ke dalam. Paving blok yang ambruk ini sekitar 20 meter di pertengahan talud. Sementara di bagian kiri, talud sepanjang 2 meter ambruk. Dari 700 meter panjang talud, sekitar 200 meternya belum terpasang paving blok.

Bahkan dalam sepekan terakhir saja, talud yang ditangani Satker Dinas Pariwisata Kabupaten SBT dengan Kontrak CV. Julion Jaya Pratama itu sudah tiga kali ambruk.

Padahal jika dilihat dari nominal anggaran proyek pembangunan talud Gumumae ini terbilang cukup besar senilai Rp. 1 miliar lebih yang bersumber dari APBD Kabupaten SBT 2020.

Melihat kondisi talud yang kini rusak parah, warga yang berkunjung ke lokasi wisata Pantai Gumumae ini pun protes. Warga menilai kontraktor dan konsultan perencana yang bekerja talud Gumumae tidak punya perencanaan yang matang.

“Kontraktor dan konsultan ini dong (mereka) kerja bagaimana kaya begini. Kalau talud saja rusak begini apa manfaatnya? Sekarang tanda retak banyak, tanda patah, paving blok tabongkar (berantakan). Ini karena perencanaan seng (tidak) bagus,” tutur Emit Isanekon, salah seorang warga kepada terasmaluku.com di Pantai Gumumae, Jumat.

Sarjana lulusan Unversitas Karya Dharma Makassar ini merasa daerah seakan dibohongi oleh kontraktor dan konsultan perencana. “Seakan daerah ini dibohongi. Kenapa? Karena uang yang bersumber dari APBD tahun 2020 untuk pengerjaan talud Gumumae itu tidak dikerjakan dengan baik. Contoh, berulangkali talud Gumumae rusak para saat dihantam ombak,” paparnya.

BACA JUGA : Baru Dikerjakan Sudah Ambruk, Inspektorat Rekomendasikan Proyek Talud Gumumae Diproses Hukum

Pemuda asal Kecamatan Kilmury pun meminta pihak Inspektorat Daerah SBT dan Kejaksaan Negeri SBT untuk segera mengambil langkah tegas dalam mengusut persoalan ini karena dinilai sudah sangat merugikan daerah. “Segara diusut, ini sudah tidak beres. Pasti kontraktor makan banyak,”kesalnya. (Sofyan)