Tanggap Darurat Gempa Maluku Diperpanjang Dua Minggu

by
Pemerintah memperpanjang waktu tanggap darurat gempa di Maluku hingga dua minggu. Lokasi pengungsian di Kampus Unidar Desa Tulehu Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, Sabtu (5/10/2019). FOTO: Adi

TERASMALUKU.COM,AMBON,  –  Masa tanggap darurat bencana gempa di Maluku diperpanjang hingga dua minggu. Hal itu diputuskan saat rapat evaluasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku di Posko Satgas Penanggulangan Bencana di Aula Korem 151/Binaiya Kota Ambon, Sabtu (5/10/2019) siang.

Perpanjangan waktu dilakukan atas berbagai pertimbangan. Penyelenggaraan bantuan kepada pengungsi, alur distribusi sampai data lapangan yang belum rampung. Sejumlah keluhan pun masih bermunculan dari lapangan.

Seperti, lokasi pengungsian yang jauh, distribusi sembako dan obat-obatan tak merata juga persoalan kesehatan dan kesenjangan di tempat pengungsian.

Hal itu diungkapkan Kepala BPBD Maluku, Farida Salampessy di sela-sela rapat evaluasi sore tadi. “Kita penyelenggaraan belum selesai. Kita data-data lain belum selesai. Yang bergerak itu dari kabupaten dan kota, kita ini di provinsi koordinator,” tegas Farida usai menerima secara simbolik bantuan DPD RI yang dibawa Wakil Ketua DPD RI, Nono Sampono.

Alur informasi dan data dari bawah ke atas juga diakuinya belum maksimal. BPBD bertugas mengkoordinasi data. Sementara pemerintah kota dan kabupaten mengumpulkan informsi tersebut untuk dikirim ke tingkat provinsi.

loading...

Permasalahan pengungsi gempa ini bersifat sporadis. Lebih lanjut dia menjelaskan, kenyataan di lapangan menunjukkan kondisi tenda pengungsian yang baru ramai saat malam.

Petugas yang mendata di lapangan pun kesulitan. “Pagi seng ada malam baru ada. Pendataan itu berulang. Hari Ini laporannya dari desa seperti ini besok laporannya berbeda lagi,” jelas dia.

Sementara itu terkait masih adanya pengungsi yang belum terjamah layanan kesehatan. Farida punya tanggapan sendiri. Petugas kesehatan dan relawan yang membantu para penyintas di Maluku terbatas. Sedangkan, masyarakat memilih tempat yang tinggi dan jauh sebagai tempat berteduh.

Sudah pasti, kata Farida, bantuan tidak akan maksimal. “Kalau masyarakat itu konsepnya sekarang itu setinggi-tingginya sedangkan kita petugas kesehatan terbatas. Lalu kalau mereka mau melayani malah mereka bisa jadi korban,” ucapnya.

Farida meminta masyarakat berpikir lebih logis lagi meski sedang dilanda bencana. Farida menegaskan segala bentuk bantuan yang mengalir saat ini sifatnya darurat. Itu berarti tidak sempurna.

Dia berharap pemipin di daerah juga bergerak cepat mengerahkan petugas untuk mengirimkan data lengkap ke tingkat provinsi. (PRISKA BIRAHY)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *