Temuan Benda Asing Di Usus Mola Mola

by
Benda asing di dalam usus ikan Mola Mola yang ditemukan mati terdampar di Perairan Tanjung Martafons Teluk Dalam Ambon Senin (1/4). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Bangkai ikan Mola Mola akhirnya dibedah oleh peneliti dari Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Pttimura Ambon, Senin (1/4/2019). Sebuah benda asing berwarna merah kehitaman pekat dan padat ditemukan berada dalam usus ikan.

Proses bedah dikerjakan oleh dosen sekaligus peneliti, Profesor Dr. Jacobus Wilson Mosse M.Sc bersama seorang asisten dosen pukul 10.00WIT di tepi pantai tempat nelayan menemukan ikan, Minggu  (31/3/2019). Otopsi ikan juga dihadiri petugas BKSDA serta Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (LPSDPL) Sorong Wilayah Maluku yang sejak hari pertama turun ke lokasi. Selama hampir satu jam mereka membelah dan mengeluarkan satu persatu isi perut untuk memastikan apa penyebab kematian ikan laut dalam itu.

“Ini apa kami belum tahu, tapi ini benda asing yang ada di perut. Isi perutnya sih bersih hanya ada ini (benda asing),” jelas Mosses sambil menunjukkan benda padat yang mengeluarkan bau busuk menyengat. Benda tersebut ditemukan usai mereka menjejali satu persatu organ dalam tubuh ikan. Bau tidak sedap serta cairan kuning berupa minyak dalam jumlah cukup banyak keluar dari tubuh ikan.

Pengambilan sampel organ tubuh Mola Mola oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Pattimura Ambon untuk memastikan penyebab kematian ikan

Ini merupakan tindakan pengambilan sampel yang pertama dari dua kejadian kemunculan Mola Mola. Selama proses itu tidak ditemukan adanya kotoran atau jejak sisa makanan di dalam usus. Diperkirakan kematian ikan sekitar seminggu sebab makanan telah habis diproses dan lambung kosong.

Saat usus dibuka, ada dua potong besar benda asing nyangkut di perut. Menurut Mosse penampakan fisiknya mirip dengan organ paru-paru hewan darat yang telah menyusut. “Mirip organ tubuh hewan darat ya, seperti sapi. Mungkin dibuang oleh warga hanyut dan dimakan si ikan,” jelas dia.

Mola Mola atau sunfish tergolong hewan yang oportunis mencari makanan. Makanan utamanya adalah ubur-ubur, morea atau cacing di dasar laut. Namun dia juga memakan apa saja yang kebetulan lewat di depan. Berdasar analisis sementara, kemungkinan benda asing itu dikenali sebagai makanannya.

Terkait lokasi penemuan ikan, pihaknya masih sebatas menduga-duga. Dalam rantai makanan ikan yang hidup di laut dalam ini, ubur-ubur merupakan makanan utamanya. Kemungkinan, Mola Mola bergerak menuju area Teluk Dalam Ambon mengikuti sumber makanan yang melimpah. “Lima tahun lalu masyarakat pernah panen ubur-ubur di sini. Ikan ini dia hoovering ikut arah sumber makanan. Bisa jadi kualitas laut di Teluk Dalam Ambon sudah pulih,” kata dia.

Ikan yang mati diperkirakan berusia 15 tahun melalui organ Sagita dan lapilus yang berada pada bagian kepala ikan

Selain mengambil sampel isi benda asing dari perut mereka juga mengambil sampel dari kepala. Di bagian kepal ikan terdapat organ serupa tulang rawan dari bentukan kalsium. Sagita asteriskus dan lapilus merupakan dua organ yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan, navigasi serta sebagai alat pendengar ikan.

Organ tersebut akan menyimpan semua informasi tentang aktifitas Mola Mola yang penting, seperti kemana saja ikan pernah singgah, jejak kualitas air laut sampai dengan umur ikan.

Berdasar lekukan garis-garis pada sagita dan lapilus, ikan yang mati ini berusia sekitar 15 tahun. “Ada lingkaran-lingkaran di dalamnya. Ini sekitar 15 tahun. Tapid ari literatur disebutkan masa hidupnya hanya sampai 10 tahun,” sebut guru besar alumnus James Cook University Singapore itu.

Sagita dan lapilus seperti kotak hitam pesawat bagi ikan. Jumlahnya ada tiga pasang. Mereka berharap pengambilan sampel itu dapat memberi titik terang terkait informasi sebelum kematian ikan. Saat ditanya soal penyebab kematian, dia belum bisa memberikan jawaban. Sebab benda asing itu masih harus dipastikan di laboratorium. Usai mengambil sample, isi perut ikan lantas dikubur di sekitar pantai. (PRISKA BIRAHY)