Temuan Burung Endemik Papua di Permukiman Padat Kota Ambon

by
Burung endemik Papua, Julang Papua atau Rhyticeros plicatus ditemukan warga di belakang permukiman padat di Kebun Cengkih Kota Ambon, (8/1). FOTO: BKSDA Maluku

TERASMALUKU.COM,AMBON,- Seekor burung endemik Papua ditemukan di belakang rumah warga kawasan BTN Kebun Cengkeh, Kota Ambon, Rabu (8/1/2020). Burung jenis Julang Papua atau Rhyticeros plicatus itu lantas dibawa oleh petugas BKSDA Maluku usai menerima laporan Arman, warga di perumahan.

Burung julang atau yang disebut Rangkong Papua itu termasuk jantan. Ini merupakan salah satu temuan langka terhadap burung endemik yang bukan berasal dari Maluku di tengah permukiman padat perkotaan.“Baru (ditemukan) saja pagi ini Rabu. Akang di atas rumah lalu turun ke bawah,” jelas Arman kepada petugas BKSDA saat menjemput burung sekitar pukul 11.00 WIT di belakang rumahnya.

 

Kondisinya saat ditemukan tampak kurus. Ia  akrab dengan manusia atau jinak saat didekati. Ia başkan tampak santai bertengger di atas tangan Arman dan petugas. Itu menjadi alasan jika Julang Papua sedang tidak bermigrasi atau tersesat. Dugaan kuat ia merupakan burung peliharaan yang terlepas dari kandang atau sengaja dilepas oleh si pemelihara.

Hal itu lantas dipertegas oleh Kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi di kantornya kepada Terasmaluku.com. “Kemungkinan ya Julang Papuan ini dipelihara lalu lepas. Kan paruhnya kuat bisa jadi sangkarnya kuat dan melepaskan diri,” sebut Amin, Rabu (8/1/2020) sore.

Dari pantauan fisik, kata Amin, Julang Papua dalam kondisi yang tidak baik. Dia tampak kekrangan makanan dan vitamin. Postur badan yang kecil dan tampak lebih kurus dari jenis pada umumnya yang hidup liar di hutan.

Dia menduga sang pemilik membawa burung dari Papua menggunakan moda kapal laut ke Ambon. Selama pemeliharaan, bisa jadi Julang Papua itu tidak mendapat asupan makanan yang pas. Seperti dari sumber makanan ikan dan biji-bijian.

“Dia makannya kan ikan, terus biji-bijian. Kemungkinan tidak makan dengan baik. Beratnya itu bisa sampai 3 atau 4 kilogram,” imbuhnya.

Burung jenis ini punya keunikan fisik yang kita dapat mendeterminasi umur melalui jumlah keriput pada tanduk di atas paruhnya. Pihak BKSDA saat ini tengah membawanya ke kandan transit di Passo. Di sana, dokter hewan akan memeriksa kondisi kesehatannya sebelum dilepas ke alam. Usai observais itu akan dikembalikan ke habitatanya kerjasama dengan Balai Besar KSDA Papua. (PRISKA BIRAHY)