Temuan Pasien Covid-19 di Maluku Kini Banyak Tanpa Gejala

by

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Dari lacak jejak pasien positif saat ini ditemukan sejumlah pasien baru yang datang tidak dengan gejala dan keluhan. Atau disebut OTG orang tanpa gejala. Mereka-mereka ini memiliki virus corona di dalam tubuh. Namun tidak memperlihatkan gejala atau keluhan penyerta sama sekali.

BACA JUGA : Begini Cara Kerja Rapid Test Deteksi Covid-19 Dari Tracking di Maluku

Itu berarti sudah tidak ada lagi pembeda kasat mata yang memungkinkan masyarakat pun tenaga medis mengidentifikasi apakah dia bervirus atau tidak. Virus corona yang kali pertama ditemukan di Wuhan, Cina itu datang dengan sederet simptoma terkait gangguan jalur pernapasan. Seperti batuk, flu, gangguan di tenggorokan, sesak napas hingga naiknya suhu tubuh.

Namun temuan tenaga kesehatan dan tim dokter pada gugus tugas pencegahan dan penanganan covid-19 di Maluku menemukan fakta lain. Hal ini juga sama ditemukan di lain daerah. Dari laporan tim pelacak, Kepala Dinas Kesehatan drg. Wendy Pelupessy menyebutkan hanya 1 dari 5 orang terpapar virus bergejala. Empat orang lainnya bersih. Bahkan hal ini umum ditemui pada para pelaku perjalanan. Tanpa gejala, namun hasil terbukti positif.

“Yang bergejala hanya satu. Empat orang itu tidak ada gejala. Itu dari hasil lacak kita. Makanya mereka yang tanpa gejala dirawat terpisah,” ungkap Wendy kepada Terasmaluku.com Senin (13/4/2020). Hasil itu merupakan pelacakan dari pasien 02 berusia 74 tahun.

Pergerakan gejala ini bisa jadi merupakan skema adaptasi natural yang dinamis dari virus terhadap tubuh manusia atau sebaliknya. Menurut Wendy itu menyulitkan petugas kesehatan dan tenaga medis untuk memastikan kondisi apalagi orang tersebut masuk dalam radius pelacakkan.

Dengan demikian masyarakat harusnya jauh lebih serius menjalankan anjuran pemerintah terkait physical distancing dan PHBS (perilaku hidup berish dan sehat). Pada sejumlah negara hal ini menaikan tingkat kewaspadaan masyarakat. Pasalnya kita tidak benar-benar tahu pasti jika orang di samping kita adalah pembawa virus (carrier) dan telah memiliki virus dalam tubuhnya.

“Karena itu saya berpikir tentang anak-anak di lapangan (nakes di puskesmas). Saya lengkapi mereka semua dengan alat pelindung diri (APD) sebab kita tidak tahu yang datang ini dia membawa virus kah, dia bersih atau sehat,” terang Wendy.

Loading...

Seperti di Puskesmas Christina Martha Tiahahu, Kelurahan Ahusen Kota Ambon. Para tenaga kesehatan (nakes) di sana telah mengenakan APD saat melayani pasien. Mulai dari petugas di meja screening, kasir, sampai perawat dan dokter yang memeriksa pasien rawat jalan. Secara keseluruhan mereka mengenakan masker, sarung kepala, sarung tangan, goggle serta topi pelindung khusus.

Cara pemeriksaan pasien di puskesmas tanpa sentuhan fisik, jaga jarak dan kelengkapan APD tenaga kesehatan untuk perlindungan diri

“Katong di sini sudah pakai APD semua. Pengaturan meja, kursi dan ada tanda silang merah untuk berdiri pada jarak tersebut. Setiap yang masuk juga ada pemeriksaan thermal gun, wajib cuci tangan, wajib pakai masker lebih ketat,” jelas Kepala Puskesmas, dr. Susi Doloksaribu kepada terasmaluku.com, Selasa (14/4/2020) siang.

Masyarakat yang hendak memeriksakan diri pun diwajiibkan menggunakan masker. Susi membenarkan jika saat ini sulit membedakan mereka yang terpapar dan belum. Untuk itu perlindungan diri amat penting. Tidak hanya tenaga medis tapi juga masyarakat. Minimal dengan memakai masker dan rajin mencuci tangan.

Dia menekankan bahwa inilah pentingnya PHBS di masyarakat. Hal itu akan sangat membantu memutus rantai penyebaran juga menekan agar tidak sampai ada pasien terpapar lain. “Kalau masyarakat patuh pasti aman. Satu lagi kami (nakes, red) itu bukan garda depan. Masyarakatlah yang jadi garda depan. Kita itu ada di belakang, paling akhir buat penanganan,” katanya menjelaskan.

Salah persepsi terhadap tugas tenaga kesehatan ini, acap kali membuat masyarakat acuh. Mereka beranggapan para dokter suster dan perawatlah yang jadi pelindung pertama. Nyatanya, masyarakat sendirilah yang jadi pelindung utama dan pertama.

Karena itu badan kesehatan dunia melalui pemerintah di berbagai daerah mewajibkan masyarakat disiplin terhadap lima hal. Pakai masker, rajin cuci tangan, social distancing, physical distancing dan work from home (WFH). (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *