Temui Gubernur, Warga Adat Buru Sebut Mansur Wael Bukan Raja Kayeli

by
Warga Adat Petuanan Kayeli Kabupaten Buru saat pertemuan dengan Gubernur Maluku

AMBON_Puluhan warga adat dataran tinggi dan dataran rendah petuanan Kayeli Kabupaten Buru, Kamis (23/6) menemui Gubernur Maluku Said Assagaff.  Kepada gubernur warga adat menyebutkan Mansur Wael saat ini bukan sebagai Raja Kayeli. Mereka juga menyatakan menolak Mansur sebagai raja. Karena menurut mereka meski merupakan keturunan raja, namun  Mansur belum ditunjuk dan dikukuhkan sebagai raja melalui proses adat setempat.

“Kita sampaikan ke gubernur kalau Mansur Wael saat ini dia bukan raja. Karena belum  melalui penunjukan dan  pengukuhan secara adat. Kalau di petuanan Kayeli setiap  raja itu harus melalui imam, harus ada pembacaan doa selamat oleh imam adat petuanan  Kayeli dan para penghulunya   dan itu belum dilakukan kepada Mansur Wael, bagimana dia mau bilang sebagai raja,” kata Imam Adat Petuanan  Kayeli, Mohamad Idris Wael kepada wartawan usai pertemuan dengan gubernur.

Ia menyatakan, seorang Raja Kayeli tidak bisa diangkat atau dikukuhkan di tempat lain, selain di masjid petuanan  Kayeli. Mansur Wael langsung  menggantikan posisi kakanya Fuad Wael yang meninggal beberapa bulan lalu.

Namun menurutnya, seharusnya  pengganti raja yang meninggal  dikembalikan ke  petuanan Kayeli melalui imam adat, imam negeri serta para penghulunya, bukan langsung  pengangkatan  dan dilakukan di tempat lain yakni di Unit 10  Tanah Merah  Kecamatan Wailata.  Perebutan posisi  Raja Kayeli menjadi hangat karena wilayah kekuasannya  sampai ke Gunung Botak, lokasi tambang emas.

loading...

Protes  terhadap Mansur Wael ini terjadi menyusul pertemuan ia dengan Wapres Jusuf Kalla beberapa waktu lalu di Jakarta. Ia  mengatasnamakan  dirinya sebagai  raja dan  mewakili  warga adat Buru. Padahal menurut warga adat,  sebagian besar yang hadir dalam pertemuan itu  bukan  warga adat Buru, melainkan  pengusaha tambang emas seperti Mansur Lataka.

“Dia (Mansur Wael) belum jadi raja, belum dikukuhkan sebagai raja oleh pemangku adat, kenapa dalam pertemuan dengan Pak Wapres dia  mengatasnamakan dirinya raja, mewakili warga adat,” kata seorang tokoh adat Petuanan Kayeli, H. Tabeleng.

Mansur Wael juga selama ini dekat dengat pengusaha tambang emas di Pulau Buru.  Masyarakat adat juga menolak campur tangan orang  luar yang berusaha mengadu domba dan mengobok – obok  pranata adat dalam pengangkatan Raja Kayeli.

Dalam pertemuan  itu juga, warga adat mendesak gubernur secepatnya mengeluarkan izin kepada koperasi sekunder yang dimiliki oleh ketua – ketua  masyarakat adat. Sehingga masyarakat bisa bekerja secara legal, mendapatkan penghasilan  tidak hanya untuk masyarakat  tapi juga  untuk pemerintah daerah.

Dalam pertemuan itu gubernur menyatakan, pihaknya hanya mengakui  Raja Kayeli yang diakui warga adat dan Pemerintah Kabupaten Buru.  Terkait dengan pengelolaan tambang emas Gunung Botak, gubernur menyatakan, akan dikelola oleh koperasi rakyat. Ia menyatakan, saat ini izinnya masih diproses. “Saya minta masyarakat tidak terprovokasi, jangan lagi ada keributan antar warga. Kita akan atur agar semua bisa dinikmati masyarakat setempat,” kata gubernur.  ADI

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *