Terapkan Empat AS Dalam Poker Kunci Kurikulum 13

Terapkan Empat AS Dalam Poker Kunci Kurikulum 13

SHARE
Pengembangan kapasitas guru khusus di bidang teknologi informasi jadi salah satu fokus yang disampaikan Sekretaria Dinas Pendidikan Kota Ambon, Jonathan Manuputty saat Workshop implementasi K-13 dan revisi RKS di ruang Kelas SMPN 1 Ambon, Selasa (10/7/2018). FOTO : FRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-“Ikhlas tulus kubersumpah setia Tuhan pelindungku..” Sepenggal lagu nasional Ikhlas Tulus karya Frans Mataheru jadi pengingat bagi puluhan guru SMP Negeri 1 Ambon Kelurahan Karang Panjang Kecamatan Sirimau saat Workshop implementasi K-13 dan revisi RKS di ruang Kelas SMPN 1 Ambon, Selasa (10/7/2018) pagi.

Penerapan kurikulum K-13 di Kota Ambon dinilai perlu dorongan dan penyegaran bagi para tenaga pengajar. Kemajuan teknologi serta perubahan sosial tak pelak jadi tantangan baru bagi para guru. Ikhlas dalam kalimat lagu nasional yang dinyanyikan saat pembukaan pelatihan merupakan salah satu kunci keberhasilan penerapan kurikulum.

Di hadapan para guru peserta pelatihan, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Ambon Jonathan Manuputty mengatakan penguatan dan pengembangan potensi guru layaknya permainan poker. Terdapat empat kartu AS yang jadi kunci. “Ikhlas itu salah satunya. Guru itu harus ikhlas dalam mengajar jangan cuma sekadar datang mengajar. Anak anak tidak bisa apa apa nanti,” tegasnya usai memberi sambutan.

AS yang berikut yaitu bekerja keras. Belerja keras tak mesti berpeluh keringat. Namun giat dan antusias mempelajari dan memberi materi. Guru pun harus cerdas, cerdas berpikir maupun bertindak. Menurut John, para siswa berkembang mengikuti trand jaman now. Guru juga harus bisa mengimbangi itu. Kecakapan materi tak melulu ada dalam lembaran buku, tapi sumber sumber lain yang diperoleh melalui literasi digital.

Dia tak menampik  guru acapkali dibuat bingung dengan pertanyaan atau pernyataan siswa. “Mereka sudah baca duluan melalui internet, jadi guru harus ikut perkembangan jaman now kalau tidak nanti nau-nau,” celotehnya. Dan AS yang terakhir yakni tuntas. Di hadapan peserta pelatihan, dia meminta para guru agar cermat mengatur waktu.

Materi yang dibagi haruslah tuntas. Pekerjaan yang ditunda berdampak pada kualitas dan durasi pemberian materi. Dia menilai jika tak ada tunggakan, proses belajar dan pengembangan diri akan maksimal. Guru jadi punya waktu untuk menyiapkan materi lain siswa pun dapat mengerjakan hal lain. Dengan empat AS itu diyakini penarapan kurikulum dan target ajar tercapai.

Meski dia tak menampik ada kendala yang masih menjadi tugas bersama. Yakni stok guru atau tenaga pengajar yang mendekati masa purnatugas. Kecakapan mengajar dan pemanfaatan teknologi masa kini jauh tertingal dari guru muda. John berharap agar para guru yang mendekati masa pensiun lebih banyak mengambil peran sebagai pamong. Dengan begitu mutu pengajar terjaga.

Gertruida Patty, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Ambon membenarkan itu. Namun dirinya optimistis sebagian besar tenaga pengajar di sekolahnya mahir. “Ini kan K-13 jadi sebagian besar sudah terbiasa. Media ajar pakai power point bisa. Tinggal beberapa aplikasi saja,” bebernya.

Kemampuan guru di bidang IT dan pengembangan karakter merupakam goal yang ingin dicapai. Sejumlah pelatihan diharapkan membantu guru saat mengajar. Seperti pada workshop yang berlangsung tiga hari itu. Kualitas anak didik juga dilihat dari para pendidik. Hal itu sudah dibuktikan sekolahnya yang sempat meraih dua penghargaan olimpiade guru. Yakni Juara 1 Olimpiade Guru Mapel Matematika dan juara 3 Mapel Bahasa Inggris tinggal provinsi. (BIR)

loading...