Theodora Melsasail Dobrak Tabu Menstruasi Lewat Tarian Dismenore ‘My Period’

by
Theodora Melsasail seniman asal Ambon penerima Hibah Seni 2020 Kategori Karya Inovatif Yayasan Kelola berpose dalam salah satu koreagrafi dismenore saat perempuan merasa nyeri haid, (21/10). FOTO: Dok. Pribadi

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Perempuan dan nyeri saat haid memberi inspirasi bagi seniman muda asal Maluku membikin sebuah karya seni pertunjukkan. Adalah Theodora Melsasail dengan karyanya berjudul My Period.

Dalam karyanya, Theo, begitu dia disapa, menampilkan seni tari yang terinspirasi dari dismenore atau nyeri haid. Sebelum karyanya matang, dia mengumpulkan sejumlah data soal rupa-rupa nyeri perempuan yang dia peroleh dari hasil wawancara.

Seperti rasa yang bagaiman saat haid datang, apa saja yang dilakukan perempuan dan lain sebagainya. Itu memberinya kacamata besar tentang nyeri tiap bulan yang hingga kini masih punya ruang tabu dan ganjil di masyarakat.

“Beta wawancara beberapa responden soal ini. dong juga bercerita soal kalau nyeri haid tu akang bagaimana. Keram, terus ada yang harus nungginglah, tidurlah, pukul-pukul perut atau sampai pingsan,” jelas seniman yang lolos Hibah Seni 2020 Kategori Karya Seni inovatif Yayasan Kelola saat beberapa waktu lalu ditemui wartawan di rumahnya di kawasan Lateri, Kecamatan Baguala.

Pementasan karya Theodora Melsasail My Period yang berlangsung di rumah

Ada 18 orang yang ditanyai terkait itu. Cerita dari para responden itulah yang dirangkum menjadi koreografi tari yang utuh. Ada gerakan meremas, mencengkram perut, nungging dan lain hal yang dia terjemahkan dari cerita para perempuan. Menariknya Theo betul-betul memvisualkan gambaran period atau menstruasi perempuan dengan cukup gamblang dan berimbang. Dari video rekaman ada properti kunci yang dibuat laiknya vulva atau bagian paling luar organ genital perempuan.

“Katong coba gambarkan akang dan beta pakai gamutu lalu dirangkai begitu seperti vagina (vulva,baca),” imbuh inovator salah satu tarian khas Maluku itu. Untuk menyibak realitas menstruasi lebih dalam, Theo juga membuat sebuah video reaksi masyarakat terhadap isu tersebut. Yakni dengan metode eksperimen sosial.

Dia sengaja menuangkan cairan merah di bagian belakang celana putih yang dikenakan. Kemudian dia berjalan di sepanjang jalan utama yang ramai di Kota Ambon. Mulai dari area Jalan Sam Ratulangi depan Ambon Plaza menuju Jalan A.Y. Patty hingga ke lapangan merdeka.

Loading...

“Pengen liat reakasi orang Ambon. Hasilnya cuma empat (4) orang yang bereakasi sepanjang perjalanan. Reaksinya ada yang nganga (lihat,baca) heran, ekspresi yang bingung karena liahat banyak darah,”cerita 1 dari 10 seniman yang ikut dalam Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) bersama Bakti Budaya Djarum Foundation 2019.

Empat orang yang bereaksi itu salah satunya adalah seorang pria. Dia berkisah pria tersebut sedang berlari sore lantas mendatangi Theo untuk memberi tahu jika dia ada darah di celana serta meminta Theo menggunakan jaket menutup area belakang celana.

Sedang sisanya hanya sekadar melihat dan terheran-heran bahkan berkesan canggung untuk mendekat. Ini kata Theo menjawab premisnya di awal sebelum menggarap karya My Period itu. Bahwa orang masih tabu dengan menstruasi. Baik laki-laki pun perempuan yang sama-sama mengalami hal ini.

Karya-karya ini dia gabungkan menjadi satu rangakain yang kemudian dipentaskan secara virtual pada 9 Oktober 2020 lalu. Pengalaman pribadinya tentu menjadi salah satu landasan besar dimana ide itu muncul. Theo yang konsen dengan isu-isu perempuan menemukan ada ragam bentuk pengasingan yang masih terjadi terhadap perempuan.

Pinamouw adalah tradisi pengasingan perempuan suku Nualulu di Pulau Seram. Mereka yang baru kali pertama menstruasi wajib pindah sementara ke rumah pengasingan hingga usai masa haid. Berangkat dari itu, Theo lantas mengadaptasinya ke dalam realitas masa kini yang lebih riil dan sederhana. Pengasingan bukan sebatas raga. Dari video reakasi warga yang heran, acuh, menjauhkan diri dari mereka yang bocor saat menstruasi adalah juga bentuk pengasingan. Bahkan ketika masih ada yang malu membeli pembalut di kios juga bentuk lain dari pengasingan.

Theodora Melsasail juga menjadi pembuktian kreatifitas anak muda di tengah pandemi. Di masa sulit macam ini canggung bagi para seniman untuk tampil. Theo sadar betul ada keterbatasan ruang gerak. Mestinya karya macam itu mendapat respon langsung di hadapan ratusan pasang mata dan bukan secara virtual. Sementara semua pengerjaan dilakukan sepenuhnya di rumah. Dengan tim kecil beranggotakan anggota keluarga dan segelintir kawan dekatnya yang membantu proses fitting, shooting, editing hingga mengunggahnya. Di laman akun instagram dan facebook @theodoramelsasail juga terdapat kolase karya selama pertunjukkan yang bisa disimak.

Dengan kondisi ini dia mendobrak segela kemustahilan. Isu-isu minor yang jarang diangkat di wilayah yang kental ‘adat ketimuran’ justru membawa ruang kreasi besar untuknya. Setidaknya dia yang pertama dari Maluku menyibak karya dari eksplorasi tabu keperempuanan ke permukaan. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *