Tifure Dan Suli, Torang Samua Basudara Oleh: Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Pagelaran Seni Tradisi yang berlangsung di Gedung Serbaguna Jemaat Suli ,Selasa, 23 Juli 2019.

Sioh e, basudara e, Torang Samua Basudara. Inilah frasa lagu tentang persaudaraan yang diciptakan oleh Vega Salu, M.Sn, seniman dan musisi asal Batang Dua Ternate yang belum lama ini menyelesaikan studinya seninya di Universitas Negeri Surakarta Jawa Tengah.

Lagu yang ini dinyanyikan oleh Malis Guraici, 31 tahun, asal pulau Tifure di pulau Batang Dua Ternate Maluku Utara. Pada acara Pagelaran Seni Tradisi yang berlangsung di Gedung Serbaguna Jemaat Suli (Selasa, 23 Juli 2019). Lagu ini sekaligus menegaskan hubungan “gandong” antara pemuda Tifure di Maluku Utara dan Pemuda Suli di Maluku Tengah.

Sebelumnya, mengawali acara bernuansa budaya itu, seorang gadis Suli, Nona Suitella membawakan lagu berjudul Suli yang telah menjadi klasik itu. Suli e, negeri yang indah di pulau Ambon e. Kalimat ini mengalun syahdu membuka rangkaian Pagelaran Musik Etnik yang digelar Angkatan Muda GPM Suli (ranting 1 sampai 4) bersama Angkatan Muda GPM Ranting  FiladelfiaTifure. Selama seminggu kedua jemaat itu merajut kebersamaan dalam acara “Koinonia” yang biasanya dilakukan di Gereja Protestan Maluku (GPM).

DARI UJUNG UTARA

Jika kita mendengar lagu “Maluku Tanah Pusaka” maka ada syair yang menyatakan dari ujung Halmahera sampai Tenggara Jauh katong samua basudara, maka melalui lagu .yang diciptakan Vega Salu yang juga alumni STAKPN Ambon (sekarang IAKN Ambon) berjudul “Torang Samua Basudara “ ini, maka pemuda Tifure di menegaskan hubungan persaudaraan lintas pulau dan provinsi. Tifure sebuah pulau kecil di ujung Ternate Maluku Utara. Bersama pulau Mayau, dua pulau bersaudara itu disebut pulau Batang Dua.

Memang demikian ibarat dua batang kayu yang menyembul di lautan luas antara pulau Bitung Sulawesi Utara dan pulau Ternate Maluku Utara. Tifure memang cukup terpencil dan terisolasi. Jarak tempuh ke Ternate lewat laut sekitar 80 mil laut, sedangkan jarak ke Bitung 70 mil laut. Uniknya, mereka memilih bergabung dengan Ternate Maluku Utara.

Tifure dan Mayau merupakan dua pulau kecil yang kaya sumber daya lautnya. Masyarakat kedua pulau itu berasal dari ragam suku di antarnya dari Halmahera, Sanger, Ternate, Kei, Ambon, dan Tanimbar. Selain hasil laut ada pula hasil pertanian seperti kelapa dan cengkeh. Kedua pulau itu membentuk sebuah kecamatan yang diberi nama Kecamatan Batang Dua. Walau berada di lokasi yang jauh dari pulau induk Ternate, namun masyarakat di kedua pulau it uterus berjuang mengembangkan seluruh potensi alamnya, termasuk potensi sumber daya manusianya.

Uniknya, walau letaknya yang jauh, tetapi pemuda Tifure khususnya yang tergabung dalam wadah Angkatan Muda GPM Ranting Filadelfia Tifure tidak surut semangat dan langkah untuk mengunjungi rekan-rekam pemudanya di Angkatan Muda Suli di pulau Amvbon. Mereka rela melintasi laut yang bergelora dan berhari-hari dalam perjalanan demi berjumpa dengan saudara-saudara seiman di jemaat Suli. Di sana mereka disambut dengan hangat oleh pemuda Suli dan juga Jemat Suli yang dipimpin oleh Pdt Oudy Ririmasse, yang juga mantan Ketua Klasis GPM Ternate.

TORANG SAMUA BASUDARA

Perjumpaan dan rajutan persahabatan antara pemuda Tifure dan Suli merupakan awal yang indah untuk merajut ikatan persaudaraan sebagai orang basudara. Hal ini sejalan dengan spirit Gereja Protestan Maluku (GPM) sebagai gereja orang basudara. Walaupun Maluku dan Maluku Utara telah menjadi dua provinsi yang terpisah secara birokrasi administratif, namun ikatan kebersamaan dalam spirit “orang basudara” itu terbina, antara lain lewat Pemuda Tifure dan pemuda Suli ini. Hal ini dapat menjadi kekuatan yang kembali menegaskan identitas kemalukuan dalam perspektif kebudayaan. Bahwa kepulauan Maluku yang terbentang dari Utara ke Selatan memiliki sejarah dan ikatan budaya yang tak mesti terpisahkan hanya karena berbeda administrasi pemerintahan.

Lebih daripada itu, ikatan kebersamaan dan persaudaraan ini mesti mampu mendorong pengembangan dan peningkatan kualitas pemuda di kedua wilayah tersebut, untuk terus maju dan sanggup berkompetisi di era global saat ini. Pemuda mesti terus berbenah dan mengembangkan potensi yang dimilikinya agar dapat terlibat aktif dalam kehidupan keagamaan, masyarakat, bangsa dan negara.

Tarian Tide-Tide, Tarian Soya-Soya, musik tali dua adalah sebagian dari kekayaan seni tradisi di Maluku Utara. Demikian pula tarian Bambu Gila, Orlapei, Katreji yang dibawakan oleh pemuda Suli malam itu merupakan khazanah budaya Maluku yang perlu terus dijaga dan dilestarikan. Oleh sebab itu, acara Pagelaran Seni Tradisi yang digelar oleh Pemuda Tifure dan Pemuda Suli patut mendapat apresiasi dan dukungan semua pihak, bukan saja gereja tetapi juga pemerintah dan seluruh elemen lainnya.

Selamat buat kawan-kawan pemuda Tifure dan Pemuda Suli. Rajut terus persahabatan dan persaudaraan dalam spirit “Torang Samua Basudadar” dan “Marimoi Ngone Futur”, bersatu kita teguh.