Tiga Catatan Mensyukuri Sidang Sinode Keuskupan Amboina 2019 Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Pendeta Rudy Rahabeat

SAAT resepsi hari ulang tahun ke delapan puluh empat Gereja Protestan Maluku (GPM), tanggal 6 September 2019, Uskup Amboina, Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC hadir. Dan ia selalu hadir dalam momen-momen bergereja dan dalam peristiwa-peristiwa publik. Dengan jubah imamatnya ia menjadi simbol representasi umat Katolik di Maluku dan Maluku Utara. Ia bersama umat Katolik di kepulauan Maluku ini turut berkontribusi bagi pembangunan masyarakat melalui berbagai peran, baik di bidang keagamaan, pendidikan, kesehatan maupun politik kritis. Persekolahan Katolik, seperti Xaverius dan Rumah Sakit merupakan jejak-jejak nyata kehadiran gereja Katolik di masyarakat. Dengan lain perkataan, gereja tidak hanya sibuk dengan yang ritual tetapi mengambil bagian dalam pergulatan kehidupan sosial budaya, ekonomi dan bidang hidup lainnya guna mewujudkan keadilan, perdamaian dan kebaikan bersama (bonnum commune). Terkait momentum Sidang Sinode Keuskupan Amboina 2019 di kota Ambon 9-11 September 2019 perkenankan saya menyertakan tiga catatan reflektif ini.

Pertama, merajut relasi antar gereja dan agama. Gereja Katolik merupakan bagian dari gereja universal. Bersama-sama (sin-hodos) dengan gereja-gereja lainnya di seluruh penjuru dunia terpanggil untuk terus merajut kebersamaan dan solidaritas sebagai pembawa damai sejahtera bagi semesta ciptaan. Relasi antar-gereja perlu terus ditingkatkan dari waktu. Hal ini penting dan perlu sebab kadang gereja-gereja sibuk dengan dirinya sendiri dan lupa bahwa ia juga terpanggil untuk merajut oikumene antar-gereja, saling pengertian dan saling sinergis antar-gereja. Ambil contoh, seberapa sering gereja-gereja Katolik dan Protestan atau Pentakosta saling bertemu, bukan hanya di level elite tetapi terlebih pada komunitas basis.

Apa saja agenda-agenda dan karya bersama gereja-gereja untuk mewujudkan saling pemahaman dan persaudaraan universal sebagai orang Kristiani? Solidaritas Kristiani, seperti kata alm. Romo Tom Jacobs,SJ membuat gereja-gereja tetap terbuka untuk saling menyapa dan menyatu dalam terang Injil Kristus. Dalam kata “Kristianitas”, Katolik dan Protestan serta denominasi lainnya berjumpa untuk mewujudkan doa Yesus “ut omnes unum sint”, agar mereka semua menjadi satu. Demikian pula gereja Katolik terpanggil untuk terus merajut relasi yang manis dan transformatif dengan agama-agama yang lain seperti Islam, Hindu, Budha, Katolik dan Konghucu serta penghayat kepercayaan (agama leluhur).

Kedua, meningkatkan reksa pastoral publik. Seorang warga awam Katolik, Robert Baowallo yang pernah berkarya di kota Ambon dan sekarang di Yogyakarta, melalui akun fesbuknya menulis “Sinode Keuskupuan Amboina 2019 adakah agenda untuk misi pelayanan pastoral bagi pelaut (seeman mission) ?”. Pertanyaan ini membuka jendela kecil untuk melihat tugas-tugas pastoral yang tidak terlihat atau belum dilakukan secara prima. Di era perubahan yang mondial saat ini, gereja-gereja terpanggil untuk menjangkau kelompok-kelompok sosial yang kurang cermat diperhatikan.

loading...

Ibarat bagian anggota tubuh yang kecil, sering terabaikan oleh bagian-bagian tubuh yang besar dan dominan. Padahal santo Paulus telah mengingatkan dalam analogi satu tubuh banyak anggota, bahwa semua anggota tubuh, sekecil apapun sama-sama pentingnya. Reksa pelayanan pastoral mesti menjangkau arena-arena baru, termasuk yang muncul sebagai konsekuensi era digital saat ini. Kaum difabel, korban narkotika, penderita HIV-AIDS, buruh migran, merupakan kelompok-kelompok sosial yang mesti mendapat perhatian serius dalam reksa pastoral gereja. Demikian pula suara profetik gereja di bidang politik dan ideologi menjadi tak kalah pentingnya, di tengah tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin kompleks.

Ketiga, merawat perdamaian dan keutuhan ciptaan. Saat menerima bingkisan dari GPM saat momentum syukur HUT ke-84 tahun GPM itu, Bapa Uskup Amboina sempat memberi testimoni singkat, bahwa berama GPM dan agama-agama lain, umat Katolik berjuang bersama untuk menciptakan perdamaian di tengah kobaran konflik 1999. Kebersamaan bukan saja saat-saat senang tetapi terlebih saat-saat mengalami ujian konflik dan perang, ungkap Uskup yang menyelesaikan studi S3nya di Brussel-Belgia itu. Ia selalu lantang dan lugas mengartikulasikan posisi gereja di hadapan penguasa negara.

Dan itu selalu menghiasi halaman depan media-media massa di Maluku maupun di luarnya. Tentu saja, ia dan umat Katolik akan terus merawat perdamaian itu, termasuk merawat keutuhan ciptaan Tuhan. Berbagai krisis lingkungan, termasuk proyek-proyek tambang dan perkebunan skala besar, termasuk perkebunan kelapa sawit, menjadi ancaman bagi kelestarian alam dan masa depan bumi.

Demikian tiga catatan reflektif kecil yang dapat saya sertakan. Semoga ada faedahnya. Selamat bersinode. Tuhan Memberkati (rr).

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *