Tiga Sapaan Pdt John Ruhulessin Merespons Ibadah Minggu Di Rumah

by
Pdt John Ruhulessin

Sebentuk empati dan respons teologis pastoral terkait ibadah Mingggu yang berlangsung di rumah esok di lingkup GPM maka berikut ini tiga point ringkas pandangan dari dosen senior Fakultas Teologi UKIM dan mantan Ketua Sinode GPM ini.

Pertama, Pertanyaan teologis memang sangat perlu. Apakah gereja itu dan untuk apa gereja itu
Apakah ia terutama sebuah gedung ataukah ia terutama sebuah komunitas beriman.

Kedua, Sebetulnya ibadah di rumah bukan hal baru bagi GPM termasuk Perjamuan Kudus.
Hampir semua proses memperkuat komunitas beriman dan penguatan Persekutuan- pelayanan dan kesaksian komunitas beriman itu berlangsung di rumah (binakel, unit sektor, wadah wadah pelayanan, termasuk Perjamuan Kudus bagi lansia dan orang sakit, dll berlangsung di rumah).

Loading...

Mungkin tidak salah juga bila dikatakan “Jemaat rumah” bagi GPM bukan hal baru. Kultur jemaat rumah telah menjadi spirit dari kultur berGPM. Dari sudut ini saya rasa menggeserkan ibadah minggu dari gereja ke ibadah minggu di rumah tidak ada salahnya . Masalahnya adalah bagaimana cara pandang tentang gedung gereja dimaknai sebagai pusat persekutuan?

Ketiga. Allah hadir di rumah sebagai pusat persekutuan. Rumah sebagai pusat kehadiran Allah. Olehnya ibadah di rumah mesti bernas dan tidak kehilangan makna persekutuan iman yang otentik. Rumah harus menjadi pusat kesaksian, persekutuan dan pelayanan. Dengan begitu penguatan kehidupan keluarga menjadi hal yang penting bagi GPM.

Demikian tiga bulir pikiran teologis pastoral yang kiranya dapat memperkaya wawasan dan sikap kita menghayati serta memaknai ibadah rumah yang berlangsung Minggu (29/3/2020)  pagi. TUHAN MEMBERKATI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *