Tiga Tahun TERASMALUKU.COM Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

Jujur hingga saat ini saya belum pernah ketemu langsung dengan pimpinan redaksi Terasmaluku.com, Bung Hamdi Jempot. Pernah berjanji untuk ketemu, tapi belum juga. Saya sangat senang dan berterima kasih karena bisa berbagi lewat tulisan-tulisan singkat-reflektif di media online yang dikelolanya. Memang, persahabatan itu bisa dibangun dengan saling percaya, walau belum sempat jumpa di dunia offline, tapi dunia online juga punya magnit untuk membangun rasa keterhubungan, tergantung dari niat dan motivasi kita.

Hari ini tiga tahun Terasmaluku.com hadir. Kita patut memberi ucapan selamat dan apresiasi. Sebab makin banyak media yang berkualitas itu makin baik. Tentu saja kadar kualitas tiap media sangat tergantung berbagai variabel, baik sumber daya manusia maupun fasilitas penunjangnya, termasuk support dana. Walau begitu, kita jangan sampai kehilangan idealisme untuk tetap menjaga etika bermedia, independensi, menghindari pemuatan berita-berita yang memprovokasi. Sebaliknya, menjadi wadah pencerah masyarakat dan merawat peradaban yang damai.

FILOSOFI TERAS

Saya belum tahu apa alasan memilih istilah “Teras” untuk menamai media ini. Pasti ada latar belakangnya. Beberapa hari lalu saya mengirim cover buku “Filosofi Teras” yang ditulis oleh seorang sarjana filsafat. Saya belum sempat membaca isinya. Tapi secara umum, istilah teras itu sama sepadan dengan istilah beranda, atau orang Ambon menyebut “Branda”. Ruang depan rumah tempat orang duduk-duduk sambil bercerita, minum kopi atau teh, juga tempat main kartu domino.

Jika merujuk pada rumah tempo dulu di Ambon, teras itu selalu bersih. Entah lantainya dari semen atau tanah, teras itu selalu bersih. Hingga kini saya bisa membayangkan kenangan duduk di teras-teras rumah di Ambon yang selalu bersih. Saya kira nilai kebersihan ini menjadi sangat penting dan perlu saat ini. Ini pesan pertama yang saya maknai tentang teras. Jika dikaitkan dengan media, maka media mestinya selalu bersih. Jangan mau dikotori dengan berita-berita sampah dan penuh kebencian. Bukanlah apa ungkapan “kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Kedua, di teras itu ada perjumpaan, saling berbagi dan canda tawa. Tuan dan nyonya rumah pagi-pagi sudah duduk di teras atau branda rumahnya. Ada yang sambil ngopi, baca koran atau baca buku. Tapi yang paling asyik adalah ketika ada tamu yang datang. Biasanya disilahkan duduk di teras/branda, di suguhkan minuman dan cemilan lalu diajak berbagi cerita. Suasana begitu spontan, minim formalitas dan diselingi canda tawa. Media saat ini juga mesti memfasilitas perjumpaan yang bermutu. Tulisan, berita, gambar, video yang disuguhkan kiranya menggambarkan perjumpaan ide dan gagasan. Empati dan solidaritas. Sehingga orang yang mengkonsumsi media itu jadi senang dan gembira, jadi cerdas dan dewasa. Media lalu menjadi sarana belajar dan berbagi yang menyenangkan. Tentu ada banyak lagi sisi filosofis istilah dan makna “teras” itu. Saya cukupkan di sini dulu.

FUNGSI EDITING

Suatu waktu ada peristiwa polemik di Ambon. Isunya cukup sensitif. Awalnya saya menahan diri, tapi akhirnya saya menulis dan mengirimkan tulisan ke redaksi Teras, dengan catatan. “Tolong dipertimbangkan apakah layak dimuat atau tidak”. Tak lama kemudian masuk pesan bahwa mereka tidak dapat memuat tulisan tersebut. “Tulisan anda baik, tapi kami membaca kondisi sedang panas, kami tidak mau tulisan anda disalahpahami”. Saya berterima kasih dan menghargai kebijakan redaksi. Mungkin menurut saya tulisan itu “objektif” tapi tentu ada juga pertimbangan lain yang mesti kita terbuka untuk saling menerima masukan. Ini pelajaran yang sangat berharga. Saya belajar dari peristiwa ini.

Di era digital saat ini, ketiga semua orang mempunya akses untuk menulis dan menyajikan tulisan, gambar atau videonya, maka apa saja bisa dilakukan. Maka tidak heran jika beredar banyak berita bohong, pesan-pesan kebencian dan provokasi yang membabi buta. Orang bebas menulis apa saja dan tak ada larangan. Maka ketika seorang pemuda tanggung menulis makian kepada seorang pimpinan daerah, ia tidak bebas saja menulis. Nanti ketika ia ditahan di kantor polisi, baru ia sadar bahwa tidak semua hal bisa ditulis dan diwartakan. Ada rambu-rambu, ada kode etik, ada undang-undang yang harus diperhatikan.

Di sini pentingnya fungsi editing. Editor yang pertama adalah hati nurani kita sendiri. Sebelum menulis dan berbagi konten, maka tanyakan dulu hati nurani kita. Apakah yang kita tulis dan kita bagi ini berfaedah atau tidak. Apakah kita sedang menyebarkan kebencian atau perdamaian. Setelah itu, kita juga butuh pertimbangan orang lain. Di sini peran editor media menjadi penting. Ia turut membantu menimbang isi dan hal-hal teknis, seperti tata kalimat, kesalahan huruf maupun lainnya. Dengan melalui proses editing yang baik, maka conten yang disajikan di teras media menjadi bernutrisi.

Semoga makin banyak orang yang mau menulis dan berbagi konten-konten yang mencerahkan di era digital ini. Kita perlu terus membangun budaya literasi, mengajak dan melatih semakin banyak orang menulis dan membaca. Dalam konteks ini, Teras Maluku. com telah menjadi bagian dari sejarah itu.

Selamat ulang tahun yang ketiga Terasmaluku.com. Teruslah maju dan jadilah media yang bersih, ramah dan murah senyum. Proficiat ! (RR)