Tiga Tungku, Pesan pada Perayaan 70 Tahun Orang Maluku di Belanda

by
Penyair, Eko Saputra Poceratu dalam kolaborasi mengenang 70 tahun orang Maluku di Belanda bersama Museum of Moluccan Art serta komunitas Beyons Wall di Belanda.

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Penyair asal Maluku, Eko Saputra Poceratu jadi salah seorang penampil dalam pemutaran video IK BEN HIER – BETA DI SINI. Video mengenang 70 tahun bangsa Maluku tiba di Belanda pada 21 Maret 2021.

Eko diundang sebagai salah satu pengisi acara, memvisualisasi puisi. Karakter teks yang kuat, tegas serta korektif menjadi salah satu kekuatan eko membawakan puisi yang berisi pesan kepada orang Maluku dimanapun berada.

Saat ditemui di rumahnya, Eko mengaku amat senang diberikan kepercayaan dari Museum of Moluccan Art serta komunitas Beyons Wall di Belanda untuk terlibat menggarap video tersebut.

“Puisi ini baru. Dibuat setelah ada obrolan untuk peringatan 70 tahun itu. Isinya tentang pesan untuk orang Maluku agar jang pernah lupa sejarah,” ungkap penyair yang baru saja menelurkan novel kedua ‘Sebiru Api Rindu’ April 2020 dan buku puisi ‘Dosa Penyair’ pada September 2020.

Puisinya juga menyiratkan pesan bagi orang Maluku di Belanda. Tentang bagaiaman mereka tetap menjalin ikatan dan kepercayaan agar tidak terputus dengan saudara di Maluku, Indonesia.

Pesannya lantas dia terjemahkan dalam detil-detil yang apik. Seperti latar pengambilan video di hutan Tihulale, Kabupaten Seram Bagian Barat. Dia bersama tim juga menyambangi tempat keramat serta tiga sungai besar Tala, Eti dan Sapalewa yang jadi metafor atas hulu kehidupan orang Maluku. Ada juga laut dan aktivitas keseharian anak-anak.

Eko dan tim di Ambon berkolaborasi dengan tim besar dari Belanda untuk men-develop musik yang dipegang oleh Yopi Abraham.

Kolaborasi antar-benua ini jadi salah satu yang sulit sekaligus menyenangkan. “Ada banyak revisi di lagu. Ada yang beta rasa seng pas beta sampaikan. Jadi harus sampai pas. Sebab musik sangat menentukan nyawa karya,” sebat Eko yang aktif mengunggah karya puisinya melalui kanal youtube Eko Saputra Poceratu.

Ada juga kendala teknis lain di lapangan saat proses pengambilan video, perbedaan waktu Ambon dan Belanda serta penggunaan Bahasa. Dia mengakui ini merupakan penggarapan video yang paling detil yang pernah mereka kerjakan. Dengan durasi kerja 2 minggu.

Sejarah, kata Eko, adalah akar dari karya yang dia tulis di puisi. Itu pula yang membawa orang maluku tetap lestari hingga 70 tahun di Belanda. Ingatan tentang budaya yang kental terus diwariskan dari generasi pertama hingga saat ini. Itulah kebanggaan yang dijunjung tinggi.

“Pesannya buat orang Maluku di Maluku jangan lupa sejarah. Beta justru iri dengan dong di sana (Belanda, baca). Anak-anak muda ikut les Bahasa daerah, bikin tifa, pelajari simbol-simbol lalu cetak di lenso, belajar kuliner. Semua dong bisa,” katanya yang pernah mengikuti residensi penyair oleh Komite Buku Nasional di Belanda pada 2019.

Kemunculannya dengan puisi berjudul ‘Tiga Tungku’ seperti penghangat masakan. Realitas orang Maluku di Belanda yang pekat dengan sejarah diharapkan dapat diikuti mereka yang ada di Indonesia. “Satu-satunya yang bikin dong solid adalah sejarah. Dong itu tau sejarah, foto video buku selalu ada,” terang Eko.

Sebagai salah seorang dari Maluku yang dipercaya terlibat dalam produksi karya itu, Eko berharap sejarah tetap lestari. Menurutnya sebuah bangsa akan kuat jika ia terus menjaga dan mewariskan sejarah ke generasi berikut. (PRISKA BIRAHY)