Tik tok, Wadah Kreativitas Generasi Z  di Masa Pandemi Oleh : Mahasiswi Hubungan Internasional

by
Nur Anjani, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. FOTO : DOK. PRIBADI

Di zaman sekarang ini siapa sih yang tidak mengenal aplikasi tik tok? Iya, aplikasi satu ini benar benar populer sekarang. Apalagi di tengah pandemi covid-19. Banyak orang bukan hanya dari kalangan muda saja, namun sampai ke kalangan orang tua sekitar umur 50 tahun ke atas pun juga menggunakan aplikasi ini. Selain sebagai tempat untuk menunjukkan video hiburan atau tarian namun tik tok juga merupakan wadah untuk menunjukan kreativitas mereka.

Kreativitas mereka ini bukan hanya tarian atau video musik yang monoton namun, mereka menunjukkan bakat, ilmu, serta edukasi. Meskipun banyak manfaat dari aplikasi ini sebagai konten mendidik namun pada tahun 2019 Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) mendapat banyak laporan bahwa aplikasi tik tok membawa aura negatif dengan membawa konten tidak senonoh yang tidak seharusnya anak di bawah umur melihatnya.

Hal serupa juga terjadi kepada aplikasi bigo. Dengan begitu selama 1 bulan tik tok di non aktifkan.  namun kembali di perbolehkan dengan syarat tik tok harus membersihkan konten kontennya dan lebih memperkuat keamanan agar tidak di non aktifkan oleh kominfo. Dengan begitu semua orang dari segala kalangan dapat menikmati aplikasi ini dengan baik.

Melakukan transaksi jual beli atau promosi secara hadap hadapan merupakan sesuatu yang lumrah atau dapat dibilang biasa terjadi. Namun dengan menggunakan aplikasi tik tok semua orang mulai berlomba lomba untuk mempromosikan produk mereka. Dengan segala ide dan seberapa kreatif mereka dalam mempromosikan produk mereka.

Bukan hanya orang biasa namun di kalangan artis juga menggunakan aplikasi tik tok. Seperti dian sastro, luna maya, agnes mo, giselle anastaya dan anaknya gempi, anj manji. Musisi dan konten kreator satu ini tidak diragukan lagi kreativitasnya, dan itu juga terlihat dari video yang diunggah Anji di akun TikTok-nya. Dari video joget lagu Siapa Benar Siapa Salah yang mengajak duet pengguna lain, sampai video transisi yang ia buat bersama anaknya Leticia.

Kembali lagi ke tik tok, seperti yang kita ketahui aplikasi ini bukan hanya di gunakan bagi generasi milenial namun juga di gunakan oleh kalangan orang tua. banyak cara bagi seorang dosen atau guru memberikan bahan pelajaran dengan cara yang unik. Misalnya, bisa menggunakan alat peraga dan konten-konten video yang diputar di dalam kelas, atau cara lain yang mampu memancing konsentrasi para murid agar memperhatikan pelajaran.  Namun, kali ini ada salah satu dosen yang cukup unik dalam mengajar. Menggunakan media sosial (medsos) TikTok yang sedang digemari banyak kaum milenial, dosen satu ini selalu rutin menyebarkan ilmunya hingga mendapat ribuan likes dari viewers-nya.

Dari pendapat saya sendiri memang banyak sekali manfaat yang dapat di ambil dari penggunaan  aplikasi ini. Namun manurut saya terdapat banyak dampak negatifnya. Karena menurut saya walaupun dari pihak tik tok telah menyaring konten mereka namun masih banyak konten yang menurut saya tidak pantas di up untuk semua orang melihat konten tersebut. Mulai dari konten seperti persiapan malam pertama yang di up dari sebagian besar pengguna tik tok yang baru saja menikah.

Menurut saya hal tersebut sebaiknya jangan di up ke tik tok karena pengguna tik tok bukan hanya orang dewasa atau 18 tahun ke atas namun mulai dari  anak SMP sudah menggunakannya. Bukan hanya itu banyak konten yang mengandung kekerasan dan dapat memicu daya berpikir anak di bawah umur. seperti konten yang menggunakan hastag #darktiktok. Dari hastag ini saja sudah bisa di pahami  bahwa isi konten nya mengandung kekerasan sehingga jangan sampai dilihat oleh anak anak di bawah umur.

Di balik itu semua juga terdapat banyak adegan  tidak senonoh seperti ciuman yang dilakukan bukan hanya lawan jenis namun sesama jenis juga melakukan hal-hal yang sama. Tidak hanya itu  dampak negative lainnya  terletak pada masalah waktu. Di mana terjadi nya pemborosan waktu yang di lakukan oleh anak-anak di bawah umur. Dimana dalam kondisi ini anak-anak di bawah umur menggunakan waktu mereka secara berlebihan, mereka lebih memilih menghabiskan waktu mereka dengan meng scroll tik tok sepanjang hari tanpa henti. Tentu saja hal ini dapat menimbulkan masalah baru bagi kesehatan mereka.

Selain itu banyaknya bertebaran berita hoax di mana mana. Mulai dari cara mereka memberikan informasi dengan bercerita namun keabsahan dan kebenaran dari informasi tersebut masih belum diketahui. Tidak hanya itu, pemicu pembanding kehidupan sosial dan ekonomi di masyarakat. Adanya konten yang memperlihatkan perbedaaan kehidupan sosial dan ekonomi menjadikan Tiktok sebagai media untuk eksis dan memperlihatkan pebedaan status di masyarakat, yang dapat menimbulkan kecemburuan sosial kepada beberapa orang.

Dan yang paling bahaya adalah  media bullying dan sarkasme. Banyak konten di Tiktok menyajikan orang-orang yang saling berbalas kata-kata sarkasme untuk menunjukkan rasa tidak suka kepada orang lain. Hal ini dapat menyebabkan penggunaan kata yang tidak baik, dapat di contoh oleh banyak orang dan timbulnya bullying di masyarakat yang menganggapnya menjadi hal yang biasa.

Terlepas dari itu semua, kembali lagi kepada diri kita sendiri. Kembali ke niat kita bagaimana dalam menggunakan aplikasi dan bagaimana memanfaatkan teknologi dengan sebaik baiknya. Di samping maraknya kasus dan isu isu yang berisi tentang penyalah gunaan aplikasi ini, menurut saya kita sebagai generasi selanjutnya harus bisa memberi contoh yang baik agar generasi di bawah nya dapat mengikutinya.

Semua kasus kasus yang ada sekarang ini merupakan perbuatan oknum oknum yang tidak memiliki niat baik dalam menggunakan aplikasi ini. Menurut saya juga orang tua juga berperan penting dalam mengawasi bahan tontonan anak. Yang seharusnya tidak di tonton jangan sampai di tonton. Pada saat orang tua telah mengawasi anak anak mereka dalam menggunakan aplikasi tik tok saya yakin hal hal yang tidak di inginkan tidak akan terjadi. Jadi kesimpulannya adalah mau sebanyak apapun dampak negatif dari aplikasi tik tok ini semua tergantung dari diri kita sendiri bagimana cara kita menggunakan aplikasi tersebut dan memanfaatkan teknologi dengan baik baiknya.

Penulis : Nur Anjani, Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang