Tiket Peswat Meroket Imbas Pembatalan Kunjungan Ke Ambon

Tiket Peswat Meroket Imbas Pembatalan Kunjungan Ke Ambon

SHARE
Kenaikan harga tiket pesawat berimbas pada usada bidang perhotelan di Ambon. Tercatat ada pembatalan kunjungan asal luar Maluku pada beberapa hotel di pusat Kota Ambon. FOTO: Priska Birahy

 

TERASMALUKU.COM – Harga tiket pesawat tujuan Ambon berada pada puncak tertinggi. Kenaikan itu dinilai sejumlah pihak punya lompatan yang sangat jauh bila dibanding tahun lalu. Akibatnya okupansi hotel menurun, bahkan ada sejumlah pembatalan kunjungan dan pemesanan pada beberapa hotel di pusat kota Ambon.

Kenaikan harga tiket di Ambon berimplikasi pada sektor pariwisata dan leisure di Maluku. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) cabang Maluku, Theny Jordan Barlola mengungkapkan hal itu. Harga tiket pada akhir 2018 bergerak menyentuh angka fantastis. “Kali ini paling tinggi dari sebelumnya. Tinggi banget, sampai ada yang batalkan booking,” beber Theny kepada sejumlah wartawan usai pertemuan tahunan BI di hotel Santika Premier Ambon siang (5/12).

PHRI mendapat laporan dari para pemilik hotel terkait okupansi dan pergerakan tamu hotel dalam dua bulan terkahir. Puncaknya, yakni terjadi pembatalan pemesanan kamar. Hal tersebut merupakan kali pertama dalam beberapa tahun terkahir. Harga tiket sekali jalan yang mencekik dompet memberi dampak buruk bagi perkembangan perhotelan di Ambon.

Thenny menilai pembenahan pariwisata maupun pelayanan jasa hotel dan restoran akan sia-sia jika besarnya akomodasi menuju tempat tujuan. Orang dari luar Maluku lebih memilih mengganti daerah destinasi ke kota lain atau ke negara tetangga. Seperti Malaysia, Singapura atau Thailand. “Tiket ke sana memang lebih murah jadi orang lebih pilih keluar. Akhirnya hotel penginapan lesu,” lanjut dia. Padahal akhir tahun yang bertepatan dengan masa liburan harusnya menjadi ladang panen di bidang parisiwisata.

Ketua PHRI Cabang Maluku Theny J Barlola memprediksi okupansi hotel menurun jika harga tiket terus naik.

Berdasar data PHRI Maluku ada sekitar 2.000 kamar dan 110 hotel di Kota ambon. Dari jumlah itu ada penurunan okupansi akibat mahalnya harga tiket sekitar 5 hingga 6 persen dalam dua bulan terakhir. Presentasi itu diperkirakan makin tinggi jika tidak ada kebijakan dari maskapai atau dorongan pemerintah daerah. “percuma saja perbaikan tempat wisata ata jasa hotel orang tidak akan memilih kalau tiket mahal,” tegasnya.

Saat diwawancarai terpisah, General Manager PT. Angkasa Pura I Amirudin Florensius enggan berkomentar panjang. Menurutnya persoalan yang sempat dikritisi kepala Bank Indonesia itu sudah diserahkan ke DPRD Provinsi Maluku. “Saya tidak mau bahas panjang lagi, sebab sudah ketemu dengan DPRD untuk bahas hal itu,” celetuknya. Menurut dia harga tiket bukan domain kerjanya melainkan sepenuhnya kebijakan maskapai. Memang ada kenaikan yang konsisten sejak perhelatan nasional pesparani. Namun selebihnya keputusan tiket ada di pihak maskapai terkait.

Hotel-hotel besar yang menerapkan sistem pesan online adalah yang paling banyak kena imbas. Pemesan dari luar Maluku yang kerap memakai jasa pesan itu beralih ke destinasi daerah lain. Di lain sisi penginapan atau guest house tidak terlalu banyak terpapar dampak naiknya harga tiket.

Seperti Victoria Guest House yang ada di pusat kota Ambon. Penginapan dengan tarif di bawaha Rp 300 ribu lebih banyak kedatangan pemesan asal kabupaten terdekat. Seperti dari Malteng, SBB, SBT maupun tamu dalam kota. Menurut salah seorang pegawai di guest house, kenaikan itu biasanya terasa bagi pemasan asal luar daerah yang jauh. “ Biasanya dong pakai pesan online. Seperti dari MBD yang jauh. Itu paling terasa,” ungkapnya. (PRISKA BIRAHY)

loading...