Timba Laor, Berkah Dua Kali Dalam Setahun Warga Latuhalat

by
Warga menimba laor di Pantai Namalatu Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, dalam Festival Laor, Selasa (3/4). FOTO : BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON- “SORANG seng turung ke lau, timba laor” seorang perempuan separuh baya tengah menyapa warga di sekitar pantai Namalatu Kecamatan Nusaniwe, Selasa (3/4). Dengan memegang saringan baskom dan obor dia bergegas turun ke laut. Di sekitar pantai berkarang, saat sudah mati-mati glap, satu persatu warga turun ke laut. Mereka tidak dengan tangan kosong. Masing-masing menyiapkan perkakas. Terutama adalah penerangan yang dibuat dari bambu. Namun ada juga yang membawa petromaks.

Selasa malam ada pesta besar di Pantai Namalatu. Lampu-lampu dan obor yang dibawa warga makin membikin semarak pantai yang tengah meti atau surut itu. Di celah celah batu karang, lubang lubang yang terisi air laut, muncul ratusan cacing laut berwarna hijau tua, biru dan coklat. Warga Ambon menyebutnya laor. Ia jadi buruan utama. Sambil megang obor satu perstau warga mulai menyiduk laor dengan saringan.

Bagi yang belum terbiasa, cacing cacing kecil yang bergerak cepat ini tampak menggelikan. Apalagi saat ia bersentuhan dengan kulit kaki, rasanya geli dan licin. Tapi jangan keburu mundur, cacing cacing ini paling diincar dan ditunggu sepanjang tahun. Bahkan saat sudah diolah, rasanya bakal bikin nagih. Apalagi dijadikan makanan lawar oleh tangan mama mama yang terampil dengan aneka bumbu dan rempah kering.Nikmatnya tiada tara.

Ini adalah kali kedua dalam setahun warga Latuhalat timba laor. Dapat dikatakan sebuah keberuntungan. Pasalnya laor biasa muncul setahun sekali. Itupun antara Maret sampai April. Nah, kali ini warga Latuhalat kebagian dua kali. Sebelumnya musim pertama timba laor jatuh pada Maret. Saat purnama dan bulan sedang tinggi, warga panen dan pesta laor.

Cacing laut bernama latin Polychaeta Filum Analida kembali muncul untuk kedua kali dalam waktu berdekatan. Raja atau Kepala Desa Latuhalat menyebut ini sebagai berkah dan keberuntungan. “Biasanya cuma Maret. Kali ini muncul lagi. Dan sepertinya bisa sampai dua hari,” kata Bapa Raja Latuhalat, Audy Salhuteru kepada Terasmaluku.com.

Kali ini pihaknya bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kota Ambon menggelar Festival Timba Laor. Menurut Audy, ia sempat ketar ketir tiak ada laor lagi. Namun alam berkata lain. Sebelum festival dimulai, dirinya beserta perangkat desa melakukan doa doa dan acara adat. Menurutnya laor merupkan berkat dari Tuhan yang ajaib. Manusia tidak bisa memprediksi kapan pastinya bioata laut yang tinggi protein itu keluar dari sela sela karang.

“Karena itu katong berdoa dulu. Mohon berkat dari Tuhan supaya ada Laor lai,” jelasnya. Dan terbukti, sea worm, cacing laut  itu muncul kepermukaan. Warga beramai ramai timba laor untuk dibawa pulang dan dimasak. Bila tangkapan banyak, laor dijual ke pasar.

 

Pantai Namalatu Kecamatan Nusaniwe merupakan satu dari dua spot munculnya laor di Kota Ambon. Tempat lainya yakni di sekitar Kecamatan Leitimur Selatan. Seperti di Negeri Rutong. “Tahun sebelumnya kami juga bikin festival laor pertama di Rutong pada 2012,” ujar Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Ambon, Richard Luhukai.

Sejak dulu timba laor sudah jadi agenda rutin tiap tahun warga Latuhalat.Hasil panen cacing laut biasanya untuk konsumsi pribadi. Menurutnya hal ini punya celah baik untuk dijadikan agenda pariwisata Kota Ambon. Apalagi dia mengaku tradisi timba laor merupakan salah satu yang unik. Di Indonesia tercatat ada dua tempat yang melakukan tradisi serupa.

Di Ambon dikenal dengan nama Timba Laor, sedangkan di Lombok, NTB disebut Bau Nyale. Hanya, Richard mengaku featival perayaan kekayaan alam di Lombok jauh lebih rapih. Pemerintah dan warga setempat benar-benar mengonsep tiap detil acara agar menjadi agenda rutin tahunan yang mengundang banyak wisatawan. “Namanya juga masih baru, tapi akan kami upayakan lebih baik lagi tahun depan. Karena ini acara menarik dan khas,” lanjut mantan Camat Leitimur Selatan itu.

Selain keunikan tradisi, laor nyatanya membawa dampak baik pada kesehatan. Kandungan protein yang tinggi dalam laor berguna untuk sistem imun tubuh. Itu artinya, warga yang rajin mengonsumsi laor tidak mudah sakit. Protein pun baik untuk kesehatan otak. “Makanya liat warga pesisir itu mereka kuat kuat. Karena konsumsi makanan tinggi protein,” ungkap Pria yang fasih berbahasa Sunda itu.

Dia berharap tahun depan Festival Timba laor bakal lebih meriah. Konsep acara dan detil akan disiapkan agar benar benar jadi agenda wisata yang menarik. Tak hanya bagi wisatawan mancanegara tapi juga warga lokal. Sebab terbukti masih banyak belum pernah ikut timba laor atau melihat wujud cacing laut itu secara langsung.

Lynda Nanuru, seorang warga Silale yang ikut timba laor mengaku ini merupakan kali pertamanya timba laor. “Ini baru satu kali turun timba,” akunya. Keseruan timba laor tak hanya dirasanya sendiri, Lynda mengajak adiknya untuk turut merasakan keseruan timba laor bersama warga lain. (BIR)