TOGUTIL : “Tidak Mengenal Peradaban” (?) oleh : Dr Andi Sumar Karman, Antropolog Unkhair Ternate

by
Dr Andi Sumar Karman,

SETELAH insiden berdarah di Halmahera Timur pada 2015 yang berakhir dengan dihukumnya kedua orang Togutil, Bokum dan Nuhu, dengan kurungan 15 tahun (!), belakangan, pada 2019, ini insiden serupa kembali mencuat dengan tuduhan pelaku yang sama: orang Togutil. Tulisan ini tidak bermaksud membela siapa-siapa. Namun, keberpihakan saya, penting bagi kita untuk memahami dengan baik tentang siapa sebenarnya orang Togutil.

Penggalan judul di atas, bukan kalimat pernyataan saya. Melainkan pertanyaan media tv kepada narasumber, Safrudin Abdulrahman.

Pagi ini, Jumat (5/42019), Metro TV melakukan wawancara kepada salah seorang Antropolog FIB Unkhair. Safrudin adalah peneliti komunitas Togutil. Ia menulis tesisnya tentang etnomedisin (kesehatan tradisional) komunitas ini untuk S2-nya di Antropologi UGM. Sebelumnya, sejak 2002, ia sudah berinteraksi dengan orang Togutil di bawah program Kemensos RI. Ia keluar masuk hutan sejak saat itu hingga sekarang. Bukan hanya pada orang Togutil, ia melakukannya terhadap orang-orang asli (native people) di Maluku Utara. Dengan kata lain, narasumber memang pakar di bidangnya.

Kembali ke soal wawancara.

Pandangan atau anggapan bahwa orang Togutil tidak mengenal peradaban harus ditanggapi karena implikasinya bisa berdampak luas, yang kerap tidak menguntungkan posisi komunitas ini. Tidak mengenal peradaban bisa bermakna belum modern, atau masih tradisional, cara hidup atau kebudayaannya secara luas. Secara negatif, pandangan semacam ini bisa berarti bengis, kejam, tertutup dari interaksi dengan kalangan lain di luar kelompoknya. Lebih jauh dari pandangan kedua ini, orang Togutil menjadi ancaman bagi siapa saja. Benarkah?

Orang Togutil jelas mengenal peradaban! Bedanya, kalau kita sudah kompleks, maka mereka masih sederhana. Mereka memiliki sistem nilai yang ketat, baik secara sosial maupun dalam hubuungannya dengan penguasa alam, termasuk dalam kerangka interaksi mereka dengan lingkungan alam. Dalam hal pelestarian lingkungan (alam), saya yakin mereka lebih beradab! Sebab kehidupan yang lebih bergantung kepada alam, sudah pasti mengarahkan perilaku mereka untuk tetap menjaga keberlanjutan semesta.

Maka, ketika ruang hidup (wilayah hutan) mereka terusik, upaya mempertahankan diri jelas mereka lakukan. Namun, ini tidak lantas berarti bahwa semua kejadian yang berlangsung di dalam hutan sudah mutlak pelakunya melibatkan komunitas ini. Seperti wilayah lainnya di Indonesia, atau di muka bumi, kawasan hutan di mana orang Togutil hidup dapat terjadi apa dan kapan saja. Karena itu, respons terhadapnya tak boleh berlebihan. Apalagi melepaskan azas praduga tak bersalah. Tetaplah berpikir wajar! Bertindaklah seperti menghadapi kejadian yang berlangsung di kampung-kampung atau di kota, di mana berbagai macam tindakan kriminal berlangsung secara “normal”. Karena itu, penyelesaiannya juga tak membutuhkan cara yang “luar biasa.”

Tentang gesekan, antara orang Togutil dengan pihak lain, bagaimana menghindarinya?

Pertama, harus diluruskan pertanyaannya, sebab pertanyaan selalu mengandung asumsi di baliknya. Pertanyaan tsb mengasumsikan bahwa orang Togutil cenderung menjadi ancaman dan kerap menimbulkan gesekan (penyerangan, konflik) dengan pihak lain.

Kedua, jika memang terjadi gesekan, maka kita harus mengoreksi diri juga. Apakah perilaku atau tindakan kita, baik secara personal maupun sosial, atau selaku pemerintah dan swasta (jangan lupa, ada aktivitas pertambangan di sana yang berlangsung di wilayah hidup orang Togutil) tidak membuat mereka terdesak? Kalau ruang tempat mencari makan diusik, apakah kita rela? Akan tetapi, komunitas ini tak akan membunuh karena lapar ‘kan? Tapi jauh lebih penting adalah, kita harus mencegah jangan sampai mereka lapar!

Ketiga, terkait kasus yang sedang hangat dan menyita perhatian publik belakangan, upaya penyisiran wilayah hutan oleh aparat keamanan dibantu masyarakat dan pemerintah, bisa bermakna sebagai pembersihan kepada komunitas Togutil. Ini harus dilakukan secara hati-hati. Apakah kita sudah melakukan pemeriksaan atau menelisik kasus ini dengan cermat sehingga berbagai unsur yang meungkin terkait ditemukan? Kelompok etnis yang sederhana dan jumlahnya kian menyusut, maksud saya yang masih mengembara di hutan, jangan sampai dilanda “ethnic cleansing” oleh bangsa sendiri, hanya karena anggapan yang keliru tentang mereka.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *