Tol Laut Harapan Pengendali Inflasi Di Tanimbar

by
Beras dan sejumlah barang kebutuhan pokok lain di pasar Saumlaki didatangkan dari Surabaya menggunakan kapal tol laut, Selasa (19/3). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM- Pengendalian harga barang menjadi satu hal yang krusial. Akses masyarakat yang terbatas pada barang kebutuhan berkaitan erat dengan rendahnya kesejahteraan. Di wilayah kepulauan seperti di Maluku, keberadaan tol laut amat diharapakan untuk menyeimbangkan harga. Seperti yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Berbagai barang kebutuhan pokok rerata dipasok langsung dari Surabaya menggunakan kapal tol laut yang sekarang sedang tidak beroperasi. Kapal pengangkut yang datang dari Jawa akan mengangkut berbagai bahan kebutuhan dalam jumlah besar. Dengan begitu akan ada penghematan harga barang.

Bank Indonesia Perwakilan Maluku sempat datang ke Kota Saumlaki untuk mengikuti rapat dengan TPID (Tim Pengendali inflasi Daerah) bersama SKPD terkait serta pihak BPS. Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank BI Perwakilan Maluku Andi Setyo Biwado dalam pertemuannya, Selasa (19/3/2019)  di lantai dua ruang rapat sekretaris bupati memaparkan sejumlah data terkait inflasi. “Inflasi di Maluku saat ini 3,35 persen. Targetnya inflasi harus lebih rendah,” jelasnya.

Menurut Andi harga yang terlalu tinggi sangat berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat. Di Saumlaki misalnya harga cabai merah yang jadi kebutuhan dasar rumah tangga pernah sampai menyentuh angka Rp 200 ribu per-kilogram. Salah satu penyebabnya yakni rentang jarak daerah dan pemasok yang jauh.

Untuk di wilayah Kota Ambon, pemasok cabai merah misalnya berasal dari Pulau Seram dan sebagian dari petani di Kota Ambon. Ada pula yang mendatangkan dari Manado. Saat terjadi inflasi berbagai upaya dilakukan seperti pengadaan pasar murah bersama dinas indag dan ketahanan pangan. “Semua pihak harus responsif. Bila harga-harga naik segera upayakan tindakan cepat.

Kapal tol laut yang biasa mengangkut barang dengan peti kemas kini sedang tidak beroperasi dan menunggu lelang.

Bila perlu buat WA grup untuk diskusi,” sarannya dalam rapat tersebut. Andi cukup serius pada kondisi inflasi di Saumlaki. Pasalnya ini merupakan rapat TPID kali pertama bersama gabungan dinas terkait di kabpaten. Dia meminta agar pemerintah kabupten serius melihat soal inflasi daerah. Bahkan dia menyarankan untuk lebih sering adakan pertemuan minimal tiga bulan sekali.

Dengan tegas dia juga menyampaikan jika persoalan inflasi mendapat sorotan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Bahkan dalam rapat TPID, presiden sendiri yang memimpin jalannya rapat.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kepulauan Tanimbar Elisabeth Werembinan kepada wartawan mengakui jika selama ini pihaknya memang mengandalakn tol laut. “Tol laut itu amat penting bagi kami. Semua bahan kebutuhan itu kami dapat dari Surabaya yang diangkut dengan kapal,” terang dia.

Beras, telur, aneka bumbu dapur, minyak goreng hingga bahan bangunan diangkut dari pelabuhan singgah tol menuju ke Saumlaki. Elisabeth menyebut, skema itu dinilai cukup membantu. Sebab rute kapal rutin singgah di pelabuhan. Memang ada keinginan untuk mengambil rute yang lebih dekat yaitu pasokan dari Ambon atau Seram untuk bahan makanan.

Namun Elisabeth memprediski hal itu malah akan membuat pedagang merugi. “Memang dekat tapi tidak ada kapal yang masuk rutin dari Ambon ke Saumlaki. Waktunya lama sekali dan kapasitas kapal kecil sedangkan kebutuhan di sini banyak. Tol laut paling pas,” aku mantan kepala dinas koperasi dan UMKM itu. Dia mencontoh harga semen yang dulu mencapai Rp 90 ribu persak ukuran 50 kilogram. Kini berada di angka Rp 75.000– Rp 80.000 persak. hanya saja menurut Elisabeth saat ini tol laut sedang tidak beroperasi. Itu lantaran sedang ada proses lelang kapal.

Itu coba dibuktikan wartawan dengan mendatangi pasar tradisional Saumlaki. Sejumlah sejumlah pedagang mengkaui kemudahan akses dengan adanya tol laut. Meski sebagian merasa kehadiran tol laut tak begitu berdampak khusunya saat proses bongkar muat. “Semua barang ini dari tol laut itu. Beras, kacang tanah, kacang ijo dibawa dari Surabaya. Tapi harga tidak terlalu ada perubahan,” aku Silvi, 38 pedagang sembako di Pasar Saumlaki.

Salah satu penyebabnya, yakni sistem bongkar muat yang lama. Dia menilai waktu bongkar muat yang panjang, cukup memusingkan pedagang. Apalagi jika saat seperti ini, tol laut belum beroperasi. Dirinya terpaksa mengecer dari pedagang besar di Saumlaki. Sudah tentu selisih harganya cukup jauh. hal serupa juga dijumpai di toko bangunan dekat jajaran hotel di sekitar pasar. Harga semen Rp 75.000 persak. Semen dan kebutuhan bahan bangunan didatangkan dari Surabaya. (PRISKA BIRAHY)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *