TUHAN Kase Beta Karunia” Mengenang Maestro Bing Leiwakabessy Oleh: Rudy Rahabeat. Pendeta GPM

by
Bing Leiwakabessy FOTO : Antara

Pelayanan gereja bukan hanya bertumpu pada peran kaum berjubah (klerus) tetapi juga warga gereja dengan aneka talenta dan potensi yang dimiliki. Dalam konsep Martin Luther tentang Imamat Am Orang Percaya maka semua orang entah klerus maupun awam adalah imam yang terpanggil melayani Tuhan dan sesama dengan sepenuh hati sesuai karunia yang dimiliki.

Di galeri MURI Jakarta ia memainkan Hawaian dengan lincah, bikin Jaya Suprana terpana. Sang penggagas rekor MURI itu kemudian berkata “Sebaiknya musik ini jangan diberi nama Hawaian tapi Malukuan”. Kalimat itu ia lontarkan kepada sang maestro yang terlihat santai itu. Saya ada di ruang itu saat kalimat-kalimat itu terlontar. Tahun 2015.

Loading…

Kalimat itu sekaligus apresiasi kepada Opa Bing Leiwakabessy, yang bukan hanya piawai memainkan Hawaian tetapi juga trampil membuat Hawaian dengan bentuknya yang unik.

Sekiranya Tuhan masih memberinya umur panjang, tanggal 10 Pebruari 2021 ini ia genap 98 tahun, sisa dua tahun menggapai 100 tahun. Namun Tuhan punya rencana yang lain, pada pukul 14.00 (jam 2 siang) hari Kamis, 21 Januari 2021 ia berpulang ke Rumah Bapa, setelah sebulan terbaring di tempat tidur karena sakit di bagian pinggulnya. Ia tidur dengan tenang, dengan senyum dan kulit yang lembut bersih.

Menurut Cliff Leiwakabeasy, anak bungsu dari 11 bersaudara, ayahnya meninggalkan banyak teladan dan nasihat berharga. “Papa orangnya rileks, suka tertawa dan tidak mau bikin masalah dengan orang lain” ungkap Cliff. Ada tiga hal yang selalu diingatkan sang ayah kepada anak-anaknya. Hidup takut Tuhan, hargai orang yang lebih tua dan bikin bae untuk orang lain. Satu lagi pesan sang ayah yang ia terima dari ayahnya yakni “Jangan bawa orang ke meja hijau (Pengadilan)”. Pernah ada kasus yang berpotensi diproses di pengadilan tapi Opa Bing menarik kasus tersebut karena ingat pesan ayahnya.

Secara pribadi saya mengenal Opa Bing saat melayani di Jemaat GPM Bethel tahun 2007. Betapa saya bangga bahwa dapat berjumpa dengan seorang maestro, yang sehari-hari merupakan warga Jemaat Betel Sektor 18. Tak disia-siakan kesempatan emas itu. Selain kerap mendengar cerita-cerita darinya, sama seperti juga mendengar cerita-cerita dari Prof John Lokollo (alm.) yang juga warga Sektor 18, tetapi saya juga memintanya mengiringi ibadah Jemaat bersama anak bungsunya Cliff, yang merupakan pemain musik di gereja Betel. Setiap kali ia bermain di gereja saya sangat bangga. Orang hebat ini tetap rendah hati dan setia memainkan musik Hawaian ini.

Suatu waktu ia pernah berkata kepada saya. “Tuhan kase beta Karunia”. Maksudnya ketrampilan memainkan musik Hawaian itu dimaknainya sebagai anugerah/karunia pemberian Tuhan. Ia tidak mengandalkan dirinya, tetapi ia meletakannya dalam pengakuan terhadap kuasa dan kasih Tuhan. Bagi saya ini sebuah tanda kedewasaan hidup beriman. Ia mungkin tidak pernah menjadi Majelis Jemaat atau pengerja gereja, tetapi hidup dan karyanya merupakan sebuah kesaksian yang menggema bagai denting-denting Hawaian itu. Denting musik itu menggema dan tak bisa dikurung dalam botol.

Opa Bing adalah tipikal warga gereja yang memahami dan memaknai hidup berimannya dengan caranya sendiri. Ia tipe orang Kristen garam, tidak nampak dan tampil dalam simbol-simbol yang kelihatan, tapi hidup dan karyanya menggarami dunia. Ia bukan saja warga gereja Betel, warga GPM, warga kota Ambon, Maluku, Indonesia tetapi juga warga dunia, khususnya dunia musik Hawaian. Ia telah terima Karunia dari Tuhan dan dengan karunia itu ia memaknai hidupnya yang hampir seratus tahun itu.

Yang paling berkesan, sebelum ia pulang menghadap Sang Pencipta, ia telah menyiapkan sebuah lagu untuk peresmian Gereja Betel yang sedang dibangun di Mardika. “Ambil di laci nomor 3, ada di situ”ujarnya kepada anaknya. “Syair lagunya bagus sekali” ungkap Pdt Anes Toisuta, ketua majelis Jemaat GPM Betel setelah membaca lagu itu. Ia tidak akan melihat dan mendengar ketika lagunya kelak dinyanyikan saat peresmian Gereja Betel Mardika. Tetapi ia akan tersenyum di Sorga dan melihat dari atas ketika lagu itu kelak dinyanyikan saat gereja Betel dengan empat pilarnya diresmikan dengan iringan musik yang dimainkan anak bungsunya, Cliff Leiwakabessy.

Selamat jalan Opa Bing Leiwakabessy, sang maestro dan warga gereja yang humanis. Selamat berjumpa sang pemberi Karunia itu dan selamat memainkan Hawaian di Sorga mulia. Tuhan bri hibur dan berkat buat anak cucu yang ditinggalkan.

Dari pendeta jemaatmu yang menghormati dan mengasihimu (RR).