Tujuh Tanda Sadar Bencana Oleh : Elifas Maspitellla, Sekum MPH Sinode GPM 

by
Elifas Maspitellla. foto : dok pribadi

SADAR BENCANA

Apapun nama dan bentuknya, gempa Ambon-Lease-Seram memperlihatkan selain perlu mitigasi dan/atau edukasi kebencanaan, perlu pula sikap sadar terhadap bencana tersebut.

Bentuk sadar bencana, dari refleksi atas gempa Ambon-Lease-Seram itu antara lain:

1. Kecakapan memahami tanda-tanda alam, yang di era milenials ini, bukan hanya dari sistem nanaku, sebagai bentuk pengetahuan tradisional, tetapi juga melalui sumber-sumber pengetahuan lain yang lebih modern yakni aplikasi kebencanaan seperti InaRisk, BMKG, dlsb yang bisa diunduh melalui play store pada smartphone.

2. Kemampuan menyaring dan memahami informasi secara kritis. Sebab pengalaman bertutur kita, di Maluku, cenderung menambah-nambahi suatu informasi (=kasih babunga), bahkan ada semacam sikap penonjolan diri bahwa “beta yang tau kamuka”. Informasi kebencanaan yang akurat berasal dari sumber yang dapat dipercaya yakni melalui mereka yang profesional dalam bidang tersebut. Selain para ahli di BMKG, tetapi juga mereka yang secara akademis belajar geologi. Bila pakar-pakar ini ada di kampus-kampus kita, lebih baik mereka berbicara menjelaskan hal-hal ini kepada masyarakat.

Dalam konteks milenials, hoax telah menjadi teror media yang menenggelamkan kesadaran kritis. Apalagi “hoax teologis” dengan mengambil ruang simbol agama dan jabatan-jabatan agama. Perlu kesadaran kritis dengan bersikap lebih tenang, bukan untuk tidak percaya begitu saja tetapi untuk menimbang kebenarannya agar tidak menjadi korban hoax.

3. Respon cepat setempat, sebab dalam situasi bencana, kita tidak bisa menunggu datangnya tim penyelamat (rescuer). Mereka hanya subtitusi, sebab yang utama adalah respon kita secara mandiri.

4. Keterlibatan masyarakat dalam mobilisasi dan menanggulangi kondisi kedaruratan setempat. Karena kita tidak bisa merasa dan menganggap diri korban, tetapi harus berjuang di dalam keadaan kedaruratan.

loading...

5. Berkaitan dengan hal ke-4 itu maka para pemimpin setempat, di lokasi bencana, harus berada di tengah masyarakat dalam rangka menenangkan hati masyarakat dan juga mengambil kebijakan penanganan kedaruratan.

6. Solidaritas pada korban baik pada masa kedaruratan maupun pasca bencana dengan agenda-agenda utama meliputi tanggap darurat, trauma healing dan rehabilitasi fisik (atas korban jiwa maupun sarana prasarana). Di sini perlu policy making pemerintah dalam ranah TANGGUNGJAWAB NEGARA dan bukan BEBAN. Sebab dalam situasi kebencanaan di suatu wilayah solidaritas itu ada pada pribadi, lembaga sosial, agama, kemanusiaan di dalam maupun luar negeri.

7. Prevensi kesehatan diri. Oleh bencana dalam skala apa pun, pengungsi, tenda pengungsian, kekurangan sembako, sakit dan wabah, dlsb rentan terjadi. Karena itu masing-masing orang harus memelihara kesehatan dirinya sendiri/keluarga.

Dalam semuanya itu sebagai umat beragama, bencana alam merupakan bagian dari berteologi, yakni mewujudkan tanggungjawab kita untuk saling melindungi, menolong, menanggung beban seorang akan lainnya, memelihara ekosistem alam kita, dan BERDOA! Salam Solidaritas!

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *