Tunjukan Emasnya Sunset di Ambon, Designer Maluku Ini Kawinkan Karya Fotografi Dalam...

Tunjukan Emasnya Sunset di Ambon, Designer Maluku Ini Kawinkan Karya Fotografi Dalam Rancangan Busana Nan Apik

SHARE
Nelangsa emasnya sunset di Leahari dan Lembayung Nusa di Nusaniwe dua rancangan Paduan karya fotografi dan desain busana oleh perancang Maluku. FOTO : ELFIRA HEHANUSSA

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Mel Ahyar, designer kondang itu pernah melahirkan karya kolaborasi ‘Kini Abadi’ bersama maetsro seni lukis. Jeihan Sukmantoro dengan lukisan berciri mata hitam pekat menginspirasi designer asal Palembang itu membuat karya adibusana. Kolaborasi apik, dimana Mel menghidupkan kembali karya dua dimensi di atas busana rancangannya. Buah tangan Mel menjadi salah satu yang berhasil menarik perhatian.

Elfira Hehanussa dan Erica Hiariej dengan salah satu rancangan yang menunjukkan keindahan sunset. FOTO : Priska Birahy

Kesan misterius pada lukisan Jeihan berpaut dalam balutan loose dress berirama 70an. Potongannya sederhana, mengalun dan lepas. Sebuah karya seni semestinya tak bersekat, melainkan menebus ruang. Gagasan itu pula yang dimunculkan Elfira Hehanussa, designer asal Maluku. Namanya mungkin terdengar asing. Alumnus Akademi Seni Rupa dan Desain (ASRIDE) Jakarta atau yang dikenal dengan ISWI itu melahirkan karya kolaborasi lintas seni. Tak beda jauh dengan Mel, kali ini Elfira menjalin karya fotografi landskap ke atas busana rancanagnnya.

“Fotonya itu sangat indah. Foto senja. Ya coba saja gabungkan dengan busana,” sebut mantan fashion design Batik keris dan Parang Kencana itu kepada Terasmaluku.com, Jumat (14/9/2018) di Ambon. Berawal dari Efie – begitu sapaannya, jatuh hati dengan foto matahari terbenam karya Fotografer Alexander Sha. Unggahan foto di akun Instagram itu lantas direspon. Ibu tiga anak ini lalu mengajaknya berkolaborasi. Alexander jugalah yang memotret busana Efie saat diperagakan.

Sunset di Leahari dan Nusaniwe Kota Ambon punya komposisi warna menarik dimata dia. Oranye keemasan bercampur merah,magenta dan hitam seperti punya kekuatan magis. Apalagi goresan lembayung di Tanjung Nusaniwe seperti sebuah spektrum maha indah di langit Ambon. Dua foto karya Alexander itu lantas dituangkan ke atas material kain seruti. “Beta ingin ada kesan melambai dan berayun. Kain ini cocok. Dia ringan dan juga mudah dicetak,” jelas kelahiran 15 Oktober 1970.

Dia memindai foto ke atas lembaran kain dengan teknik printing heat transfer. Untuk hasilkan persepsi los, satu busana memerlukan setidaknya 3 meter kain seruti. Potongan bernada era 70an kombinasi halterneck dan asimetris satu lengan berkesan elegan dan classy. Menurut Efie ide tersebut lahir begitu saja. Terperangkap dalam rutinitas menjahit di rumah, seperti memberi dorongan besar untuknya memulai kembali kesenangan dalam dunia mode dan desain.

Nelangsa dan Lembayung Nusa, munculkan emasnya senja di Ambon. Dua karya istimewa yang jarang dijumpai. Belum banyak perancang di Timur Indonesia yang berani menebus ruang dalam berkarya tanpa meniadakan presisi dan keselarasan. Designer busana untuk Putri Indonesia itu memang ingin hasilkan sebuah kreasi yang orisinil dan berbeda.

Interpretasi sang designer makin kuat dengan dua model yang memeragakan busananya. Erica Primasari Hiariej, model berparas manis kulit eksotis ini amat mewakili warna di Maluku. Putri sulung Efie itu tampil memukau dengan karakter wajah tegas serta tone kulit gelapnya. Tidak ketinggalan Super Model Asia 2001, Fabiola Litaay, yang anggun bak Dewi Yunani dengan baju satu lengan ‘Lembayung Nusa’.

“Beta ingin tampilkan yang punya ciri Ambon. Katong seng perlu malu atau minder. Kulit coklat badan berisi pun tetap cantik. Asal percara diri,” celetuk owner B’gaya by Efie itu. Masih ada satu harapan yang ingin dikerjakannya. Yakni membuat sebuah show case di Gong Perdamaian atau pameran karya seni bersama seniman lain.(PRISKA BIRAHY)

loading...