UKG Dua Terendah, KBM Bikin Pelatihan Guru Bahasa Indonesia di Daerah

by
Peningkatan kualitas dan mutu guru perlu dilakukan hingga ke daerah daerah yang terbatas akses, seperti kegiatan Kantor Bahasa Maluku kepada tenaga pendidik di Tiakur Maluku Barat Daya, 16 hingga 19 Mei 2018. FOTO : KBM

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Potret pendidikan di Maluku sudah saatnya mendapat banyak perhatian. Hasil uji kompetensi guru (UKG) Maluku berada di posisi nomor dua terbawah. Hal itu membuktikan masih amat terbatas kapasitas guru di negeri ini. Hasil tersebut juga memberi gambaran tentang tuntutan kemajuan pendidikan yang tak sebanding dengan kualitas para tenaga pendidiknya.

Hal itu yang mendorong Kantor Bahasa Maluku (KBM) melakukan serangkaian kegiatan ke daerah- daerah untuk membenahi kualitas guru khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Arie Rumihin, penitia Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Tenaga Kebahasaan dan Kesastraan di Kabupaten Maluku Barat Daya mengatakan pihaknya tak bisa tinggal diam melihat perkembangan kualitas guru di Maluku. Kegiatan yang dilakukan seperti pelatihan membuat kalimat, pedagogi hingga permainan- permainan edukatif bagi guru maupun siswa nantinya.

Ada berbagai faktor penyebab yang harusnya segera dibenai agar hasil UKG nantinya jauh lebih baik. “Di sini lokasi sangat memengaruhi. Kalau cuaca seng bagus maka seng ada guru yang datang. Biaya juga jadi lebih mahal,” katanya kepada Terasmaluku.com di sela kegiatan yang berlangsung dari 16 hingga 19 Mei 2018 di Tiakur Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) itu.

Dia menilai lokasi dan transportasi jadi salah satu kendala besar bagi peningkatan guru di negara kepulauan ini. Tak hanya guru yang kesulitan menyeberang saat cuaca tidak baik, para staf pemerintah dari SKPD terkait pun kadang enggan turun ke lokasi yang jauh. Koneksi internet yang amat terbatas juga menyulitkan para guru mengakses informasi terbaru untuk kebutuhan mengajar maupun skill mereka.

Para staf dari KBM pun mengakui hal itu. Untuk mendapat sinyal stabil melalui jaringan nirkabel mereka harus berada pada posisi dan lokasi tertentu. Bila bergeser sedikit, sinyal hilang. Keterbatasan itulah yang menjadi salah satu faktornya. Hasilnya, segala kegiatan hanya berpusat di kota atau di daerah Maluku Tengah saja. Sementara para guru di daerah berjuang dengan tingginya ongkos dari dan menuju lokasi mengajar. Wajar, bila banyak tenaga pendidik yang berjuang seadanya serta minim pembaruan.

Secara umum Maluku punya peringkat UKG terendah ke-2 se-Indonesia. Kecuali Kota Ambon dan Malteng. Salah satu narasumber pada kegiatan itu yakni Hellena Latuputty, guru Bahasa Indonesia di Kota Masohi, Maluku Tengah. Hellena merupakan guru peraih nilai UKG tertinggi se-Provinsi Maluku berturut-turut sejak 2015 hingga 2017.

Sementara hampir semua kabupaten dan kota lain punya kualitas guru yang rendah jika diukur lewat UKG. “Ini adalah langkah Kantor Bahasa Maluku memperbaiki keadaan. Sudah terlalu sering kegiatan buat guru di Ambon. Sementara di daerah sangat kurang,” lanjutnya yang juga merupakan staf Kantor Bahasa Maluku (KBM) itu.

Meski demikian, UKG ini sebenarnya bukan tugas KBM. Kinerja dan kualitas guru merupakan tanggung jawab Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) yang menaungi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Hanya saja, rentang kendali antara MBD dan pusat yang jauh serta kondisi guru Maluku yang perlu peningkatan mendesak, maka KBM melaksanakan kegiatan tersebut.

Kegiatan KBM di Tiakur ini merupakan yang keempat dalam rangkaiaan kegiatan mereka. Sebelumnya kegiatan digelar di Maluku Tenggara Barat (MTB), Kepulauan Aru dan Seram Bagian Barat (SBB). “Tantangan kegaitan ini yakni harus himpun guru dari pulau pulau di sekitar tapi mereka punya semangat dan mau datang,” katanya optimistis.(BIR)