Unjuk Rasa Menolak Omnibus Law di Ambon

by
Unjuk rasa gabungan mahasiswa Kota Ambon menolak omnibus law, (8/10). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Gelombang penolakan terhadap Omnibus Law juga terjadi di Kota Ambon. Gabungan sejumlah organisasi mahasiswa mendatangi gedung DPRD Provinsi Maluku dan berunjuk rasa. Dalam aksi itu sempat terjadi ricuh bahkan beberapa demonstrans ditahan untuk beberapa waktu.

Suasana bagian depan kantor DPRD mendadak padat. Ratusan mahasiswa memadati lokasi sambil membawa sejumlah bendera organisasi. Unjuk rasa selama lebih dari 2 jam itu berisi penolakan dan kekecewaan mereka terhadap kebijakan pemerintah pusat yang akan mengesahkan omnibus law. Salah satunya tentang Undang Undang Cipta Kerja.

Untuk diketahui Ada empat omnibus law yang diusulkan pemerintah kepada DPR, yakni RUU Cipta Kerja, Omnibus Law Perpajakan, Omnibus Ibu Kota Baru, dan Omnibus Law Kefarmasian. Berikut isi Omnibus Law RUU Cipta Kerja dan Perpajakan.

Omnibus law Cipta Lapangan Kerja diantaranya mengatur, Penyederhanaan Perizinan, Persyaratan Investasi, Ketenagakerjaan, Kemudahan, Pemberdayaan, dan Perlindungan UMKM, Kemudahan Berusaha, Dukungan Riset dan Inovasi, Administrasi Pemerintahan, Pengenaan Sanksi, Pengadaan Lahan, Investasi dan Proyek Pemerintah dan Kawasan Ekonomi.

Loading...

Mahasiswa menilai kebijakan pengesahan itu malah akan menyengsarakan rakyat. Sejumlah poin popular yang diserukan yakni perihal kebijakan baru yang memotong upah pekerja perempuan yang sedang mengambil cuti.

“Kalau mereka yang cuti melahirkan atau haid diposting gajinya itu kemanusiaan mereka di mana. Itu poin yang kami rasa tidak etis saja,” jelas seorang mahasiswi Fakultas FISIP Universitas Pattimura Ambon yang ikut berdemosntran siang tadi, (8/10/2020).

Mereka menilai undang-undang yang mengatur tentang itu sangat jauh dari keadilan. Malah akan menyengsarakan warga. Khususnya bagi warga kecil.

Tak hanya itu ada juga aturan tentang pembayaran buruh perjam yang dinilai malah makin menekan warga. “Pendapatan perbulan saja masih tetap susah. Apalagi perhari,” lanjut seorang demonstran lain.

dalam orasi itu juga sempat terjadi kericuhan. Pihak kepolisian lantas mengamankan beberapa mahasiswa dan dibawa masuk ke dalam kedung DPRD. Sedangkan sisanya terus berorasi di luar ruangan.

Beberapa bagian gedung kantor pun tak luput dari corat-coret demonstran. Usai sejumlah organisasi bergantian berorasi, massa mengakhiri aksi sekitar pukul 14.00 WIT lebih. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *