Usung Musik Etnik, Kaihulu Rilis Album Perdana Digital

by
Kedelapan personil Kaihulu saat proses live recording di Pantai Namalatu, Nusaniwe, (7/8). FOTO: dok. pribadi

TERASMALUKU.COM,AMBON, –  Sebuah rilisan perdana album bernafas etnik hadir di musim pandemi. Kaihulu, grup anyar sarat budaya ini memberi ruang dengar baru bagi penikmat musik di Maluku.

Dengan mengusung konsep live recording delapan personil ini membungkus manis lagu-lagu khas Maluku yang mulai samar-samar. Seperti Arwan Sir Sir, Hio Hio, 5 & 9 Satu Parau, Damai Vor Maluku, We Are Musician, Syalom Assalamualaikum dan Panggayo.

Tujuh lagu ini bahkan sudah bisa dinikmati pada ragam platform digital yang tersedia. Sebagai salah satu rilisan non-fisik, Kaihulu seperti tahu betul memproyeksikan idealisme berbudaya dalam musik agar tepat sampai di hati penikmat.

“Semua platform digital sudah bisa didengar sejak tanggal 2 Agustus lalu. Bahkan di tiktok,” celetuk Celo, vokal dan menabuh tifa. Jalan ini ditempuh untuk memberikan kemudahan dan akses yang luas. Dalam wawancara singkat bersama Terasmaluku.com pada Rabu 5 Agustus 2020, mereka ingin agar musik ini tidak membangun sekat melainkan perekat.

Penyampaian pesan yang sederhana dalam bermusik adalah kunci keberhasilan. “Musik tidak usah yang susah. Biar sama kayak dulu. Sederhana tapi enak didengar,” sebut Dalenz Utrak, Vokalis grup musik regae, Amboina Bananas yang juga tergabung dalam Kaihulu.

KAIHULU

 

Kiblat musik macam ini ada pada tembang-tembang santai di era 60an hingga 80an. Siapa saja, ikut hanyut dalam irama ringan dan harmonisasi manis. Tidak butuh akrobat nada yang rumit. Hal itu ada dalam tiga lagu yang mereka ciptakan serta empat lagu lain.

Tak heran bila para personilnya, Rio Dafcar Efruan, Dalens Utrak, Celo, Rico Hiariej, Ian Pattiasina, Revelino Paais, Grace Huwae dan Lola Abrahams begitu fasih menghembuskan ruh musik Kaihulu dalam setiap lagu yang dinyanyikan.

Loading...

Kaihulu juga berkolaborasi dengan Sanggar musik Booyratan asal negeri Amahusu Kecamatan Nusaniwe. Rio Dafcar Efruan vokalis sekaligus pemetik ukubambu (ukulele-bambu) menyebut Kaihulu bukan hanya membawakan tembang-tembang orisinil daerah, tetapi memberi nyawa lewat permainan alat musiknya yang otentik.

Coba saja perhatikan video musik di kalan Youtube Kaihulu yang mereka rekam secara live di Pantai Namalatu Latuhalat. Penggunaan alat musik berbahan bambu dan gaba gaba adalah yang paling dominan. “Bukan hanya musik, alat musik tradisional dan otentik itu berarti yang bikin sendiri. Maluku jarang sekali bikin alat musik. Nah katong coba hadirkan saat live recording ada ukulele bambu (ukubambu), ukulele gaba gaba (uku gaba), tifa, suling, palu nada (material mambu) marakas,” sebut Rio.

Kita bisa dengan mudah mengenali musik dari suatu daerah dengan hanya mendengar suara yang dihasilkan dari salah satu alat musik. Selain tifa totobuang dan tahuri, orang mungkin tidak mudah mengenali suara lain.

Tidak hanya lewat nada, tapi juga alat. Cara ini sekaligus kenalkan kekentalan etnik dalam musik Maluku. Apalagi alat musik berbahan bambu yang mereka pakai punya ciri khas. Lubang suara yang kecil pada Ukubambu hasilkan resonansi yang lembut dan lemah. Tidak dominan dan tegas. Sehingga penggunaan mic sebagai pengeras suara terdengar imbang.

Di lain sisi, Rio melihat ini sebagai sebuah kelemahan seniman di Maluku. “Jangan hanya ciptakan lagu, alat musik juga. Kelemahan itu bisa diubah jadi warna musik khas kita,” tegas dia.

Dalam perjalanan membentuk Kaihulu, mereka bertemulah dengan pembuat alat musik, om Egi. Dialah yang mengenalkan Kaihulu pada beberapa alat musik bahan bambu dan gaba gaba unik miliknya. Konsep bermusik yang diusung mereka terasa kawin dengan alat-alat yang dia ciptakan.

Proses pengerjaan latihan hingga rekaman langsung digarap selama sekitar 10 hari. Bahkan tiga personil yang hadir dalam wawancara itu menyatakan hampir tidak ada retake lagu selama proses syuting berlangsung. Hanya sekali mereka mengulang. Yakni saat Dalenz keliru melantunkan lirik lantaran terpikat aura magis pada salah satu musik yang mereka bawakan. Selebihnya, berjalan lancar. Proses rekaman memang terhenti beberapa kali agar para kru membungkus peralatan ketika tiba-tiba hujan menyela.

Konsep musik etnik bakal terus dipegang Kaihulu dengan tidak membatasi diri an sich pada musik Maluku. “Rencana ke depan bukan hanya Maluku (lagu, baca). Bikin musik apa saja,” harap Rio. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *