Variasi Kuliner Berbahan Sagu di Ambon

Variasi Kuliner Berbahan Sagu di Ambon

SHARE
Es krim bahan sagu tampil unik dengan wadah kelapa muda dan sarut, sebagai garnish, merupakan salah satu kuliner yang dibuat peserta lomba makanan berbahan dasar sagu di halaman Baileo Oikumene Ambon, Senin (7/5/2018). FOTO : BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-SEJAK dulu sagu menjadi bahan baku makanan pokok orang Maluku dan Papua. Dari bahan dasar sagu terciptalah kuliner khas seperti papeda, bagia, sarut dan lainnya. Namun nyatanya kita dapat membuat lebih banyak lagi variasi kuliner berbahan sagu. Hal itu yang coba ditularkan kepada perempuan di Kota Ambon melalui ‘Pelatihan Pangan Lokal Bahan Dadar Sagu’ dan lomba makanan berbahan dasar sagu kepada sejumlah ibu ibu di Kota Ambon, Senin (7/5/2018).

Event tersebut digagas oleh Komisi Pemberdayaan Teologi dan Pembinaan Umat Klasis Kota Ambon dalam rangka HUT ke-50 Perempuan Klasis Kota Ambon. Sebanyak 16 perwakilan perempuan dari 20 jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) di Kota Ambon menunjukkan kebolehan mengolah makanan dari sagu. Terdapat tiga menu wajib yang dilbakan. “Mereka harus buat es krim sagu, mie sagu dan selai kelapa,” ujar Sekretaris Sub Komisi Kemitraan Klasis GPM kota Ambon, Pdt. Sally Lawalata kepada Terasmaluku.com di lokasi lomba halaman Baileo Oikumene Ambon.

Selesai coklat dari sagu

Sebelumnya para peserta dibekali dengan pelatihan dasar mengolah sagu. Usai itu mereka berkreasi dan membuat produk kuliner khas sendiri dari bahan yang ditentukan tadi.  Berbagai karya unik dan menarik disajikan di meja. Tak lupa presentasi penyajian apik. Seperti es krim sagu yang diwadahi dalam batok kelapa, rol kukus bahan sagu, atau mie tiga warna dengan pewarnaan alami. “Hari ini tahap penilaian nanti pengumuman tanggal 9 di Gereja Betabara,” imbuh Sally.

Menurutnya, sagu merupakan makanan pokok dan khas Indonesia Timur. Pengolahannya pun terbilang  mudah dan cepat. Tinggal dikombinasilam dengan bahan sekunder lain. “Ini katong bikin roti panggang pakai selai kelapa. Mungkin kalau su jadi bisa buat jualan to,” ujar Erna Patiwaellapia, peserta adal GPM Menara Kasih. Menurutnya ide selai kelapa adalah hal yang baru. Sebelumnya bahan baku selai yang biasa dipakai adalah buah nenas. Dia berharap nantinya ide selai kelapa dapat dijadikan peluang bisnis baru.

Adapa pula mie tiga warna kreasi ibu-ibu jemaat GPM Syaloom. Bahan baku utama yakni tepung sagu. Untuk mendapat warna kuning mereka menggunakan kunyit, mie merah memakai buat beet dan hijau dari sayur bayam. Kreasi semacam ini dinilai perlu dilestarikan. Dengan begitu warga kota dapat memiliki variasi pangan olahan berbahan sagu dengan rasa dan penyajian yang berbeda. (BIR)