Wagub Maluku Buka Suara Di Mana Selama Covid-19

by

TERASMALUKU.COM,AMBON, – Sejak corona virus disease-2019 menyerang masuk ke Provinsi Maluku, keberadaan Wakil Gubernur, Barnabas Nathaniel Orno terdeteksi ‘non-reaktif’, sekurang-kuranya pada pemberitaan di sejumlah media.

Gubernur dan wakil gubernur adalah simbol daerah. Seumpama logo BPJS Kesehtan yang menempel pada faskes, mengisyaratkan bawah ada kepastian jaminan perlindungan. Paling tidak, masyarakat tahu bahwa para punggawa itu ada bersama membawa kapal keluar dari zona merah virus corona.

Dari jejak pemberitaan media daring, kali pertama wagub berkomentar terkait covid-19 saat pasien pertama asal Bekasi sembuh. Itu tercatat pada 17 Maret 2020. Sedikit mundur ke tiga bulan belakang, Orno memberi pernyataan terkait lacak jejak dan langkah antisipatif agar virus ini tidak lekas menyebar.

Usai itu tak banyak media yang memuat orang nomor dua di Maluku kaitannya dengan covid-19. Kehadiran di ruang publik dan kantor pun tak jauh beda. Kemana bapak usai berbicara soal corona.

FOTO: Terasmaluku.com

Dia lalu kembali muncul di pemberitaan media usai mengunggah video di kanal youtube pada 8 Mei 2020. Isinya tentang ungkapan bela sungkawa atas keluarga pasien meninggal terkonfirmasi positif. Saat itu, kondisinya sudah ada dua (2) pasien meninggal. Pedagang pasar Mardika inisial LS dan MM.

Dari situ mencuat pertanyaan di publik. Di mana wagub selama ini. Di hampir setiap pemberitaan, tim gustu baik itu ketua gugus tugas pencegahan dan penanganan (GTPP) covid-19 serta ketua harian GTPP-lah yang paling sering bersuara.

Terutama sejak Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 440/2622/SJ tentang Pembentukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di daerah.

Jabatan Ketua GTPP yang sebelumnya diemban sekretaris daerah (sekda) berganti ke pimpinan daerah, gubernur. Begitu seterusnya di tingkat kota dan kabupaten. Jika dicermati, pada poin 2b surat edaran tertuang; Penyusunan susunan organisasi, keanggotaan, dan tugas pelaksanaan gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 di daerah berpedoman kepada lampiran dan merupakan bagian tidak terpisah dari SE ini. Tidak dirinci jabatan wakil gubernur dalam susunan tim gustu seperti tertuang di SE Mendagri.

Dalam sebuah kesempatan usai konferensi pers, Sekda Maluku yang menjabat Ketua Harian GTPP, Kasrul Selang sempat menyebut jika Orno sebagai pembina. Itu diucapkannya kepada awak media saat hendak meninggalkan lobi kantor Gubernur Maluku. Bisa jadi ini kaitannya saat Kasrul bertemu wagub Maret lalu dan meminta masukan terkait penanganan covid-19 usai kesembuhan pasien kasus 01 asal Bekasi. Ini dapat dicek. Media lokal memuatnya pada 17 Maret 2020. Orno pun dalam wawancara menyebutnya.

Untuk memastikan itu semua, Terasmaluku.com mencoba menghubungi wakil gubernur Maluku melalui salah seorang stafnya. Ada permintaan untuk membuat rincian pertanyaan tertulis sebagai acuan sebelum diberikan lampu hijau tanda setuju.

Ada empat pertanyaan yang disodorkkan melalui pesan singkat whatsapp yang tak menunggu lama untuk dibalas.Namun itu berkembang dan berubah saat wawancara berlangsung. Terutama saat Orno menjawab pertanyaan pertama.

Berikut wawancara Wakil Gubernur Maluku, Barnabas Nathaniel Orno bersama Terasmaluku.com Sabtu, 31 Mei 2020 pukul 18.30 WIT di halaman samping rumah dinas wagub, Karang Panjang Ambon.

Sore Pak Abas, posisi bapak sekarang kan di gustu adalah sebagai pembina, sampai sejauh mana bapa ada dalam struktur tim dan perannya dengan anggota tim lain?

*Saya kaget pertanyaan itu. Saya kaget pertanyaan dari anda bahwa saya ada di gugus tugas penanganan covid-19 Maluku dan sebagai pembina. Karena sampai hari ini saya belum pernah dapat surat (SK) atau pernah diundang untuk bersama-sama bicarakan tugas ini. Makanya sampai dengan hari ini saya seperti begini. Kenapa, mungkin ada yang pasti bertanya kemana saja saya.

Sebagai wagub, pegawai publik andai kata saja sering saya ada di kantor dalam suasana ini, wartawan pasti bertanya. Bisa saja saya salah bicara. Soal covid ya. Bisa saja bicara saya beda dengan bicara tim. Yang pasti sekali lagi saya kaget, bahwa saya ada dalam tim covid sebagai pembina dan apa saja peran. Sampai hari ini saya tidak diberi tahu secara resmi apa keptusannya atau pernah diundang bicarakan sama sama dari awal, tidak pernah. Kira-kira itu.

Lalu kalau memang bapak belum tahu dan kaget (disebut pembina, red), sampai sejauh ini bapak berkomunikasi dengan anggota (tim gustu) yang lain atau dalam struktur seperti apa dan sampai mana

*Ada beberapa kali sekda masuk ke ruangan cerita-cerita soal ini. Beliau minta saran. Tapi saya bicara seadanya saja. Karena saya menyadari posisi saya sebagai wakil gubernur doang. Sementara aktivitas yang sekarang berjalan kan lebih kepada bagaimana penanganan covid. Saya omong sebatas sebagai seorang wakil gubernur.

Meskipun tidak ada SK dan undangan resmi, tapi apakah ada dalam diri bapak sebagai pimpinan untuk ikut serta?

*Saya punya kepedulian dengan cara saya. Di luar tim. Saya beberapa kali ada menghimbau lewat media, lewat youtube. Bahkan saya nyatakan bela sungkawa terhadap yang meninggal. Kemudian secara tidak formal saya dengan tokoh masyarakat yang ketemu saya, tokoh pemuda atau dengan anak muda saya berikan pengutan kepada mereka. Mungkin itu yang saya perankan selama ini berikan penguatan kepada mereka. Penguatan, secara tidak resmi. Kalau secara resmi kandipublikasikan kan. Tapi biarlah sudahlah manusia tidak tahu publik tidak tahu bahwa saya ada ketemu orang, yang penting Tuhan tahu.

Tapi dengan kapasitas sebagai pemimpin daerah wakil pimpinan daerah dengan ketidakhadiran itu memunculkan pertanyaan persepsi macam-macam dari masyarakat. Bagaimana meyakinkan masyarkat bawa ini diri bapak sebagai wakil pimpinan.

*Saya bukan tipe orang, sebelum saya seperti ini saya PNS, saya camat, kemudian beberapa jabatan di kantor bupati MBD, wakil bupati dan bupati. Saya bukan tipe pemimpin yang berbuat sesuatu lalu kemudian bagaimana juga eksposnya seimbang. Saya lebih percaya, saya selalu meyakini, yang penting tuhan tahu. Sekalipun mungkin orang bertanya, kenapa pak wagub tidak hadir. Kan juga saya menjaga norma. Saya menjaga norma. Saya juga menghindari polekmik dan wacana. Kalau saya diam begini itu artinya bahwa saya menjaga norma pemerintahan. Sekalipun orang berprediksi di luar sana tapi saya menjaga biar suasana tidak ada poliemik tidak ada wacana.

Tapi kebetulan hari ini ada, adik-adik (wartawan, red) datang, ya saya harus bilang. Saya tidak pernah bilang kalau saya tidak dilibatkan. Kalau tanpa pertanyaan, karena ini wartawan itu kan harus memberikan informasi ke publik. Saya juga tidak mungkin berbohong. Kalau ndak saya tidak mungkin bicara sendiri. kalau saya publiskan seakan-akan seperti apa. Kan saya tidak mewakili tim covid. Saya tidak mau overlapping. Bisa saja orang bilang overacting nanti. Bukan berarti saya diam. Saya di sini juga ada orang-orang datang. Ketemu saya cerita. Saya berikan penguatan, jaga diri baik-baik.

Makanan yang sehat adalah makanan-makanan lokal, rempah-rempah yang sehat adalah rempah lokal, cengkeh pala lengkuas itu lebih sehat jadi kalau suasana covid begini mending kita makan makanan lokal. Nah, itu cara saya. Apa mesti saya ketemu orang lalu saya panggil wartawan; Ei.. tadi saya ketemu. Tidak perlulah orang tahu yang penting tuhan tahu.

Terlepas dari itu anggap kita bicara sebagai salah satu pimpinan daerah salah satu simbol di daerah, masyarakat butuh simbol. Dengan realita seperti ini bahkan prediksi klimaksnya pada akhir Juni. Dengan cara bapak sendiri, kira-kira bapak saat ini rencanakan apa buat daerah bapak?

*Andai kata saya bisa bicara saya ingin bilang, bahwa jangan melihat saya ada di rumah dan diam. Tapi justru saya gelisah. Saya gelisah kenapa? Karena kepala daerah wakil kepala daerah dipilih secara bersama dan hari ini persoalan covid yang kita hadapi ini adalah persoalan terhadap publik.

Sebenarnya pikiran saya dulu kalau masih ingat, saya pernah, awal-awal covid saya pernah diwawanacarai. Waktu itu pak sekda ketemu saya dan saya sarankan bahwa orang Bekasi itu mesti dia diusahakan ditemukan dan dicek siapa-siapa yang bersama dia, teman, atau sudara atau siapa. Jadi semuanya harus dites. Kemudian pegawai amaris. Seluruh pegawai amaris harus di tes. Dan kalau perlu minta baik-baik ke pihak Amaris untuk Amaris itu disterilkan dulu.

Kemudian kedua, wacana anak-anak sekolah kan kalau bisa libur atau tidak. Saya sarankan buat sekda, pak sekda sampaikan ke pak gubernur kalau bisa anak-anak sekolah di liburkan. Dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Lalu Kemudian para pegawai itu kalau bisa diatur, sehingga tidak semuanya harus masuk kantor. Nah, sekarang kan sudah diatur saya lihat sudah bagus.

Kemudian yang berikut, waktu itu pikiran saya begini. Tenaga medias adalah garda terdepan. Ya kan. Jadi waktu itu Saya bilang ke sekda, karena waktu itu belum tahu kalau ada kebijakan pempus untuk ada kebijakan anggaran. Jadi saya bilang buat pak sekda, kita punya anggaran dana bencana alam kan ada.

Mungkin saja itu tidak cukup. Tapi bagaimana bicara dengan DPRD sehingga dapat persetujuan DPRD sehingga dana benacana alam itu paling tidak kita memfasilitasi rumah sakit, bukan saja RSUD tapi RS termasuk swasta yang ada di Ambon dengan paling tidak peralatan yang minimal sekalipun. Tapi representatif sehingga tidak tunggu lama.

Waktu itu saya belum tahu dengan istilah APD, awal awal itu. Paling tidak tenaga kesehatan harus dilengkapi dengan prasarana kesehatan. Karena mereka ini terdepan. Bayangkan kalau mereka ini semua terinfeksi bagaimana penangannya. Itu waktu itu.

Loading...

Nah, sekarang sudah seperti ini. Saya kira kalau kita mau upayakan belum ada kata terlambat. Nakes memang harus betul-betul APD-nya dilengkapi.

Mereka yang dikarantinakan, hari ini kan ada empat (4) RS, termasuk diklat (bpsdm) itu kan sudah ditempati dan sudah terbatas hanya tersisa beberapa tempat tidur yang kosong.  Mesti sekarang harus cari alternatif lain. Kita tidak tahu kedepan seperti apa. Covid ini bagaikan sel. Ini bagaikan musuh yang tidak kelihatan. Mesti siapkan fasilitas cadangan, mau gedung atau apa. Kita siapkan.

Lalu terhadap misalnya kasur dan sprei itu jangan dibeli di pasar. Menurut saya jangan dibeli di pasar. Tapi pengadaan khusus supaya steril. Mudah-mudahan tidak, ini saran saya, siapa tahu kalau kita beli di pasar siapa tahu virus itu ada di luar sana.

Kemudian saya kira mudah-mudahan saja, soal makanan. Oleh mereka yang dikarantina. Mesti makanannya penuhi standar gizi sehingga mereka bisa sehat.

Lalu kemudian yang berikut, covid ini hari ini semakin bertambah bisa saja kedepan ini kalau pemberlakukan PSBB yang lebih ketat lagi bisa saja masyarakat kita kesulitan makan. Nah sekarang kita sudah musti berpikir untuk memberdayakan masyarakat terhadap pangan lokal. Sebab kita tidak tahu ini akhir kapan. Sebagai wakil gubernur Maluku, saya percaya semoga tuhan bisa menolong kita dan segera sembuhkan penyakit.

Tapi sebagai manusia kita harus punya strategi, kita tidak tahu kapan. Mesti kita ada program pemberdaayan jadi masyarakat desa hari ini kita beri pendampingan atau motivasi untuk mereka menanam pangan lokal; singkong, jagung sayur dll. Itu mesti harus disiapkan dipikrikan.

Lalu kemudian terhadap bagaimana putus mata rantai ini kalau pemerintah bekerja sendiri atau tim sendiri tidak cukup. Tidak bisa. Harus libatkan seluruh elemen masyarakat. Karena apa, sesungguhnya covid ini bisa putus tergantung masing-masng orang memperoteksi dirinya. Bukan soal pemerintah atau bukan soal tim.

Ini kita mesti bisa yakinkan masyarakat. Saya sarankan bagaimana kalau bisa di seluruh kelurahan, desa-desa kita manfaatkan itu. Kita duduk bersama dengan para stakeholder, para imam, kepala adat, kepala desa, kelurahan, pimpinan umat semua untuk mereka ini yang buat pendampingan dan penguatan.

Masyarakat kita miskin bukan saja karena kekurangan sumber daya alam dan soal akses. Bukan semata-mata itu. Tapi soal motivasi, penguatan. Kalau andai kata stakeholder kita duduk bersama saya kira masyaraat akan penuh kesadaran. Kalau terjadi PSBB misalnya, saya kira tidak mungkin. Kecuali itu mungkin, kalau kita berpikir tentang mereka yang punya penghasilan harian. Iya kan.

Seperti sopir oto, ojek, abang becak, mereka yang berjual di pasar. Karena dia kalau tidak bisa keluar kan tidak bisa makan kan. Bisa implikasi ke masalah sosial yang lain. Mereka ini, kita harus perhitungkan juga supaya mereka disantuni. Supaya tidak usaha keluar. Kita tartekan berapa bulan. Sopir oto, abang becak dll tidak boleh keluar, disantuni perbulan berapa. Kalau cukup kita buat ini di ibukota provinsi, bisa berpengaruh positif terhadap kabupaten kota yang lain.Kalau tidak pikir penghasilan mereka maka bisa munculkan masalah-masalah lain. Masalah sosial yang lain.

Sekarang saya di rumah makan makanan lokal. Singkong, jagung, terbiasa. Dan itu sehat. Kelor, jagung hasa kacang merah. Beras campur jagung. Kita punya makanan leluhur itu. Jadi saya sarankan ini dan hadapi covid ini kita makan makanan lokal. Kita cukup pakai bumbu pabrik. Cukup pakai bumbu pala, cengkeh, lengkuas lada itu pasti sehat.

Kita walaupun punya pengadaan sembako, katakanlah sampai kapan. Mungkin efektif tapi  tidak efisien, mungkin efisien tapi tidak efektif. Coba lihat ada bedeng di sana. Kita mau tanam jagung dan sayur. Kita harus kembali ke kearifan lokal. Ini juga tuhan menguji kita. Jadi saya sarankan kita ke sana (pangan lokal).

Kembali ke belakang, menyantuni pekerja harian. Apakah tidak terlalu terlambat, setelah anggaran sudah disiapkan untuk sembako dan lain-lain?

*Saya tidak bicara soal terlambat atau tidak. Saya takut saya salah. Dianggap salah. Tapi saya bicara ini pikiran maju. Kalau kita mau putus mata rantai itu kecuali orang tidak turun ke jalan. Yang ada di jalan ini sopir, orang papalele itu hidup mereka. Kita mau larang mereka seperti apa. Kira-kira makan apa. Kalau kita bisa berpikir dan santuni mereka berapa bulan misalnya, saya yakin kita bisa meminimalisir virus.

Beberapa waktu lalu pernah saya bertanya ke gugus tugas kota soal ini.  Kalau covid masalah proteksi diri sendiri seperti yang bapak bilang, misalnya pemerintah tidak hanya bagi sembako, tapi juga bagi vitamin. Sebab perkiraan jumlah pasien meningkat dan keterbatasan menampung. Terpikiran itu tidak untuk bagi vitamin gratis ke masyarakat?

*Sebenarnya itu simultan mesti. Dan tadi saya katakan bagi vitamin bagi motivasi dorongan kepada masyarakat untuk segara kita tanam makanan lokal. Karena sampai kapan kita bagi sembako. Vitamin itu penting.

Dan kemudian mereka nakes harus pikir soal APD mereka. Soal kelengkapan lain sampai soal gizi. Saya kira menurut saya itu. Sekarang ini TIM Covid baik kota atau provinsi sudah harus berpikir soal fastilitas alternatif, kalau terjadi lonjakan. Termasuk pemberian vitamin. Itu penting. Dan anggaran yang dikeluarkan mestinya lebih kepada itu. Pikiran saya. lebih kepada itu.

Karena kita tidak bisa bicara-bicara lagi, harus action. Gak bisa kita sekadar bicara atau umumkan. Mesti siapkan gedung lain sebagia alternatif. Kita tidak tahu ke depan seperti apa. Mudah-mudahan mata rantai ini berhenti. Tapi kalau dia tiba-tiba meledak, kira-kira seperti apa. Ya pastilah pemerintah punya tanggung jawab beri rasa nyaman ke masyarakat.

Apa pandangan bapak terhadap kebijakan yang selama ini diterapkan tim gustu di provinsi. Apakah itu yang diturunkan dari pusat sudah sesuai di Maluku atau belum?

*Kalau itu saya belum bisa komentar. Minta maaf ya.

Pertanyaan terakhir. Masyarakat bertanya Pak Abas selama ini di mana.

*Melihat kembang dipetik mau marah tapi tak kuasa. Saya dengan pak gubernur berposes maju itu kami berjuang sama-sama. Kamu punya satu visi dan satu misi. Tentunya kami berdua punya idealisme untuk bangun negeri ini. Itu mimpi besar. Tapi kalau toh ada pertanyaan, ini karena ada pertanyaan ya (ditanyai wartawan), pak wagub sekarang di mana. Ternyata saya ada di rumah. Saya ada di rumah.

Saya bukan ditunjuk bukan diangkat, tapi saya berjuang bersama. Tapi memang aturan mengatakan bahwa kewenangan menandatangani itu adalah kepala daerah. Tapi saya kira wakil kepala daerah kan bersama-sama. Kalau andai kata kita bicara, bisa bicarakan bersama, kepala daerah bikin apa wakil kepala daerah bikin apa nanti pertanggungjawabnnya ke kepala daerah kan wagub bikin apa. Tentunya saya akan laksanakan tugas saya. Tapi kalau tidak ada tugas kepada saya, saya berbuat apa? Apa saya harus over acting. Seperti yang anda lihat sekarang. Makanya tadi saya bilang, walaupun saya tidak kelihatan, tapi dengan cara saya. Sekali lagi saya bilang dengan cara saya. Saya memilih begini karena masanya kan masih penanganan covid.

Ya gimana kalau saya mau bilang. Saya harus melakukan sesuatu itu karena itu secara resmi tugasnya itu. Ya seperti begini. Saya sayang, dalam posisi begini saya sangat, sebenarnya saya gelisah, sih. Gelisah kenapa? Karena begitu besar  harapan masyarakat kepada kami. Walau saya wakil kepala daerah saya kemarin kan saya pasti berjanji. Tapi seperti ini. Andai kata diputar arah jarum jam ke belakang, saya tidak mau seperti ini.

Apa ada upaya untuk mesra dan bersama-sama… ?

*Ndak! Saya tidak katakan kami ada konflik. Saya tidak mengatakan itu. Tapi mestinya kita manusia kan merasa, pasti merasa. Saya bukan tiba-tiba jadi wakil kepala daerah. Saya mantan kepala daerah. Saya belum berakhir lho sebenarnya. Saya sudah merasakan dunia ini seperti apa. Saya bukan datang ke sini dan baru memulai sesuatu. Dan saya juga tidak mau dianggap bahwa saya mencari cari apa ya itu. Saya …. tidak. Demi Maluku. Saya mengambil posisi diam juga kan itu jauh lebih bagus. Dari pada saya, ibarat berjalan tanpa rem tanpa kompas. Saya ambil posisi di rumah diam itu kan juga kompas. Demi Maluku.

Ini karena adik-adik bertanya –tolong ditulis ini ya- makanya saya jawab. Kalau ndak saya juga tidak mau bicara. Saya kira begitu.

Bagaimana katong berperan aktif lawan covid-19?

*Pertama saya minta maaf kepada seluruh masyarakat Maluku. Ketika bertanya-tanya saya kemana, saya ada di mana, jangan-jangan saya duduk dan diam saja. Saya yakini itu dari pertanyaan pers. Saya minta maaf beribu maaf. Sekali lagi saya bilang. Saya di rumah tapi bukan berarti saya tidak berpikir tentang Maluku. Tapi ya… saya, di rumah saja, kalau dimana-mana kalau ada ketemu saya berikan penguatan. Mungkin sementara ini fungsi saya seperti itu.

Lalu kemudian maluku ini kan bukan MBD saja, bukan Maluku Tenggara saja, Maluku Tengah saja, Dobo saja, Maluku itu punya keragaman, punya kemalukuan. Jadi saya imbau masyarakat kembali ke kearifan lokal. Orang Ambon konsumsi makanan kearifan lokal. Masyarakat MBD makanan utama jagung dan kacang. MTB, Kembali ke bakar batu umbi umbian. Malra makan enbal.

Kalau kita konsumsi dengan rempah itu luar biasa indahnya, dengan ikan kuah kuning, ikan kuah bening, sayur kelor, bayam, kangkung,dan daun kasbi. Karena saya di rumah, hari ini makan makanan lokal. Itu ada bedeng. Dan di kompleks nanti sudah ada jagung yang bertumbuh. Makanan lokal adalah anugerah tuhan bagi kita. Kita harus bangga.

Berdoa dan kembali ke kearifan lokal, kita akan terhindar dari corona. Dan saya minta stakeholders membantu pemerintah juga tim covid. Pemerintah dan tim buat apa saja tentunya tidak terlalu efektif. Tapi paling efektif kita keluar dari sini tentunya masing-masing proteksi diri sendiri. (PRISKA BIRAHY)

BACA ARTIKEL MENARIK LAIN PRISKA BIRAHY 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *