Spanduk dan Baliho Bekas Kampanye Bisa Dipakai Untuk Kebutuhan Rumah

by
Spanduk dan baliho bekas kampanye sebagian masih disimpan di kantor Pol PP Ambon (22/4). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM – Satpol PP Kota Ambon menurunkan sebanyak 5.000 item alat peraga kampanye (APK) dari lima kecamatan di Kota Ambon. Sampah bekas kampanye itu sebagian telah dimusnahkan dan sebagian lagi disimpan untuk masyarakat yang membutuhkan.

Spanduk, baliho, hingga falyer yang ditempelkan selama proses kampanye di Kota Ambon telah rampung dibersihkan. Kepala Satuan Pol PP Ambon Josias Loppies mengatakan alat peraga kampanye itu merupakan hasl penertiban dari 5 kecamatan.

Ada yang masih utuh ada juga yang telah dilepas oleh warga. Menurut Josi mereka sengaja menyimpan sebagaian sampah APK sebab ada warga yang masih mencari bekas APK itu. “Warga setiap hari ada yang datang buat minta. Saat pelepasan APK pun ada yang langsug minta. Buat penutup atap atau apa begitu. Ini kan musim hujan,” jelas Josi saat ditemui di kantornya Senin siang (22/4/2019).

Spanduk dan baliho yang berukuran besar biasanya digunakan sebagai pelindung rumah oleh warga. Ada juga yang memakai untuk kebutuhan lain di kios atau menutup tong. Sejak penertiban terakhir pada 17 April lalu pihaknya masih menyimpan sejumlah APK di kantor hingga seminggu ke depan.

“Siapa tahu ada warga yang masih mau. Silahkan ambil di kantor saja. Tadi pagi saja ada yang minta,” terang mantan Kabid Ketertiban dan Ketentraman Satpol PP Kota Ambon itu.

Kayu-kayu bekas baliho pun ada yang sudah diambil warga untuk kebutuhan di rumah. Nantinya jika lewat waktu penyimpan, APK bakal dikirim ke tempat pembuangan sampah umu di Toisapu.

Terkait jenis sampah, Josi menyebut baliho juga spanduk dari calon legislatif kota adalah yang terbanyak. Sedangkan lokasi penertiban APK terbanyak ada di tiga kecamatan yakni di Bagula, Sirimau dan Nusaniwe. Tiga kecamatan itu menyumbang sampah APK terbanyak. Belum lagi beberapa stiker yang ditempel pada tiang atau dinding rumah.

Josi tak menampik hingga kini masih ada beberapa lokasi yang masih ada wajah caleg. “Itu stiker biasanya. Dia terlalu keras (rekat) jadi susah cabut,” katanya. (PRISKA BIRAHY)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *