Warga  Muslim Leihitu Bantu Renovasi Gereja Galala Ambon

by
Warga Muslim Hitu ikut membantu renovasi Gedung Gereja Imanuel Desa Galala Kota Ambon, Selasa (17/1).

AMBON-Kerukunan  umat beragama  ditunjukan masyarakat  di Pulau Ambon. Warga Desa Hitu Lama dan Hitumessing Kecamatan Leihutu Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Ambon yang penduduknya beragama Muslim  membantu renovasi  gedung  Gereja Imanuel Galala Kecamatan Sirimau Kota Ambon, Selasa (17/1).

Warga Muslim Hitu antusias membantu renovasi Gereja Imanuel yang dibangun  sejak tahun  1956 ini. Sebagian  warga Muslim bersengkok haji, naik diatas gedung gereja, bergotong royong bersama warga Galala membongkar atap gedung gereja dan material lainnya yang sudah rusak. Sesaki warga Muslim dan warga  Gagala, yang berpenduduk Kristen  ini berpelukan, saling tertawa lebar tanpa ada sekat perbedaan agama diantara mereka.

Loading…

Tradisi warga Muslim Hitu  membatu pembangunan gedung Gereja di Gagala ini sudah berlangsung lama.   Warga Hitu memiliki hubungan Pela atau persaudaraan dengan warga  Galala.  Kepala Desa Galala Johan Van Capelle menyatakan,  hubungan Pela antar Galala dan Hitu  berlangsung sejak 1959. Dimana kedua negeri sepakat mengangkat Pela,  membangun hubungan persaudaraan dalam suka dan duka.

“Dalam setiap kegiatan  di Galala dan Hitu, kami selalu melibatkan pemerintah negeri bersama  masyarakatnya. Buktinya  kegiatan  renovasi gedung Gereja Imanuel  Galala, dimana warga Muslim Hitu ikut membantu kami. Ini wujud komitmen kami dalam hubungan pela, persaudaraan sejati kami,” kata Johan.

Ia menyatakan, hubungan Pela  diantara mereka terus  dipelihara,  melalui  Panas Pela yang sering  digelar sehingga hubungan persaudaraan diantara mereka tetap kokoh. Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya Pemprov Maluku menjadikan Maluku sebagai laboratorim kerukunan umat beragama di Indonesia.

Ketua Majelis Jemaat GPM Imanuel Galala Hative Kecil Pendeta Joice Saimama mengatakan, pelaksanaan pembongkaran sampai dengan pembangunan gereja melibatkan  warga dari  Hitu Lama dan Hitumesing.  Menurutnya,  sejak awal peletakan batu pertama pembangunan gereja pada  12 Juli 2016  sudah melibatkan  warga  muslim pada dua negeri itu.   Raja Hitu Lama dan Penjabat Hitumesing ikut dalam peletakan batu pertama.

“Dan ketika pembongkaran gedung gereja  maka hal ini menjadi tanggung jawab bersama.  Selain itu, dalam Gereja Imanuel ini ada 12 tiang yang merupakan sumbangan dari  negeri  Hitu Lama  dan Hitumessing sehingga itu akan kita jaga,” katanya.
Sementara itu Raja Negeri Hitu Lama Salhana Pelu menyatakan, masyarakat Hitu Lama ikut  dalam pembongkaran  Gedung Gereja Galala bukan hal yang baru.  Karena menurutnya  sejak awal pembangunan gereja  pada 1956 masyarakat Hitu sudah terlibat.

“Saat  pembangunan gedung gereja, warga  Hitu ikut menyumbangkan tenaga dan material. Kami terpanggil sebagai  anak-anak negeri yang memiliki hubungan Pela dengan Galala. Warga kami  datang  dengan sukarela  untuk membantu basudara Galala merenovasi gereja,” katanya. Menurutnya, komitmen hubungan pela dengan Galala telah terjalin sejak lama, dan setiap ada kegiatan pada dua negeri tersebut, selalu  melibatkan warga Hitu Lama dan Galala.  (ADI)