Warga Negeri Pelauw dan Hitu Karantina Warganya Dari Pulau Jawa

by
Warga menggelar olahraga bersama di masa karantina mandiri di sebuah gedung sekolah di Negeri Hitu Lama, Jumat (3/4/2020). FOTO : GUGUS COVID-19 MALUKU

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Berbagai upaya dilakukan untuk memutus mata rantai virus corona atau COVID 19 di Maluku. Tidak hanya pemerintah, tapi juga dilakukan warga dengan melakukan karantina mandiri kepada warga yang baru datang dari kota-kota di Pulau Jawa, zona merah pandemi corona.

Seperti dilakukan warga Negeri Pelauw Kecamatan Pulau Haruku dan Negeri Hitu Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Warga tidak boleh pulang ke rumah berkumpul bersama keluarganya, harus mengikuti masa karantina selama 14 hari.

Di Pelauw, warga mendirikan Posko kesehatan serta ada tenaga medis dan aparat keamanan setempat. Setiap warga yang tiba dari luar Maluku, terutama kota-kota di Pulau Jawa yang masuk zona merah pandemi virus corona menjalani karantina mandiri di Kantor Desa Pelauw.

Warga menjalani masa karantina mandiri di Pelauw. FOTO : GUGUS TUGAS COVID-19 MALUKU

Hal yang sama juga terjadi di Negeri Hitu. Puluhan warga asal Hitu yang tiba dari berbagai kota mendapatkan karantina mandiri di sebuah sekolah di Hitu Lama. Untuk menjaga kesehatan, tiap pagi warga yang dikarantina mengikuti olahraga bersama yang diberikan petugas posko dan aparat keamanan. Makanan untuk warga yang dikarantina juga disediahkan.

Loading...

Ketua Harian Gugus Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Maluku, Kasrul Selang mengatakan sejumlah desa di Malteng sejak awal April sudah melakukan karantina atau isolasi secara mandiri bagi warga yang pulang kampung. Upaya ini merupakan inisiatif warga sendiri tanpa perintah pemerintah daerah.

Menurut Sekda Maluku ini, karantina mandiri dilakukan untuk memastikan warga yang datang, terutama dari daerah pandemi corona tidak tertular virus Covid-19. “Jika pada masa karantina ditemukan ada kasus, maka dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan khusus, namun bila tidak ada penyakit maka mereka diperbolehkan pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarganya,” kata Kasrul kepada Terasmaluku.com, Jumat (3/4/2020).

Kasrul berharap apa yang dilakukan warga Negeri Pelauw dan Negeri Hitu menjadi contoh bagi desa-desa lainnya agar melakukan hal sama. “Kami berharap desa-desa lainnya juga melakukan hal yang sama karena saat ini banyak sekali warga pulang kampung. Semua yang dilakukan ini untuk menjaga kesehatan warga, agar kita semua terhindar dari virus corona,” kata Kasrul.

Data Gugus pencegahan dan penanganan Covid-19 Maluku, sejak 30 Maret hingga 3 April tercatat sudah masuk 4.444 orang dari luar Maluku.  Ribuan warga itu masuk lewat Bandara Pattimura dan Pelabuhan Yos Soedarso Ambon. Sebanyak 3.882 yang harus melakukan isolasi mandiri, sementara 562 di isolasi di Diklat yang ada di Kota Ambon.

Mereka yang diisolasi ini adalah warga yang tidak memiliki KTP dari Maluku. Namun hingga Jumat siang, warga yang diisolasi di Diklat tertinggal 101 orang, sebagian lainnya sudah diizinkan keluar karena tidak ditemukan ada kasus.

“Kita berharap masyarakat patuh. Ini untuk kepentingan bersama. Bukan untuk pemerintah. Apa yang disampaikan Gubernur Maluku dalam maklumat jelas, demi rakyat Maluku agar bebas dari virus corona,” kata Kasrul. (ADI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *