WAWANCARA : John Ruhulessin, Angkatan Muda GPM Anak Kandung Publik

by
Pdt Dr John Ruhulessin. FOTO : ISTIMEWA

JELANG perhelatan Kongres Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) yang akan berlangsung 25-27 Oktober 2020 di Ambon,Terasmaluku.com berkesempatan mewawancarai Pendeta Dr John Ruhulessin, mantan Ketua Pengurus Besar Angkatan Muda GPM periode 2000-2005.

Dalam wawancara itu, dosen senior Fakultas Teologi UKIM ini selain memberi apresiasi kepada seluruh kader AMGPM tetapi juga memberi asupan gagasan dan pikiran yang diharapkan makin mendinamisir wadah ini bukan saja sebagai anak kandung gereja tetapi juga anak kandung publik. Berikut petikan wawancaranya:

Terasmaluku.com(TM): Apa yang hendak disampaikan berkaitan dengan perhelatan Kongres ke-29 Angkatan Muda GPM 2020?

John Ruhulessin (JR). Pertama-tama saya menyampaikan apresiasi dan selamat kepada teman-teman Pengurus Besar AMGPM yang telah melaksanakan tanggungjawabnya dalam periode ini. Tentu apresiasi dan terima kasih pula kepada rekan-rekan Panitia, para peserta Kongres dan seluruh kader Angkatan Muda yang ada di provinsi Maluku maupun Maluku Utara. Saya mengajak kita semua mendukung dan mendoakan agar kongres ini dapat berlangsung dengan lancar dan sukses.

TM: Apa keunikan Kongres saat ini dibanding sebelumnya?

JR: Tentu saja ada yang unik. Kongres ini dihelat saat kondisi pandemi covid 19 belum juga reda. Kita semua masih berjuang untuk mengatasi penyebaran virus ini. Salah satunya adalah menghindari kerumunan. Uniknya, kawan-kawan Pengurus Besar dan Panitia berani memilih suatu metode yang aktual saat ini yakni melalui jejaring virtual. Ini tentu menarik sekali. Kondisi kovid 19 tidak mematikan inisiatif dan prakarsa orang-orang muda untuk membuat terobosan. Sekali lagi, saya memberi apresiasi yang tinggi terhadap pilihan ini. Tapi faktor sosiologis lainnya juga adalah kita memang sedang hidup pada konteks masyarakat digital, sehingga tentu menjadi aneh jika kita tidak memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Jaman sudah berubah, kita juga mesti mampu beradaptasi.

TM: Bicara tentang adaptasi, apa yang perlu diperhatikan generasi muda pada umumnya dan khususnya AMGPM saat ini di tengah perubahan yang begitu cepat ?

JR: Saya rasa kita semua sepakat bahwa perubahan itu sesuatu taken for granted, yang tak terelakan. Konteks saat saya memimpin AMGPM lima belas tahun lalu tentu beda dengan konteks saat ini. Saat itu (2000) dalam konteks Maluku kita sedang memasuki fase recovery pasca konflik 1999, kita berjuang untuk membangun saling percaya (trust) lintas agama, dan memulihkan trauma-trauma. Kondisi saat ini sudah jauh berbeda. Kita tidak hanya menghadapi persoalan lokal, tetapi peta persoalan nasional dan global juga kian dinamis dan kompleks. Oleh sebab itu generasi muda mesti punya daya adaptasi tingkat tinggi. Mereka harus berani mereposisi diri agar tidak ketinggalan zaman.

TM: Dalam kaitan dengan dinamika Kongres nanti, apa yang perlu mendapat perhatian peserta?

JR: Tentu ada mekanisme dan prosedur organisasi yang akan dipedomani. Itu bersifat internal. Tapi saya rasa, dan ini sudah saya katakan saat menyampaikan kajian tema dan sub tema Kongres beberapa hari lalu, bahwa AMPGM bukan saja merupakan anak kandung gereja, tetapi juga anak kandung publik. Artinya, AM GPM bukan hanya melayani di gereja tetapi ia ada di masyarakat, ia berhadapan dengan persoalan-persoalan kebangsaan yang membutuhkan tanggapan dan kontribusinya. Kader-kader Angkatan Muda mesti dapat terus aktif di ruang publik. Mereka dapat terus berkontribusi untuk menggarami dan menerangi ruang publik. Kita juga butuh hermeneutika baru. Bukan saja melihat ke dalam tetapi juga melihat ke kiri dan ke kanan, kepada konteks perubahan sosial, turbulensi peradaban, dan masyarat digital dan sebagainya. Dengan peran-peran publik itu AMGPM memiliki posisi dinamis dan setara dengan OKP lainnya kemudian sama-sama bersinergi dan berkontribusi untuk menyehatkan ruang publik.

Loading...

TM: Bolehkah diberikan contoh aktual terkait hal ini?

JR: Katakanlah polemik seputar UU Cipta Kerja yang telah diputuskan kemarin. Apakah terhadap hal ini teman-teman AMGPM turut bersuara dan menyatakan sikapnya? Ini persoalan publik, persoalan kebangsaan. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Katakanlah masalah pengangguran yang makin tinggi di kalangan pemuda, apa proposal Angkatan Muda untuk mengatasi masalah tersebut? Dibutuhkan terobosan dan inovasi pemuda dalam menyikapi persoalan pengangguran itu. Ini hanya salah satu contoh saja, sebab kita juga sedang menghadapi kecenderungan makin menguatkan politisasi identitas agama, problem krisis lingkungan, problem pandemik yang berkaitan dengan isu-isu etik moral, dan sebagainya? Dalam kaitan ini saya perlu adanya reformulasi dan transformasi sosial. AMGPM tidak hanya mengurus soal-soal ritual dan serimonial organisasi semata. Ia mesti mengambil posisi dan memiliki bargaining politik yang jelas. Tentu ini bukan berarti AMGPM terjun ke politik praktis, tetapi gagasan dan sikap politiknya mesti jelas. Tujuannya demi mewujudkan kemaslahatan atau kesejahteraan bersama.

TM: Selain soal-soal lokal dan nasional, bagaimana generasi muda masa kini menyikapi berbagai perubahan di aras global?

JR: Saya sepakat dengan pandangan Pendeta Ely Maspaitella, mantan Ketum PB AMGPM saat kajian tema sub tema Kongres kemarin. Ketika saya melontarkan gagasan pentingnya mengelola ruang publik, ia menyatakan bahwa bagaimana kita bicara tentang ruang publik dan globalisasi jika cara pikir kita masih local minded. Ini tentu membutuhkan transformasi pemikiran. Selain itu, AMGPM menjadi menjadi organisasi nasional, atau memiliki daya pengaruh nasional. Ia mesti dapat mengartikukasi dan mengagregasi berbagai tema-tema aktual dan fundamental bangsa ini. Saya rasa spektrum jelajah AMGPM perlu terus diperluas ke ruang-ruang etik dan dampaknya mesti benar-benar riil. Kader-kader angkatan muda kiranya dapat tampil di forum-forum publik dan oikumene baik pada aras nasional, Asia, bahkan dunia. Stock kader angkatan muda mesti selalu siap.

TM: Bicara tentang kader dan tentu salah satu agenda Kongres AMGPM adalah memilih pemimpin yang baru, figur siapa yang anda usulkan?

JR: Tentu tidak etis saya menyampaikan hal itu di ruang ini. Yang pasti saya mengapresiasi semua potensi kader yang ada. Nanti kawan-kawan yang akan menentukan pilihan. Saya yakin kawan-kawan akan memilih figur yang dapat membawa angkatan muda makin maju, makin memberi dampak bukan saja gereja tapi juga bagi publik. Sebab motto AMGPM belum berubah khan? Mottonya memberi imperatif untuk menjadi garam dan terang bagi dunia. Di sini kita juga senantiasa terbuka dibarui oleh Roh Kudus. Kita perlu menjadi terang bagi dunia, bagi publik.

Demikian wawancara kontributor Teramaluku.com bersama Pdt Dr John Ruhulessin jelang Kongres Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM), salah satu organisasi kepemudaan di Maluku dan Maluku Utara. Selamat berkongres. (RR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *