Wicara Pentingnya Pendekatan Kebudayaan Atasi Covid 19 di Maluku

by
Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku menggelar wicara budaya yang disiarkan secara virtual di mini studio BPNB Maluku, Senin (24/8/2020). FOTO : ISTIMEWA

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku menggelar wicara budaya yang disiarkan secara virtual di mini studio BPNB Maluku di Ambon (24/8/2020).

Wicara budaya dengan narasumber Drs Rusli Manorek, Ketua BPNB Maluku, Dr Rona Da Costa, dosen linguistik Universitas Pattimura Ambon dan Pendeta Rudy Rahabeat, kandidat doktor antropologi Universitas Indonesia.

Rusli dalam kesempata wicara itu menyampaikan pentingnya nilai-nilai budaya digunakan untuk mengatasi pandemi kovid yang melanda dunia saat ini, termasuk di Maluku. Menurutnya Maluku memiliki berbagai khasanah tradisi dan budaya luhur yang dapat diaktifkan untuk bersama-sama pemerintah memerangi virus yang hingga kini belum ada vaksinya itu.

“Salah satu budaya Maluku antara lain ritual cuci negeri. Ini merupakan tradisi yang mengandung nilai budaya hidup bersih dan menjaga kelestarian lingkungan. Relevan dengan cara mengatasi kovid adalah pentingnya pola hidup sehat dan bersih,” ungkap pria asal Minahasa ini.

Pada sisi lain, Dr Rona Da Kosta yang merupakan alumni Departemen Sastra dengan kekhususan lingustik ini menekankan penting komunikasi yang tepat dalam menyikapi pandemi Covid-19. “Bahasa bukan soal komunikasi melainkan juga soal penciptaan. Orang dapat menciptakan nilai-nilai baik melalui bahasa dan komunikasi yang baik” ungkap dosen FKIP Unpatti ini. Ia juga menekankan pentingnya kreatifitas dari semua pihak, termasuk seniman dan budayawan untuk dapat melahirkan karya-karya kreatif yang berkontribusi untuk membuat ketenangan dan keteduhan dalam masyarakat.

Loading...

Narasumber lainnya, yakni Pendeta Rudy Rahabeat mencermati masih kuatnya dan dominan pendekatan medis dan minimnya pendekatan budaya dalam mengatasi pandemik ini. “Pendekatan medis memang penting, tapi itu tidak cukup. Kita juga butuh pendekatan yang lebih holistik, termasuk pendekatan budaya,” ungkap pendeta Gereja Protestan Maluku ini.

Ia selanjutnya menyarankan perlunya mengaktivasi berbagai pranata dan praktek-praktik budaya seperti, Kalesang diri dan lingkungan, budaya berbagi dalam spirit ale rasa beta rasa di Ambon-Maluku Tengah, Ain ni ain di Kei, Kalwedo di MBD, Duan-Lolat di Kepulauan Tanimbar, Kai-Wait di Buru, Jargaria di Kepulauan Aru, Sosolot di Seram Bagian Timur, dan berbagai kearifan lokal yang ada di seluruh kepulauan Maluku. Tak lupa ia menitipkan sebuah pantun di akhir acara yakni “Beli sangkola di Batu Merah, bawa akan ke Kudamati. Biar berada di zona merah tapi semangat tak boleh mati”.

Acara yang dimoderatori Falentino Latupapua, MA, seniman yang juga dosen FKIP Unpatti Ambon ini, juga diisi sajian musik oleh seniman muda Maluku, diantaranya Bong Lekahena dan Monika Noya. Selain merupakan bagian dari program dari BPNB Maluku tetapi acara ini sekaligus dimaknai sebagai bagian dari syukur perayaan HUT ke-75 kemerdekaan Republik Indonesia.

“Indonesia harus maju dan bersatu untuk atasi kovid 19. Pemerintah dan masyarakat saling bersinergi atasi pandemi ini dalam semangat Bhineka Tinggal Ika” pungkas Drs Rusli Manorek di akhir kegiatan (Rudy Rahabeat, Kontributor Terasmaluku.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *