Wisuda UKIM Dan Spirit Reformasi Oleh : Rudy Rahabeat, alumni UKIM

by

HARI ini, Sabtu 18 Mei 2019 Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon mewisuda 257 mahasiswa diploma, sarjana dan pasca sarjana. Sebuah khabar baik sekaligus tantangan, bagi para wisudawan untuk bersaing di dunia kerja. Uniknya, Gubernur Maluku, Irjen Pol (Purn.) Drs Murad Ismail hadir memberi sambutan bersama Wakil Gubernur, Drs Barnabas Orno, yang juga alumni FISIP UKIM, sebuah peristiwa fenomenal dan historik.

PENDIDIKAN INKLUSIF

UKIM berdiri tahun 1985 dengan rektor pertama, Dr A.N Radjawane. UKIM adalah pengembangan dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) Gereja Prostestan Maluku yang mengakar jauh pada sejarah pendidikan STOVIL (School Tot Opleiding van Inlands Leraars), sekolah guru pribumi yang didirikan di Ambon tahun 1885. Walau berakar pada sejarah kolonialisme, sejarah metamorphosis menjadi UKIM adalah sebuah proses kebangsaan.

Contoh semantiknya adalah pemilihan nama “Indonesia Maluku” sebagai wujud komitmen kebangsaan itu. Lebih daripada itu isi UKIM bukan hanya mahasiswa teologi, melaikan mahasiswa ekonomi, ilmu sosial dan politik, teknik sipil, dan kesehatan. Yang disebutkan terakhir (fakultas Kesehatan) merupakan fakultas favorit dengan jumlah mahasiswa terbanyak, yang berasal dari beragam latar belakang, termasuk latar belakang agama.

UKIM yang menggunakan moto “Kampus Orang Basudara” merupakan penanda komitmen UKIM untuk terus menjadi kampus yang inklusif, berakar pada nilai-nilai kearifan lokal, keagamaan dan nilai-nilai global. Frasa “Orang Basudara” merupakan penanda pengakuan terhadap pentingnya solidaritas dan persaudaraan melintasi atas genealogi, agama, suku, dan sebagainya. Paling kurang, itu cita-cita ideal yang tersirat dibalik frasa tersebut. Hal ini penting, guna menegaskan posisi ideologis UKIM dalam diskursus kebangsaan, tanpa kehilangan identitas lokalnya. Sekali lagi “Indonesia Maluku”.

UKIM sebagaimana lembaga pendidikan lainnya di Maluku terpanggil untuk terus mengoptimlkan tri darma panggilannya yakni pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Hal ini makin urgen di era global yang sangat kompetitif. Penyiapan mahasiswa dan sarjana yan benar-benar kompeten dalam bidangnya serta memiliki karakter yang kuat merupakan tantangan sekaligus undangan bagi UKIM dan lembaga pendidikan manapun.

Olehnya, upaya-upaya terobosan dan inovasi menjadi penting. Peningkatan kualitas para dosen, sarana prasarana penunjang serta iklim studi yang demokratis tak terelakan. Semua ini membutuhkan komitmen dan sinergisitas, termasuk dengan negara dan pemerintah, seperti nampak pada kehadiran Gubenur dan Wakil Gubernur Maluku pada wisuda UKIM hari ini.

21 TAHUN REFORMASI

Salah satu catatan sejarah yang jangan sampai dilupakan bahwa UKIM yang dimotori oleh para mahasiswa tahun 1998, berkontribusi signifikan dalam Reformasi kebangsaan. Melalui gerakan mahasiswa kala itu yang antara lain dipimpin oleh Daniel Wattimenela, dkk UKIM turun ke jalan, mengusung “peti mati” sebagai tanda protes terhadap rezim Orde Baru saat itu.

Sebuah pilihan mengusung “peti mati” merupakan hal yang unik, dan mungkin baru pernah ada dalam sejarah demonstrasi mahasiswa. Pesan utama dari setting ini adalah bahwa mahasiswa merupakan lokomotif perubahan dan transformasi bangsa. Demikian pula ketika ia telah menjadi sarjana maka ia merupakan aktor perubahan di tempat dimana ia mengabdi dan melayani. Daya kritis, keberanian dan kreatifas ini sangat dibutuhkan hari-hari ini.

Demikian pula 21 tahun reformasi bangsa masih menyisahkan persoalan serius bagi para sarjana yang berhadapan fakta pengangguran yang makin menggunung. Olehnya pada satu pihak kita bersyukur atas tiap momen wisuda, namun pada pihak lain kita juga nyaris pesimis terhadal sulitnya lapangan kerja serta kesiapan para wisudawan untuk menciptakan lapangan kerja baru. Olehnya tema wisuda UKIM “Datang Belajar, Pergi Mengabdi” menjadi stimulasi bagi para wisudawan untuk bisa menaklukan tantangan kompetisi memasuki lapangan kerja.

Era digital, revolusi 0.4 dan disrupsi menjadi arena pergulatan para sarjana untuk menunjukan kemampuan menaklukan tantangan dan mengisi peluang. Ekologi dan atmosfir lapangan kerja makin berubah, berbasis digital. Olehnya, para sarjana memang harus melek media dan trampil menggunakan peluang era digital ini secara optimal. Para sarjana mesti bisa merintis usaha-usaha baru yang relevan dengan konteks saat ini. Mentalitas “jadi PNS” sudah tidak relevan lagi. Justru, diperlukan keberanian untuk melampaui mentalitas itu dan melakukan “lompatan paradigma” yang membuka sebuah horizon sejarah baru. Gambaran ini memang agak suram, tapi harapan jangan sampai padam.

Semoga melalui momen wisuda saat ini, makin memicu dan memacu UKIM dengan rektornya saat ini, Pdt Dr G.J Damamain, dan juga dunia perguruan tinggi di Maluku untuk terus maju dan inovatif, demikian pula para lulusannya siap mengabdi dengan prima di mana saja. Satu hal terakhir, UKIM telah dan terus berkontribusi bagi daerah dan bangsa, di antaranya melalui alumninya salah satu alumninya, Drs Barnabas Nataniel Orno, yang kini menjadi Wakil Gubernur Maluku, yang hadir pada upacara wisuda berasa istimewa ini. Selamat Wisuda kawan-kawan semua. Maju terus almamater tercinta. (RR)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *