Wow, Ada Kursi Bahan Ecobrick Bikinan Anak Maluku Dari 3.000 Sampah

Wow, Ada Kursi Bahan Ecobrick Bikinan Anak Maluku Dari 3.000 Sampah

SHARE
George Manuhua membuat kursi dari ecobrick berbahan sampah plastik. Satu kursi menggunakan lebih dari 3.000 lembar sampah plastik yang dipungut di kali dan sekitar rumah (19/1). FOTO: Priska Birahy

 

TERASMALUKU.COM –Apa jadinya jika kita duduk di atas sampah. Bukan satu atau dua, melainkan ribuan lembar sampah plastik. Tapi tunggu dulu, jangan keburu berasumsi kotor dan bau.

Lembaran sampah plastik itu tidak lantas digunakan begitu saja. Di Tangan George Manuhua, sampah yang tersangkut di kali samping rumah dijadikan bahan pembuatan ecobrick. Nah dari itu, barulah disusun menjadi meja dan kursi siap pakai.

Di rumahnya di Negeri Hative Besar Kecamatan Teluk Ambon, terdapat kali yang langsung bermura ke laut di Teluk Dalam Ambon. Di kali itu para ibu rumah tangga mencuci pakaian. Plastik bekas bungkus deterjen dan sabun dialirkan melalui kali.

Ecobrick atau batako berbahan sampah plastik. Salah satu cara sederhana selamatkan laut dari sampah plastik

“Beta ada duduk dengan adik lalu liat sampah lewat di kali pas ada nonton video orang biking ecobrick. Beta pikir bagaiman kalau katong bikin sesuatu,” kata pria yang lekat disapa Jo itu.

Pada Maret 2018, Jo dan adiknya mulai membuat ecobrick. Sampahnya, sudah jelas dari hasil mulung di kali. Dia juga mengerahkan bala bantuan dari anak-anak di sekitar rumahnya. Mereka, mencari dan menyetor sampah plastik ke Jo. Sampah-sampah itulah modal utama Jo membuat ecobrick dan ragam mebel seperti yang ada di rumahnya.

Saat terasmaluku.com sambang ke sana, halaman rumahnya ramai. Ada belasan anak muda yang tengah piknik sampah. Mereka menggelar tikar, duduk lesehan sambil ada yang memilah sampah plastik. Sebagian lagi memasukannya ke dalam botol bekas kemasan air minum ukruan 1,5 liter.

“Plastik ini semua kasih masuk ke dalam botol lalu tekan sampai padat,” sebut Jo yang menerangkan kepada mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon Sabtu siang (19/1). Mereka praktik membuat ecobrick langsung bersama Jo.

Mahasiswa IAKN Ambon sedang parktik memasukan ratusan lembar plastik ke dalam botol

Pembuatannya mudah. Sampah terlebih dulu dibersihkan lalu digunting agar mudah masuk ke botol. Setelah itu masukan dengan bantuan tongkat kayu. Nah, proses ini yang terbilang cukup rumit. Kita harus memastikan tak ada celah di dalam botol. Tak heran dalam satu botol, Jo habiskan 200 hingga 300 lembar sampah plastik.

Beberapa anak ada yang sampai kesakitan lantaran jari mereka kebas menusuk-nusukkan plastik hingga padat. Maklum ini kali pertamanya mereka membuat ecobrick. Dalam setengah hari, satu anak hanya mampu hasilkan satu ecobrick.

Jo dibantu seorang dosen menyatukan ecobrick bikinan mahasiswa IAKN itu menjadi kursi. “Yang beta pelajari ada dua tipe kursi, triangular dan heksagonal. Kalo su jadi lalu rekatkan deng lem kaca,” jelas pria yang aktif dalam Youth Interfaith itu. Satu kursi bentuk heksagonal memakai 12 ecobrick.

Satu ecobrick terbuat dari 300 lembar sampah plastik. Jadi sama saja, kita duduk diatas tumpukan 3.600 lembar sampah plastik. Wow, angka yang fantastis. Bayangkan jika ribuan sampah itu terlepas ke laut.

Sore itu, ada empat buah tempat duduk bahan ecobrick. Tiga bikinan Jo dan satu lagi bikinan mahasiswa. Artinya mereka sudah membuat langkah kecil menyelamatkan laut dari 14.400 lembar sampah plastik- plastik deterjen, kopi, sabun, bumbu masak, kantong dll.

Kursi-kursi berbahan ecobrick yang ramah lingkungan

Pembuatan ecobrick ini bukan yang kali pertama dan satu-satunya. Di daerah yang lebih melek soal lingkungan, masyarakat menggunakan ecobrick sebagai bahan bangunan hingga penyangga talud. Dan itu terbukti kuat. Di Ambon beberapa pegiat dan kominitas pecinta lingkungan juga sudah ada yang membuat batako plastik ini.

Namun memang pamornya tidak seperti tas atau asesoris berbahan sampah plastik yang bernilai ekonomis. “Kalau nilai ekonomis seng ada. Tapi siapaun bisa bikin ini dan pelan-pelan katong jaga lingkungan dari sampah,” kata Jo yang kini tengah menjalin kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Ambon terkait sampah.

Sebelum menutup sesi pelatihan, Jo mengajak wartawan ke kali dekat rumahnya. Menurut dia kondisi kali sudah jauh lebih bersih dari sebelumnya. Para ibu dan warga yang mencuci juga merasa dampaknya. Kali makin bersih dari sampah plastik. Anak-anak juga giat memungut sampah untuk disetor ke Beta Sampah- bank sampah milik Jo.

Hal positif itulah yang ingin ditularkan ke anak muda. Langkah kecil yang konsisten mampu hadirkan perubahan di lingkungan. (PRISKA BIRAHY)

 

loading...