Wow, Lebah Raksasa Belum Punah, Lokasinya Di Maluku Utara

by
Lebah raksasa sepanjang sekitar 4 sentimeter atau seukuran ibu jari tangan orang dewasa yang awalnya dinyatakan punah namun ditemukan kembali di Halamahera Maluku Utara 25 Januari 2019. FOTO: istimewa

TERASMALUKU.COM-Lebah terbesar di dunia ada di Maluku Utara. Pada 1981 lebah bernama latin Megachile pluto resmi dinyatakan punah oleh ahli dan peneliti. Namun pada Januari 2019 empat orang warga negara asing (WNA) datang ke Maluku Utara dan mengejutkan dunia dengan kabar, lebah terbesar itu masih hidup di alam. BKSDA, LIPI, peneliti lebah dan pihak terkait langsung mengambil langkah cepat membahas rencana perlindungan satwa langka itu pada Jumat (7/3/2019) di Bogor, Jawa Barat.

Kabar yang amat menggemparkan mata dunia itu datang sebulan lalu. Mereka terbang langsung dari negara asal ke Pulau Bacan Maluku Utara. Di pulau yang terkenal dengan hasil gemstone indah – batu bacan, empat orang tadi menemukan lebah sebesar jempol tangan atau sekitar 4 sentimeter di kebun warga. Itu merupakan lebah terbesar sepanjang sejarah yang pernah ada.

Mereka adalah Clate Bolt, forografer alam liar dan Eli Wyman, entomologis asal Amerika serta Simon Robson, seorang profesor dan Glen Chilton penulis asal Australia. Keempatnya datang untuk berwisata melihat keragaman alam di Maluku utara sejak 20 Januari hingga 1 Februari.

Pihak BKSDA Maluku kepada terasmaluku.com memberikan rincian kedatangan serta hasil temuan empat WNA yang kini telah banyak dimuat pada lama media daring di Amerika. “Sebelumnya memang ada hasil temuan kalau sudah punah. Kemungkinan besar mereka baca-baca lagi lalu datang untuk pastikan apakah betul punah,” terangnya Kamis siang  (14/3/2019). Pada berita di sejumlah media daring luar negeri, lebah tersebut ditemukan di dalam sarangnya yang menempel pada pohon nangka.

Jejak penemuan spesimen itu sudah ada ratusan tahun lalu. Kali pertama ditemukan oleh naturalis asal Inggris Alfred Russel Wallace pada 1859. Penemuannya di hutan Maluku. Namun seiring berjalan waktu, para peniliti serangga mengumumkan jika jenis serangga itu telah punah. Memang, alam di Maluku begitu pekat dan kaya akan keanekaragaman flora dan fauna. Hutan tropis itu menjadi rumah besar bagi ribuan jenis serangga, termasuk serangga yang masuk IUCA (International Union for Conservation of Nature’s) red-List pada 2014.

Pemandu lokal, Iwan Maujud yang kali pertama menemukan sarang lebah secara tidak sengaja di pohon nangka

“Ini yang unik dari Maluku. Karena itu setelah penemuan tadi kami lanjutkan ambil langkah upaya perlindungan,” lanjut Amin. Berdasar rincian kronologis BKSDA, empat WNA itu menemukan lebah raksasa pada 25 Februari secara tidak sengaja di Desa Bobaneigo Pasir Putih Kabupaten Halmahera Utara.

Satu dari empat orang itu lapar, Iswan Maujud – pemandu lokal, mengambil nangka dan menemukan sarang lebah. Setelah dicek, ternyata memang itulah serangga yang selama ini dicari. Para WNA itu sempat meminta izin dan melakukan presentasi terkait aktifitas di Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) Halmahera.

“Ini kabar baik buat kita di Maluku. Tapi harus ada langkah bijak perlindungan, sebab menurut informasi harga lebah di pasar gelap sampai ratusan juta,” imbuh dia. Kekhawatiran itu tentu bukan tanpa alasan. Para peniliti serangga di Indonesia mengetahui adanya pasar gelap yang menjual serangga-serangga langka dan unik dengan harga fantastis.

Serang itu untuk jadi koleksi sejumlah museum dunia. Usai rapat bersama di Bogor dengan tim dari LIPI dan beberapa pihak terkait, mereka berharap agar ada skema perlindungan. Namun terlebih dahulu diadakan pengumpulan data yang komprehensif tentang Megachile pluto.

Pasalnya ada rentang waktu yang cukup lama sejak serangga ini dinyatakan punah hingga ditemukan kembali yaitu 38 tahun. “Yang pasti ada tiga fokus, yaitu perlindungan lebahnya, rumah rayap dan sumber makanan,” ulas Amin. Perlindungan secara menyeluruh baik habitat juga sumber makanan akan membantu kelangsungan hidup serangga langka ini agar tetap lestari di hutan Maluku. (PRISKA BIRAHY)

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *