Wow, Relawan Perpustakaan Desa di Ambon Jadi Pembicara Buat Pustakawan Dari 16...

Wow, Relawan Perpustakaan Desa di Ambon Jadi Pembicara Buat Pustakawan Dari 16 Negara Afrika

SHARE
Arita mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Kota Ambon saat HUT Kota Ambon 7 September 2018. FOTO. DOK.PRIBADI

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Dihadapan 16 pegiat perpustakaan asal Benua Afrika, Arita Muhlisa penuh semangat membagi kisahnya sebagai relawan perpustakaan desa di Ambon. Pesertanya merupakan pegiat dari 19 negara berbeda. Hanya dia, perempuan asal Indonesia yang menjadi satu satunya pembicara mewakili perpustakaan desa (Perpusdes).

Desa Batu Merah atau Negeri Hatukau, tempat Arita memulai langkah kecil dari sebuah pojok sederhana di ruang serba guna Kantor Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau Kota Ambon, Maluku. Statusnya relawan. Bekerja sepenuh tenaga tanpa dibayar. Di tempatnya bekerja, disediakan pojok sebagai perpustakaan.

Arika bersama penggiat perpustakaan dari Benua Afrika

Tempat sederhana, buku seadanya tak ada yang wah. Sejak Perpusdes Batu Merah bangkit dari tidur panjang sejak 2011, Arita cukup kerepotan. Tugas dia ibarat membangun rumah. Memulai segala sesuatu dari awal. Ibu dua anak ini tak punya latar belakang Pustakawan. Penataan kantor inventaris dan memprogram Perpus dilakukan otodidak.

BACA JUGA : Perpusdes Hatukau Batu Merah Enam Besar Terbaik Nasional, Wakili Indonesia Timur

Namun justru itu yang makin membuatnya berapi-api. “Beta itu suka kerja begini. Sosial bantu-bantu. Jadi coba bikin sesuatu yang berguna buat warga,” kenang Arita saat ditemui Terasmaluku.com, Kamis (13/8/2018). Lantaran sepi pengunjung, berbagia kegiatan dilancarkan. Termasuk sebuah terobosan program pendataan hampir 500 UMKM di Perpusdes yang mengantarnya ke Jakarta sebagai pembicara pada forum internasional.

Young African Library Inovator Innitiative bekerja sama dengan The International federation of Library Association (IFLA) sebuah forum besar yang baru saja Yang dihelat di Jogjakarta pada 18-22 Agustus. Terdapat 19 negara dari 4 benua hadir di situ. Peserta dari Benua Afrika adalah yang terbanyak jadi peserta. Ada 16 orang perwakilan dari 16 negara di benua hitam itu. Arita diberi kepercayaan untuk membagi kisah dan materi terkait menjalankan perpustakaan desa. “Yang paling beda dan bikin dong heran karena beta itu pure relawan, tidak dibayar. Tapi perpustakaan jalan. Dong di sana ada gajinya,” akunya bangga.

Minat baca anak di Afrika 11:12 dengan di Ambon. Anak anak lebih memilih bekerja atau melakukan hal lain untuk mendapatkan uang ketimbang membaca di perpustakaan. Sumber daya manusia pun minim. Mereka yang lulusan strata banyak melanjutkan sekolah atau bekerja di kota. Perpustakaan terbengkalai, petugas kalangkabut. Sudah tak ada pengunjung, kurang tenaga pula.

Sementara 8.825 KM dari situ, di kota kecil timur Indonesia sebuah Perpusdes Hatukau Batu Merah bangkit kembali jadi jendela dunia di tangan relawan muda tanpa bayaran. Itu menjadi pengalaman yang membikin takjub perwakilan negara. Perjuangan seorang pegiat lingkungan itu bukan tanpa halangan. Saat membangun Perpusdes bersama, dibutuhkan dana yang tak sedikit.

“Sementara dong di sana itu dapat bantuan langsung dari semacam kementerian begitu. Buat beta bantuan itu seng harus bentuk uang. Dan buktinya berhasil,” jelas penulis di Kompasiana itu. Sebagai relawan, dibutuhkan kerja cerdas. Saat awal merintis tak ada bantuan dari pemerintah. Tidak pula alokasi anggaran khusus untuk membangun Perpusdes.

Hal itu tak lantas membentang jarak dan apatis akan pemerintah. Berbagai kerjasama dilakukan. Seperti program pinjaman 100 judul buka tiap tiga bulan. Usai dibaca, buku dikembalikan lalu meminjam judul yang lain. Mereka juga mendapat satu unit komputer yang dipakai untuk mengajar IT dan server dari pihak BPJS.

Tak putus di situ, kisah inspiratif replikasi Perpus Seru itu sampai tercium oleh yayasan terbesar dan berpengaruh di dunia. Bill AND Miranda Gates Foundation melalui Jeremy Forman, datang ke Perpusdes Hatukau beberapa bulan lalu. Dia menghadiahkan tiga unit komputer bagi Perpus. Hal itu yang tampaknya tidak dimiliki oleh para pegiat Perpus di Afrika. Semangat dan kerja tanpa upah bukan halangan melainkan tantangan.

Di hadapan para perwakilan berbagai negara dirinya membagikan cerita dan ilmu otodidak membesarkan Perpus desa. “Mesir itu yang sukses. Perpustakaan mereka tidak pernah sepi dan berkembang sekali,” celetuknya memuji Perpus di Mesir. Para pegiat perpustakaan dan pemerintah berkolaboras membangun Perpus.

Menurut dia, Perpus di sana bukan saja jadi jendela dunia tapi pintu bagi para pencari kerja. Harapannya pertemuan itu punya pengaruh baik untuk Perpus di Afrika. Sementara pengalaman, koneksi dan jaringan melalui forum itu memuluskan jalan lahir bagi Perpusdes Hatukau. (PRISKA BIRAHY)

loading...