Zakat Sagu,Tradisi Negeri Tengah-Tengah Yang Masih Lestari

Zakat Sagu,Tradisi Negeri Tengah-Tengah Yang Masih Lestari

SHARE
Imam mendokan dan menimbang satu persatu kantong sagu bersama sejumlah uang sebelum dibagi. Prosesi ini berlangsung di rumah Soa Tuharea Pagalare Negeri Tengah-Tengah Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah atau sebelah timur Pulau Ambon, Selasa (12/6/2018). FOTO : BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Tiga hari sebelum Lebaran, umat muslim telah bersiap menyambut momen yang fitri ini. Warga mulai merapikan rumah, menyiapkan kue dan berbagai hal lain. Tak ketinggalan menyiapkan hantaran zakat yang yang bakal dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Menunaikan zakat adalah Rukun Islam Ketiga. Seperti yang dilakukan warga Negeri Tengah-Tengah Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah, sebelah timur Pulau Ambon.

Puluhan loyang sagu menunggu untuk ditimbang dan didoakan oleh imam

Satu persatu perempuan memasuki rumah Soa Tuharea Pagalare. Mereka datang tidak dengan tangan kosong. Masing-masing datang sambil keku sagu dalam loyang di kepala. Sedang di dalam rumah soa sudah berjajar sekitar 70 loyang yang diantar oleh tiap keluarga pada mata rumah Tuharea Pagalare sejak pagi-pagi buta. “Yang bawa ni hanya dari mata ruma Tuharea Pagalare. Katong yang masih pertahankan tradisi sampe sakarang,” ucap Abdul Gofar Tuharea, salah satu tokoh masyarakat negeri bernama asli Tengo-Tengo itu kepada Terasmaluku.com, Selasa (12/6/2018) siang.

Sambil menunggu Loyang-loyang sagu terakhir masuk rumah, Gofar menjelaskan terdapat lima mata rumah di Negeri Tengah-Tengah. Hanya mata rumah Tuharea Pagalare lah yang masih membawa amanat para tetua dulu hinggi kini. Di Maluku, sagu dulunya merupakan makanan pokok. Meski kini polah hidup warga berubah dan kian moderen. Sementara sagu menjadi cemilan saat pagi atau sore.

Usai kumandang Salat Dzuhur, pembagi zakat sagu pun dimulai. Warga mulai memadati rumah soa. Imam dan penjaga rumah soa telah siap memimpin proses pembagian zakat sagu. Sang imam, Raup Tuharea, naik ke atas tapalang. Seperangkat alat timbang, nyiru, kayu serta batu tua sebagai pemberat didoakan terlebih dulu. “Itu batu su dipake dari katong pung orang tatua lai buat timbang zakat sebelum dibagi,” kata Gofar.

Usai didoakan, alat penimbang zakat sagu itu lantas dilumuri dengan minyak sambil sesekali mulut sang imam komat kamit merapalkan doa memanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Satu persatu bungkusan sagu dari loyang ditimbang. Imam juga mengambil uang dari loyang lalu meletakan tangan di atas sagu lantas mendoakannya.

Dalam tradisi ini tiap rumah wajib memasukan sekotak kapur sirih pinang dan sejumlah uang berdasar kemampuan. Semua seserahan yang dibawa itu kemudian didoakan. Sambil menimbang zakat beduk masjid pun dibunyikan sebagai pertanda berlangsungnya pembagian zakat. Warga makin ramai berdatangan. Setelah didoakan, masih ada satu prosesi lagi. “Katong harus bagi sagu lai. Sagu perempuan dan laki laki,” sebut Gofur yang juga ketua pemuda negeri itu.

Gofur menjelaskan, tiap orang dalam keluarga wajib memberikan 12 keping sagu yang dikemas terpisah. Bungkusan sagu dari anak laki-laki atau bapak dan anak dibawah usia tiga tahun adalah yang akan dibagikan kepada warga di dalam negeri. Sedangkan sagu dari anak perempuan atau ibu dipisahkan untuk dibawa ke negeri sodara yaitu Negeri Kailolo Kecamatan Pulau Haruku, Maluku Tengah. Bagi orang Maluku khususnya warga Tengah-Tengah meyakini, laki-laki adalah penerus marga keluarga sehingga sagu dari laki-laki yang boleh dibagi di dalam negeri.

Tumpukan sagu laki laki yang bakal dibagi di dalam negeri

Proses ini terus dilakukan hingga seluruh loyang dan sagu habis dibagi. Rizal Tuharea, seorang warga di rumah soa mengaku, loyang sagu bisa penuh sesak hingga ke teras rumah saat warga banyak yang pulang kampung. “Proses ini bisa sampai magrib, pokoknya harus habis,” jelas Arif Tuharea penjaga rumah soa sebelum prosesi dimulai.

Nantinya tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran barulah sagu-sagu itu dibagi ke warga serta dibawa ke Negeri Kailolo untuk dibagikan. Tradisi zakat fitrah dengan sagu ini amat jarang dijumpai di Pulau Ambon. Negeri Tengah-Tengah atau Tengo-Tengo salah satu yang menjaga tradisi ini lestari hingga ke anak cucu nanti. Bagi mereka, sagu merupakan lambang kesuburan, kekayaan dan identitas. Memberi zakat sagu artinya mengingatkan kembali betapa kayanya negeri ini, dan sagu merupakan harta yang tak ternilai lagi. (BIR)

loading...